“Pesan – Pesan Kehidupan” dari Sojiwan

Duuh.. sudah hampir 1 tahun blog ini tidak “tersentuh”.. semoga teman-teman tidak bosan dengan “sajian-sajian” yang ada dalam blog ini… 🙂

Salah satu “kesibukan” saya selain bekerja adalah traveling alias berpetualang.. membuka wawasan, membuka cakrawala agar tidak menjadi “katak dalam tempurung”. Ada banyak cerita yang ingin saya bagi kepada teman-teman semua mengenai petualangan kami, baik yang ada di Indonesia maupun di mancanegara. Kebetulan, dalam waktu 1 tahun ini, kami berkesempatan mengunjungi beberapa negara, antara lain Nepal, India, Turki dan Rusia. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, saya dapat berbagi pengalaman-pengalaman kami yang unik, menarik dan fantastik, termasuk merasakan uniknya berlebaran di negeri orang. InsyaAllah….

Untuk kali ini, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang sebuah pelajaran berharga dari “petualangan” kami yang berada sangat dekat dengan tempat tinggal kami di Jogjakarta. Siapa belum pernah ke Jogja? Saya kira hampir semua teman-teman di sini, saya yakin sudah pernah bahkan mungkin pernah tinggal di Jogja. Ada begitu banyak tempat-tempat menarik di Jogja, yang saya kira, tidak kalah dengan tempat-tempat wisata di luar negeri. Andai saja, iya betul andai saja aset-aset ini dikelola dengan profesional, saya yakin akan banyak turis yang datang ke Indonesia, khususnya ke Jogja. Gunung api purba Nglanggeran tak kalah megah dengan Mount Avatar di Zhangjiajie di Hunan, China. Belum lagi keindahan pantai-pantai selatan di Gunung Kidul tak kalah cantik dengan Maya bay di Koh Phi Phi, Thailand. Bahkan keanggunan dan kecantikan Candi Prambanan dan candi Borobudur, sangat jauh bila dibandingkan dengan Angkor Wat yang sangat popular di kalangan turis-turis asing. Belum lagi pesona Kalibiru yang sangat cantik dengan perbukitan menoreh dan danau/waduk Sermo yang sangat rupawan… Jogja tidak hanya sekedar Malioboro yang sudah sangat “crowded”, atau Kraton yang sudah kehilangan “ruh”-nya. Jogja bukan pula sekedar kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sudah “kehilangan” jiwa kerakyatannya…

Selain Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang memang sudah sangat mendunia, ternyata di Jogja dan daerah-daerah sekitarnya juga “dipenuhi” candi-candi kecil yang ternyata jauuuh lebih indah dan menyimpan banyak cerita yang sangat menarik. Beberapa waktu yang lalu, selama 2 hari, saya bersama istri, di sela-sela kesibukan.. mencoba menelusuri satu-demi satu candi-candi kecil yang ada di sekitaran wilayah Prambanan (baik yang masuk wilayah Klaten – Jawa Tengah maupun Sleman – DIY). Ada banyak candi-candi kecil yang dibangun pada tahun 900-an Masehi pada masa wangsa Sanjaya berkuasa di Bumi Mataram Kuno. Candi-candi tersebut antara lain, Candi Ijo, Candi Banyunibo, Candi Barong yang ada di area kompleks petilasan Kraton Ratu Boko. Kemudian candi Kalasan dan Candi Sari yang ada di wilayah Kalasan. Petualangan kami berakhir di Candi Plaosan dan Candi Sojiwan di wilayah Prambanan, Klaten – Jawa Tengah. Ada begitu banyak cerita dan kisah-kisah yang menarik dari candi-candi tersebut.. Kisah yang sangat menggetarkan kalbu… cerita yang menggambarkan begitu agungnya nenek moyang kita pada masa itu. Bayangkan, 1.000 (baca : SERIBU) tahun lalu, nenek moyang kita sudah bisa membangun sebuah bangunan mahakarya yang begitu megah dan indah… Tidak bisa disangkal lagi, kita adalah sebuah bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya tinggi.. bangsa yang sangat terhormat di antara bangsa-bangsa lain di seluruh dunia…

Salah satu candi yang begitu menarik perhatian kami adalah Candi Sojiwan. Ada begitu banyak cerita menarik tentang candi ini.. Dan inilah kisah kami….

