Kisah Perjalanan Industri Farmasi Dunia

Tulisan ini merupakan “kompilasi” dari tulisan – tulisan di laman facebook saya. Agar tidak hilang, saya coba untuk membuat satu halaman khusus. Semoga bermanfaat…

.

.

 

E. Merck KGaA : Kisah keluarga Merck Membangun “Kerajaan” Farmasi Dunia

 

e_merck

 

Tidak banyak industri farmasi di seluruh dunia ini yang sampai saat ini masih dimiliki oleh keluarga pendirinya. Salah satu di antara yang sedikit itu – yang paling fenomenal – adalah MERCK. Kerajaan bisnis keluarga ini pertama kali didirikan oleh Friedrich Jacob Merck pada tahun 1668 di sebuah kota kecil dekat Frankfurt, Darmstadt.
Friedrich Jacob Merck – seorang Apoteker lulusan Schweinfurt, Germany dan Viena, mulai membangun kerajaan bisnisnya dengan membeli sebuah apotek di kota Darmstadt, “Engel Apotheke” hampir 350 tahun yang lalu. Inilah tonggak sejarah lahirnya sebuah “kerajaan” bisnis farmasi yang saat ini ada di 70 negara di seluruh dunia dengan pendapatan lebih dari € 12 millar atau lebih dari 174 trilyun rupiah. Merck adalah merupakan SATU-SATUNYA industri farmasi dan kimia TERTUA di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Semuanya berawal dari sebuah Apotek sederhana di sebuah kota kecil, Darmstadt. Apotek ini masih ada sampai sekarang dan masih tetap dimiliki oleh keluarga Merck selama 6 generasi.. Woww..
Friedrich Jacob Merck meninggal dunia pada tahun 1678, tanpa meninggalkan keturunan. Pengelolaan Engel Apotheke diteruskan oleh keponakannya yang juga seorang Apoteker yaitu Georg Friedrich Merck. Pada tahun 1708, Georg Friedrich Merck mulai membuat sendiri obat-obat kimia sederhana yang sebelumnya hanya berasal dari tanaman atau binatang sesuai buku text saat itu yaitu “Materia Medica”. Georg Friedrich Merck meninggal pada tahun 1715. Engel Apotheke selanjutnya dikelola oleh Johan Franz Merck hingga tahun 1741 yang banyak memberikan kontribusi pada kemajuan bidang farmasi. Salah satu penemuan yang paling kontroversial pada masa itu adalah Arsenik yang ditemukan pada tahun 1720.
Pada tahun 1741 – 1782, pengelolaan Engel Apotheke dipegang oleh Johann Justus Merck, Apoteker generasi keempat dari keluarga Merck. Inilah periode tersulit dalam perjalanan bisnis keluarga Merck. Pada tahun 1758, Johann Justus Merck dan istrinya Anna Sophie meninggal dunia, sementara putra mereka, Johann Anton Merck baru berusia 10 tahun. Atas kebijaksanaan Raja Ludwig VII, Engel Apotheke masih bisa beroperasi dengan sistem perwalian negara. Pada tahun 1782, Johann Anton Merck lulus dan disumpah sebagai apoteker dari Universitas Strasbourg dan melanjutkan bisnis yang dibangun oleh eyang buyutnya..
Pada tahun 1816, Emanuel Merck meneruskan dinasti keluarga Merck. Pada saat itu, untuk pertama kalinya ditemukan bahan obat yang disintesis dari bahan alam yaitu Morphine oleh Friedrich Serturner. Dan Morphine buatan Merck diakui sebagai yang TERBAIK. Kualitas Morphine buatan Merck ini diakui oleh ilmuwan terkemuka saat itu, Karl Friedrich Mohr, Profesor Farmasi dari Berlin, penemu gugus kimia Mohr dan menulisnya di Prussian Pharmacopeia tahun 1849. Selain itu, beberapa alkaloid lain juga berhasil disintesis oleh E. Merck, antara lain Cocain pada tahun 1862. Emanuel Merck memberikan garansi kualitas produk2nya dalam sebuah tulisan tangan bahwa ia akan mengganti apapun kerugian yg dialami oleh konsumennya jika bahan kimia yg diproduksinya tidak murni. Surat garansi yang masih tersimpan rapi hingga saat ini di Museum Farmasi di Heidelberg castle.