Pesan – Pesan Kehidupan dari Sojiwan

20150823_140931_Richtone(HDR)

Candi Sojiwan, Desa Kebondalem Kidul, Kec. Prambanan, Kab. Klaten – Jawa Tengah

Candi Sojiwan atau Candi Sajiwan adalah sebuah candi Budha yang terletak di desa Kebon Dalem Kidul, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini terletak kurang lebih dua kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan, dari gerbang Taman Wisata Candi Prambanan meyeberang jalan raya Solo-Yogyakarta masuk ke jalan kecil menuju ke arah selatan, menyeberang rel kereta api, lalu pada perempatan pertama berbelok ke kiri (timur) sejauh beberapa ratus meter hingga candi terlihat di sisi selatan (kanan jalan). Candi ini telah rampung dipugar pada tahun 2011. Candi Sojiwan dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi, kurang lebih pada kurun yang sama dengan Candi Plaosan di dekatnya.

Yang paling menarik dari candi ini, adalah adanya relief – relief yg berada pada lantai dasar candi. Sebanyak 20 relief “bercerita “tentang “kebijaksanaan kehidupan” dan “nilai-nilai hidup” yangg digambarkan dalam berbagai relief fabel binatang. Yang tergambar dalam relief-relief tersebut antara lain kura-kura dan garuda, kura-kura dan angsa, tikus dan ular, kera dan buaya, gajah dan kambing, serigala dan wanita serong, raja dan putri patih, kinnara yang berarti makhluk surgawi, manusia singa, serigala dan banteng, serta singa dan banteng. Relief-relief tersebut diperkirakan berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Dari 20 relief, saat ini tinggal 19 relief yang masih ada.

 

FABEL KERA DAN BUAYA

Relief

Relief “Kera dan Buaya”

Salah satu fabel yang cukup menarik adalah kisah seekor kera dan buaya. Alkisah ada sepasang buaya yang hidup di sebuah tepian sungai. Pada suatu hari, si buaya betina melihat seekor kera dan ingin memakan jantungnya. Maka untuk menangkapnya, yang jantan ingin menyiasatinya dengan menawarkannya menyeberangi sungai di punggungnya di mana ia dapat menemukan banyak buah-buahan yang sedap. Si kera menerima tawarannya. Pada tengah sungai si buaya mengaku bahwa ia telah menipu si kera. Lalu si kera untuk menyelamatkan dirinya, bersiasat. Ia mengatakan bahwa jantungnya telah digantungkan pada sebuah pohon. Kemudian ia bisa mengambilkannya kalau si buaya mengantarkannya ke tepi sungai…

Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa hidup ini kejam dan banyak “jebakan”, kita harus lebih cerdik agar bisa selamat dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tipu daya ini..

FABEL SERIGALA DAN ISTRI PETANI

Relief

Relief “Serigala dan Istri Petani”

Alkisah di sebuah desa, seorang petani tua namun kaya raya memiliki istri yang muda dan cantik. Istri petani itu merasa tidak bahagia dengan suaminya. Suatu saat ia bertemu dengan seorang penyamun muda yg selalu memuji-muji kecantikannya. Wanita tsb sangat senang pujian2 itu. Mereka kemudian berjalan bersama dan bermaksud menyeberang sungai. Muncullah watak jahat si penyamun muda untuk menguasai harta si wanita. Atas usul penyamun, barang-barang si wanita diseberangkan dahulu bersama si penyamun dan ia akan kembali untuk menjemput si wanita. Ternyata ia tak pernah kembali dan si wanita baru menyadari bahwa ia telah tertipu.

Pada saat itu datanglah seekor serigala membawa sepotong daging di moncongnya. Melihat ikan yang banyak di sungai, daging itu dilepaskan dan bermaksud menangkap ikan-ikan yg gemuk-gemuk itu. Sementara ia bersiap-siap daging miliknya pun disambar oleh seekor burung yang sejak tadi mengamatinya. Keributan itu membuat ikan-ikan itu pun pergi semua…

Pesan dari cerita ini adalah agar kita jangan serakah dan selalu mensyukuri apa pun yang kita punya..