Pada tahun 1872, untuk pertama kali E. Merck membangun sebuah pabrik bahan farmasi di pinggiran kota Darmstadt. Pabrik Farmasi pertama yang masih beroperasi hingga saat ini. Nama E. Merck selanjutnya digunakan sebagai nama perusahaan keluarga Merck hingga saat ini. Bersama ketiga putranya, Wilhelm Merck, Georg Merck dan Carl Merck. Mulailah sayap kerjaan bisnis keluarga Merck mengembang ke segala penjuru dunia. Tahun 1840 mereka membuka kantor di London, Inggris. Mereka juga mempunyai gudang persediaan di Budapest, Paris, Brussels, Vienna dan Stockholm. Tahun 1879 mereka membuka kantor di Sydney, Australia. Selanjutnya, pada tahun 1898 mereka membuka kantor perwakilan di Moskow, Rusia.
Pada tahun 1891, Georg Merck dipercaya oleh ayahnya untuk membuka kantor E. Merck di New York, Amerika Serikat. Setelah Perang Dunia I, Merck di Amerika Serikat ini kemudian diambil alih dan dinasionalisasi oleh Pemerintah Federal Amerika pada tahun 1917. Kantor E. Merck inilah cikal bakal dari Merck, Sharp & Dohme (MSD) dan berhak menggunakan nama “Merck” di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan di luar kawasan itu, nama “Merck” tetap menjadi milik keluarga Merck.
Perang Dunia kedua, meluluh-lantakkan semua bangunan pabrik mereka di Darmstadt. Hampir 1.000 pekerja mereka menjadi korban perang. Pada bulan Maret 1945, tentara sekutu menduduki pabrik ini. Mesin – mesin produksi yang menghasilkan puluhan jenis obat2an hancur berantakan. Tahun2 berikutnya adalah masa-masa sulit bagi keluarga ini. Membangun kembali perusahaan mereka yang porak -poranda. Dengan susah payah mereka membangun kembali “kerajaan” bisnis mereka. Perlahan namun pasti, satu persatu mereka mulai membuka kembali kantor2 mereka di segala penjuru dunia. Program Marshall Plan, membantu keluarga ini bangkit kembali dari keterpurukan akibat perang. Pada tahun 1947, mereka sudah mulai mengexport obat2an ke Spanyol dan negara2 Amerika Latin. Bahkan pada tahun 1949, untuk pertama kali mereka berhasil membuat obat jantung yang pertama, Digitoxin.
Tahun 2006, perusahaan ini mengakuisisi SERONO, selanjutnya tahun 2010 mengambil alih perusahaan diagnostik terkemuka Millipore corp. Tahun 2013, mengakuisisi AZ Electronic Material dan tahun 2014 Merck mengambil alih Sigma-Aldrich yang menjadikan Merck salah satu perusahaa raksasa farmasi, kimia dan diagnostik dunia..
Hingga saat ini, keluarga Merck masih memegang 70% saham perusahaan, yang merupakan SATU-SATUNYA perusahaan Farmasi dan Kimia TERTUA yang masih bertahan dan beroperasi hingga saat ini..
Sungguh sebuah kisah bisnis yang sangat luar biasa.. Sebuah kerajaan bisnis yang dimulai dari sebuah Apotek di sebuah kota kecil, Darmstadt.
Sungguh sangat beruntung saya pernah menjadi bagian dari perusahaan ini. Meski hanya sekejab namun filosofi perusahaan ini sangat mempengaruhi perjalanan karier saya..
Thanks to Merck.. thanks for everything..
 .
.
Pfizer & Co. : Kisah Duo Imigran membangun Imperium Bisnis dari Uang Pinjaman.
  pfizer
Berbekal uang pinjaman dari sang ayah sebesar $2.500, seorang anak muda berusia 20 tahun-an yang berasal dari kota Ludwigsburg, sebuah kota kecil dekat Stuttgart – Germany, nekat mengarungi Samudra Atlantik menyongsong “dunia baru”, Amerika Serikat. Charles Pfizer nama si pemuda nekat tersebut. Berbekal uang pinjaman dari ayahnya dan keahliannya di bidang farmasi dan kimia, pemuda yang terlahir dengan nama Karl Pfizer tersebut menyewa sebuah gedung di Harrison Avenue di kota New York pada tahun 1849. Bersama dengan saudara sepupunya, Charles F. Erhart, yang mempunyai keahlian membuat permen dan mencampur berbagai macam bahan kimia. Tahun 1849 itulah kedua bersaudara tersebut mulai menuliskan sejarah panjang sebuah kerajaan bisnis farmasi yang nantinya menjelma menjadi industri farmasi TERBESAR di seluruh dunia, Pfizer & Co.
Kisah sukses Pfizer diawali oleh Santonin sebuah produk Obat Cacing yang secara unik diracik oleh Charles Erhart dengan berbagai rasa yang unik dalam bentuk permen yang menarik. Obat ini mendapat sambutan yang luar biasa dari penduduk New York. Produk inilah yang menjadi cikal bakal dari ratusan bahkan ribuan produk yang dihasilkan bertahun – tahun kemudian..
Pfizer & Co. berkembang pesat tatkala terjadi perang saudara (civil war) di Amerika Serikat tahun 1861 – 1865. Obat2 penghilang rasa sakit (painkiller), pengawet, dan obat2 antiinfeksi sangat diperlukan pada masa itu. Pfizer & Co. berhasil mengembangkan produk asam tartat yang digunakan untuk laxative dan pendingin kulit serta krim tartat untuk deuretic dan bahan pembersih.
Pada tahun 1880, Pfizer & Co berhasil memproduksi Citric Acid (Asam Sitrat) menggunakan konsentrat lemon dan jeruk nipis. Segera mereka menjadi produsen utama asam sitrat di Amerika Serikat. Penemuan ini menjadikan Pfizer & Co makin berkembang pesat dan mulai memodernisasi pabrik mereka dan merekrut banyak pekerja. Sampai dengan tahun 1882 mereka suda membuka kantor cabang di Missisippi, Chicago, Illinois dan hampir di seluruh penjuru Amerika Serikat. Pada tahun 1906 penjualan mereka sudah mencapai $ 3,4 juta… Semuanya berawal dari uang pinjaman $2.500.. Woww..!!!
Pada tahun 1891, co-founder Charles Erhart meninggal dunia. Meninggalkan partnership senilai $250.000 kepada anaknya, William Erhart. Namun sesuai perjanjian, bahwa barang siapa yang meninggal terlebih dahulu maka ia berhak membeli dengan harga setengah dari nilai partnership tersebut. Akhirnya, Charles Pfizer membeli seluruh saham dari Erhart dan mengangkat William Erhart sebagai Vice President hingga meninggal dunia tahun 1940.
Pada tahun 1900, Pfizer berubah dari perusahaan keluarga menjadi perseroan dengan menerbitkan 20.000 senilai $100 perlembar saham.
Pada tahun 1906, Charles Pfizer meninggal dunia dalam usia 82 tahun. Emile Pfizer, putra bungsu Charles Pfizer diangkat sebagai President dan CEO hingga tahun 1941. Dia adalah anggota keluarga Pfizer terakhir yang terlibat dalam pengelolaan perusahaan.
Hingga tahun 1942, Pfizer & Co tetap menjadi perusahaan privat dan dimiliki sepenuhnya oleh keluarga Pfizer. Namun pada bulan Mei 1942, untuk pertama kalinya, mereka menjual 240.000 saham baru kepada publik. Mulailah era baru dalam perjalanan perusahaan ini. Keluarga Pfizer tidak lagi terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan sepenuhnya dijalankan oleh eksekutif yang diangkat oleh para pemegang saham.
Pada tahun 1944 Pfizer sukses membuat Penisillin dalam skala massal dan dinobatkan sebagai produsen penisilin terbesar di dunia. Tahun 1950 mereka berhasil menemukan Oxytetracycline sebuah antibiotik spektrum luas pertama saat itu. Mulai tahun 1951 mereka mulai merambah ke berbagai penjuru dunia. Mereka membuka kantor cabang di Belgia, Canada, Cuba, Inggris, Mexico dan lain-lain. Pada tahun 1958 mereka membangun pabrik di Mexico, Italy dan Turki.