BURUNG GARUDA DAN KURA – KURA

20150823_141240_Richtone(HDR)

Relief “Burung Garuda dan Kura-kura”

Alkisah adalah seekor kura-kura tua yang menjadi pemimpin sekelompok kura-kura. Ia sangat prihatin karena setiap hari anggota kelompoknya pasti ada yang dimangsa oleh Garuda. Maka ia berpikir-pikir mencari siasat. Lalu ia berdiskusi dengan kura-kura lainnya supaya lolos dari sang Garuda. Lalu si kura-kura tua memiliki sebuah siasat. Mereka bertaruhan dengan sang Garuda. Bercepat-cepatan terbang menyeberang laut. Kalau kalah, maka semua kura-kura tetap dimakan sang Garuda. Namun jika menang, mereka akan berhenti menjadi makanan sang Garuda. Para kura-kura ragu bagaimana bisa mengalahkan sang Garuda, bahkan bertaruhan akan menyeberang lautan.Maka sang kura-kura tua menjawab bahwa mereka tidak usah khawatir, ia punya siasat. Katanya: “Pasti akan kalahlah sang Garuda oleh kalian. Turutilah semua kataku. Berjajarlah satu sama lain di dalam laut. Isilah lautan dengan penuh sampai di pinggir olehmu. Kalau sang Garuda memanggil, menyahutlah dulu yang di depan sang Garuda, semuanya begitu satu-satu sampai di pinggir. Sapalah duluan, siapapun yang dijumpai olehnya.” Begitulah inti diskusi mereka diharapkan supaya tidak dimangsa lagi. Maka tersusunlah mereka di dalam lautan lalu datanglah sang Garuda meminta makanannya. Sahut si kura-kura tua, katanya: “Aduh wahai sang Raja Burung, nanti akan saya berikan makanan anda. Lawanlah kami dulu. Memang kami ingin bertaruhan dengan anda. Bercepat-cepatan menyeberang laut. Kalau kami kalah, ya anda dapat memakan kami. Tetapi jika anda kalah, berhentilah memangsa kami sampai dengan keturunan kami di masa depan!”

Begitulah kata si kura-kura, tertawalah sang Garuda, kemudian katanya: “Wahai kura-kura asal kalian patuhi omonganmu saja. Kalian berani menantangku bertaruhan? Kapankah kalian bisa menang? Pastilah kalah!” Begitu kata mereka berdua dan keduanya setuju. Segeralah kemudian melayang sang Garuda, sedangkan semua kura-kura sudah tersusun sebelumnya dari batas dan pinggir lautan. Sampai sudah sang Garuda di tengah laut dan memanggillah ia si kura-kura yang dengan segera menyahutinya. Masing-masing yang dijumpainya dari depan sama-sama mendahului teriakan sang Garuda: “Hah anda tertinggal wahai sang Garuda!” Begitulah kata semua kura-kura menjawab. Sang Garuda berkata: “Aduh cepat sekali kalian, sungguh lelah saya!” Kemudian ia melayang. Ia mempercepat penerbangannya. Baru saja kelihatan tepi lautan pantai utara olehnya. Terlihat si kura-kura sudah sampai dan bersantai-santai, katanya dengan tenang: “Aduh lama Tuan saya menunggu kedatangan anda. Saya capai dan lesu, terhenti melaju sampai kedatangan Tuan.” Sahut sang Garuda: “Aduh kalian sungguh kencang. Saya mengaku kalah.” Maka sang Garuda sungguh sudah berhenti memangsa kura-kura bahkan sampai sekarang juga.

Masih banyak lagi fabel kehidupan binatang yang menghiasi relief Candi Sojiwan yang ternyata masih relevan dengan kehidupan kita sekarang… Inilah “Pesan – pesan Kehidupan” dari sebuah desa sederhana di tepian Sungai Opak di perbatasan Jogjakarta dan Jawa Tengah…

Selamat berkunjung di Jogjakarta..

Iklan

1 thought on ““Pesan – Pesan Kehidupan” dari Sojiwan

  1. dr ninik setya

    pelajaran hidup yg hebat pak bambang..jgn bosen2 nulis artikel sbg salah satu bentuk menghargai nilai kehidupan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s