Tahun 1976 mereka untuk pertama kali menemukan obat tekanan darah tinggi, Minipress (Prazosin HCl). Tahun 1980 meluncurkan Feldene (Piroxicam) sebagai obat anti inflamasi paling laris pada masa itu dan terjual lebih dari $ 1 milyar di AS. Tahun 1984, mereka menemukan obat diabetes pertama, Glipizide.
Tahun-tahun berikutnya berbagai macam obat blockbuster terus memenuhi pundi2 perusahaan ini. Norvasc, Zoloft, Lipitor, Viagra adalah merek2 dagang yang mendatangkan uanh milyaran dollar ke rekening mereka..
Tahun 2000, untuk memperbesar bisnis mereka merger dengan Warner-Lambert, kemudian dengan Pharmacia (2003) dan Wyeth (2009). Hasil merger ini membuat Pfizer menjadi raksasa farmasi dunia dan menjadi headline di seluruh dunia yang mengawali megatrend saat itu, merger dan akuisisi. Tahun 2015, Pfizer mengakuisisi HOSPIRA senilai $15,2 miliar yang merupakan rekor transaksi terbesar hingga saat ini. Hingga tahun 2015, total penjualan Pfizer di seluruh dunia mencapai $48,85 miliar atau sekitar Rp660.000.000.000.0000 (baca: 600 trilyun rupiah).. Wowww… Dan semuanya berawal dari seorang pemuda yang nekat menyebrangi samudra Atlantik berbekal uang pinjaman sebesar $2.5000 sahaja…
.
.
Eli Lilly & Co. : Kolonel Veteran Perang, Pioneer Industri Farmasi Modern
lelly
Penderita diabetes mellitus di seluruh dunia, selayaknya berterima kasih kepada mantan Kolonel yang lahir 8 Juli 1838 di Baltimore, Maryland Amerika Serikat ini. Oleh karena lewat industri farmasi yang didirikannya pada tahun 1876 inilah untuk pertama kali insulin dibuat secara massal dan dipasarkan secara luas pada tahun 1923. Insulin, pertama kali diisolasi dari pankreas babi kemudian dimurnikan dan diproses secara aseptis sehingga bisa disuntikan langsung kepada penderita. Diperlukan tidak kurang dari 100 pankreas babi untuk memproduksi insulin bagi penderita diabetes selama 1 tahun penuh. Perusahaan ini pula yang, 60 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1982, untuk pertama kali berhasil membuat sintesa insulin dari bakteri Escherechia coli dengan menggunakan bioteknologi. Teknologi ini “menyelamatkan” tidak kurang 20 juta nyawa babi tiap tahunnya yang akan diambil pankreasnya untuk bisa memenuhi kebutuhan sekitar 200 juta penderita diabetes di seluruh dunia. Dialah Eli Lilly.
Eli Lilly, seorang Apoteker lulusan Indiana Asburn University yang juga mantan kolonel dalam perang civil, memulai tonggak sejarah industri farmasi dari sebuah gudang sewaan usang pada tahun 1876. Karyawannya hanya 3 orang, 1 orang pengaduk, 1 orang tukang kemas serta anak laki-laki satu-satunya setelah pulang sekolah, Josiah K. Lilly, Sr. (sering dipanggil J.K.) yang saat itu baru berusia 14 tahun…
Inovasi Eli Lilly yang pertama adalah capsule gelatine dan pil salut gelatine. Inovasi lainnya adalah sirup obat dengan rasa aneka buah dan pil salut gula yang merupakan sediaan – sediaan obat PERTAMA di dunia pada saat itu. Tatkala perusahaan farmasi lain masih secara tradisional menggunakan bentuk sediaan yang sederhana seperti tablet maupun serbuk, Eli Lilly & Co sudah melangkah jauh melampaui jamannya. Tidak heran, obat – obat produksi Eli Lilly & Co amat laris di pasaran. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam waktu 3 tahun perusahaan ini sudah mencatatkan penjualan mencapai $ 48.000 (nilai sekarang sekitar $ 1.221.086 atau sekitar 16,5 milyar rupiah lebih). Padahal saat awal membuka pabrik, Eli Lilly hanya punya modal $1.400. Pada akhir tahun 1880, perusahaan ini telah memiliki lebih dari 100 karyawan dengan pendapatan lebih dari $200.000 atau sekitar $5.276.296 nilai sekarang.. Wowww..
J.K. kemudian mengikuti jejak ayahnya, kuliah farmasi di Philadelphia College of Pharmacy & Science dan lulus sebagai apoteker tahun 1882. J.K. kemudian bergabung dengan ayahnya, dan menjadi kepala research di perusahaan yang dibangun ayahnya dan menjadi Presiden Direktur pada tahun 1898. Kolonel Eli Lelly menyerahkan sepenuhnya tongkat perusahaan ke tangan anaknya dan mulai kegiatan sosial terutama membantu kolega2nya sesama vetera perang.
Tahun 1894, Eli Lelly mulai memodernisasi pabriknya dengan membangun pabrik cangkang kapsul sendiri secara modern yang dapat memproduksi puluhan ton kapsul kosong yang menjadikan Eli Lelly industri farmasi paling modern di antara industri farmasi lainnya. Kedua putra J.K., yaitu Eli Lelly Jr. dan Josiah Jr. kemudian juga ikut bergabung dengan perusahaan yang didirikan kakeknya. Eli Lelly Jr. menamatkan pendidikan farmasi di tempat yang sama dengan ayahnya, Philadelphia college of pharmacy and science tahun 1907; sedangkan sang adik, Josiah K. Lilly Jr. alumnus dari University of Michigan’s School of Pharmacy tahun 1914.
Eli Lelly meninggal dunia pada tahun 1898, saat itu perusahaan yang dirintisnya telah memproduksi tidak kurang dari 2.000 item obat dengan penjualan lebih dari $300.000. Semuanya berawal dari sebuah gudang tua sewaan di tengah kota Indiana, Amerika Serikat. Tidak pelak, Eli Lilly merupakan pioner industri farmasi modern dan meletakkan dasar – dasar manajemen perusahaan yang kuat, sistem dokumentasi produksi yang tercatat rapi, flow of process bagus di mana pintu masuk bahan baku dan pintu keluar finished good terpisah, konsep straight-line produksi untuk menghindarkan terjadinya mix-up, semua sudah dipraktekkan oleh perusahaan ini, lebih dari 100 tahun lalu. Praktek manajemen produksi yang baik ini pun didukung oleh bagian research yang kokoh. Bahkan salah seorang sejahrawan dari Michigan University menulis, “It was probably the most sophisticated production system in the American pharmaceutical industry”. Tidak heran, memasuki abad ke 20, penjualan perusahaan ini sudah mencapai $1 juta.. Sungguh luar biasa..
J.K. menjadi presiden direktur Eli Elly & Co. hingga tahun 1932. Pada masanya inilah insulin diproduksi secara massal di pabriknya dengan merk dagang “Iletin”. J.K. mengundurkan diri dari perusahaan pada tahun 1932 dan menghabiskan masa tuanya dengan berbagai aktifitas sosial. Beliau meninggal pada tahun 1948 pada usia 86 tahun dan dimakamkan di Indianapolis. Sebelumnya, pada tahun 1937, J.K. mendirikan yayasan Lilly Endowment yang nantinya akan memegang peranan penting setelah keluarga Eli Lelly tidak lagi memegang kendali perusahaan.
Sepeninggal J.K. kendali perusahaan dikelola oleh Eli Lelly Jr. anak tertua J.K. hingga tahun 1961 sebagai Ketua. Sedangkan adiknya, J.K. Lilly Jr. sebagai Presiden Direktur. Eli Lelly jr. meninggal tahun 1977 pada usia 91 tanpa meninggalkan keturunan dan dimakamkan di samping istrinya di Crown Hill, Indianapolis. Seluruh harta kekayaannya yang mencapai $165,7 juta atau sekitar Rp. 2.200 trilyun disumbangkan ke berbagai lembaga kemanusiaan, sesuai dengan surat wasiat yang ditinggalkannya.
Josiah Kirby “Joe” Lilly Jr., sang adik, tetap menjadi presiden direktur hingga tahun 1953. Selanjutnya pengelolaan perusahaan, untuk pertama kalinya diserahkan kepada orang di luar keluarga Eli Lelly. Beliau tetap menjabat sebagai Chairman hingga wafat pada tahun 1966. Anak Lilly, Ruth dan Josiah III mengikuti jejak ayahnya sebagai filantropis dan mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Sampai saat ini keluarga Eli Lelly masih memiliki sekitar 12 persen saham perusahaan yang nilainya tidak kurang dari $35.57 miliar atau sekitar 480 trilyun rupiah..
Pada tahun 1971, Eli Lelly membeli perusahaan kosmetik Elizabeth Arden Inc. senilai $ 38 juta. Tahun 2007 mengakuisisi Icos corporation dan memproduksi obat yang sangat legendaris, Cialis untuk disfungsi ereksi. Selanjutnya tahun 2008 mengakuisisi ImClone System serta berkolaborasi dengan Boehringer Ingelheim memproduksi insulin analog dan anti diabetic oral. Hingga tahun 2015, 141 tahun sejak didirikan, Eli Lelly mencatatkan penjualan $2,41 miliar dengn jumlah karyawan lebih dari 41.000 orang, membuka cabang di 18 negara dan produk2nya tersebar di 125 negara di seluruh dunia. Semuanya berawal dari sebuah gudang sewaan yang dibangun oleh seorang Apoteker yang juga seorang Kolonel veteran perang, yang sangat visioner, ulet dan tentu saja, luar biasa…
 .
.
Bayer AG: Dari Limbah tak Berharga Menjadi “Raksasa” Kimia dan Farmasi Dunia
bayer1
Meskipun bukan yang pertama, namun Bayer AG dianggap sebagai “pembuka” era baru dalam tonggak sejarah industri farmasi di dunia. Perusahaan inilah yang untuk PERTAMA kali, membuat obat yang DISINTESA dari bahan kimia murni bukan dari bahan alam, sehingga “kelahirannya” dianggap sebagai “milestone” dalam sejarah perkembangan industri farmasi dunia. Namun siapa sangka, sintesis obat secara kimia PERTAMA yang dihasilkan oleh perusahaan yang berkantor pusat di Leverkusen, Jerman ini ternyata hasil “kejeniusan” seorang ahli kimia memanfaatkan limbah yang semula tidak ada harganya sama sekali.
Bayer AG, didirikan pertama kali pada tahun 1863 oleh Friedrich Bayer, seorang ahli dalam bidang pewarna (dye) bersama rekannya, Friedrich Weskott di Barmen, Jerman. Bayer muda dibesarkan oleh keluarga yang secara turun-temurun berkecimpung dalam bisnis kain dan pewarna. Kakeknya memiliki pabrik memintalan kain di Elberfeld, Jerman; sedangkan ayahnya memiliki pemintalan benang sutera. Bayer muda belajar kimia dan sangat menguasai bahan2 pewarna yang sangat dekat hubungannya dengan bidang bisnis kakek dan ayahnya. Sementara Friedrich Weskott berasal dari keluarga petani dan memiliki sebuah pabrik pewarnaan benang. Tepat pada tanggal 1 Agustus 1863, kantor “Friedr. Bayer et Comp.” sebagai cikal bakal Bayer AG resmi dibuka di Rittershause, Barmen dengan hanya memiliki 1 orang pegawai – Daniel Preiss – yang kemudian bekerja selama 40 tahun dan ikut menjadi saksi sejarah bagaimana Bayer AG tumbuh dan berkembang, yang bahkan sang pendirinya sendiri tidak sempat melihat transformasi perusahaan ini.
Pelan namun pasti, Friedr. Bayer et Comp., tumbuh dan berkembang. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Fuchsine pewarna textile yang tahan terhadap asam. Hingga tahun 1877 perusahaan ini sudah membukukan asset sebesar 5,4 juta mark, memiliki 4 pabrik yang memproduksi berbagai macam pewarna tekstile antara lain fuchsine, aniline, alizarin dan Azo. Mereka juga membuka pabrik di Lille, Perancis dan di Moskow, Rusia. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, Friedr. Bayer et Comp. sudah memiliki lebih dari 200 pekerja dan memproduksi lebih dari 100 jenis pewarna serta menjadi perusahaan pewarna terkemuka di Jerman..
Di tengah perkembangan perusahaan yg sedemikian pesat, pada tahun 1880, sang pendiri – Friedrich Bayer – meninggal dunia pada usia 54 tahun, berselang 4 tahun dari partnernya, Friedrich Weskott yang meninggal dunia dalam usia 55 tahun. Sebelumnya, tongkat kendali perusahaan diserahkan kepada sebuah dewan yang terdiri dari Julie (istri Friedrich Bayer Sr.), Friedrich Bayer Jr. (anak Friedrich Bayer Sr.), Carl Rumff (anak menantu), Friedrich Weskott jr. (anak Friedrich weskott sr.), August Siller (menantu Friedrich Weskott sr.) dan Eduart Tust sebagai satu2nya yang bukan anggota keluarga pendiri. Nama perusahaan pun diubah menjadi “Farbenfabriken Vorm. Friedr. Bayer & Co.” dan menjual sebagaian saham di Pasar Saham Dusseldorf. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham pertama Carl Rumff, August Siller dan Eduard Tust terpilih sebagai Dewan Komisaris, sedangkan Friedrich Bayer Jr. dan Friedrich Weskott jr. terpilih sebagai Direktur perusahaan.
“Arah angin” perusahaan ini mulai berubah haluan tatkala pada tahun 1883, Carl Rumff merekrut seorang anak muda berusia 23 tahun yang sangat terobsesi dengan kimia, Carl Duisberg, sebagai tenaga ahli kimia dan mengepalai divisi riset perusahaan ini. Pada musim panas tahun 1886, Carl Duisberg melihat tumpukan ratusan drum berisi para-nitrophenol yang teronggok begitu saja di halaman belakang pabrik yang memproduksi Benzoazurine. Tidak kurang dari 30.000 kg para-nitrophenol ini merupakan limbah hasil samping dari proses produksi Benzoazurine. Berkat “kejelian” dan “kejeniusan” Carl Duisberg, limbah tak berharga ini kemudian diolah menjadi p-acetophenetidine yang mirip dengan acetanilide yang saat itu digunakan sebagai obat turun panas (antipyretic). Oleh Carl Duisberg, p-acetophenetidine ini diberi nama Phenacetin. Dari hasil uji pharmakologi ternyata Phenacetin memiliki khasiat antipyretic yang jauh lebih kuat dan jauh lebih stabil serta efek samping yang jauh lebih rendah dibanding Acetanilide. Dan tiba – tiba saja, perusahaan yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi pewarna tekstil, berubah haluan menjadi pabrik obat dengan produk andalan Phenacetin yang diperoleh dari limbah pabrik yang semula tidak ada harganya sama sekali… Dan penemuan Phenacetin ini memperoleh moment yang pas, karena pada saat itu terjadi epidemi flu di Eropa dan Amerika Serikat menjadikan produk ini amat laris di pasaran. Kejeniusan Carl Duisberg akhirnya membawanya ke puncak pimpinan perusahaan. Dia menjadi CEO Bayer & Co. pada tahun 1900. Di tangannya berbagai obat2an berhasil disintesis dan banyak di antaranya yang kemudian menjadi “legendaris”, antara lain yang kemudian dinobatkan menjadi “Obat Sepanjang Masa”, Aspirin.
Penemuan Phenacetin membuka babak baru dalam perjalanan perusahaan ini. Divisi pewarna juga masih terus berkembang dengan menghasilkan berbagai varian product. Divisi Pharmaceutical, di bawah supervisi khusus dari Carl Duisberg, terus melakukan inovasi – inovasi baru. Beberapa obat baru juga kemudian ditemukan dan laris di pasaran, di antaranya: Sulfonal yang disintesa dari diethylmercaptodimethylmethane. Setelahnya ditemukan pula Trional sebagai obat penenang, hasil pengembangan dari Sulfonal. Obat lain yang dikembangkan adalah Piperazine untuk obat cacing. Pada tahun 1894, Bayer meluncurkan produk Tannigen yang sangat efektif mengatasi diare. Lambat laun, Bayer kemudian dikenal sebagai “drug manufacturer” dibanding dengan produsen pewarna. Bahkan pada saat pergantian abad, nama Bayer identik dengan “obat”..
Pada tahun 1894, atas rekomendasi dari seorang ilmuwan peraih hadiah nobel, Prof. Adolf van Baeyer, seorang anak muda brilian yang berasal dari Ludwigsburg, Negara Bagian Baden-Wurttemberg, bergabung dengan Bayer sebagai peneliti. Anak muda yang meraih gelar apoteker dan kimia dari Ludwig Maximillian University di Munich dengan gelar Magna Cum Laude serta meraih gelar Doktor hanya dalam waktu 2 tahun, juga dengan gelar Magna Cum Laude, inilah yang nantinya membawa kejayaan bagi Bayer. Pemuda brilian, pemalu dan pendiam ini bernama Felix Hoffmann.
bayer2
Pada tanggal 10 Agustus 1897, Felix Hoffman berhasil mensintesa Acetylsalicylic Acid (ASA) dengan proses asetilisasi asam salisilat menggunakan asam asetat. Sebuah penemuan yang sangat luar biasa, mengingat sudah sekian lama ilmuwan berusaha mensintesa ASA dengan berbagai macam metode namun belum pernah ada yang berhasil. Namun, Felix Hoffmann, pemuda brilian ini berhasil mensintesa ASA dalam bentuk bahan kimia yang murni dan sangat stabil. Bayer, selanjutnya bergerak cepat dengan mendaftarkan Patent dari produk ini, yang kemudian di-setujui pada tahun 1899, dengan nama yang kemudian menjadi legenda: ASPIRIN, yang berasal dari bahasa jerman yang artinya “sebuah asam yang secara kimia identik dengan asam salisilat”. Huruf “A” = acetyl, “- SPIR dari kata Spirsäure = (seperti) asam salisilat, “-IN = obat.
Ada cerita menarik di balik penemuan Aspirin ini. Pada waktu itu, ada 8 ahli kimia dan ahli farmakologi yang bekerja di Divisi Riset Bayer di Elberfeld. Salah seorang diantara mereka adalah si jenius Felix Hoffmann. Sebenarnya, Bayer tidak secara khusus mengembangkan obat anti rematik. Namun, Felix Hoffman yang mempunyai ayah yang menderita penyakit rematik berkepanjangan, yang sangat menderita dengan obat asam salisilat yang membuat mual dan rasanya sangat pahit, secara diam2 mengembangkan obat anti rematik yang lebih stabil, rasa lebih bisa enak dengan efek samping yang lebih kecil. Akhirnya, obat yang sebenarnya “tidak direncanakan” ini berhasil ditemukan dan sukses besar di pasaran. Sampai dengan tahun 2011 obat ini sudah diproduksi sebanyak 40.000 ton pertahun. Di Amerika serikat saja, obat ini diproduksi hampir mencapai 20 milyar tablet pertahun.. Tidak mengherankan obat ini dinobatkan sebagai “Obat Sepanjang Masa”. Padahal obat ini sebenarnya tidak direncanakan, namun lebih karena cinta kasih seorang anak untuk meringankan beban sakit dari si ayah yang dicintainya… (Hiks.. ambil tissue…).
Setelah meluncurkan “si fenomenal” Aspirin, masih banyak lagi obat2 legendaris yang dihasilkan oleh Bayer & Co, di antaranya Heroin (diacethylmorphine) yang juga berhasil disintesis oleh Felix Hoffmann sebagai obat batuk (sekarang tergolong narkotika kelas wahid), Veronal (diethylbarbituic acid) sebagai obat hipnotic, kemudian Phenobarbital (1912) sebagai obat anti-epilepsi yang hingga saat ini masih masuk dalam daftar obat esensial dari WHO. Bayangkan obat yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, namun masih menjadi obat pilihan Badan Kesehatan Dunia… Luar biasa…
Pada tahun 1916, ilmuwan2 Bayer menemukan SURAMIN, sebuah senyawa yang berkhasiat sebagai anti-biotik/anti parasit PERTAMA yang berhasil disintesis secara kimia. Penemuan ini membuka jalan bagi penemuan senyawa antibiotik lain yang lebih poten dan lebih sedikit efek samping yang ditimbulkannya, yaitu Sulfonamide yang ditemukan oleh peneliti Bayer yang lain, Gerhard Domagk. Penemuan Sulfonamide ini kemudian membuka “era baru” dalam dunia pengobatan sehingga Domagk kemudian dianugerahi hadiah Nobel bidang kesehatan tahun 1939.
Perang Dunia II, meluluh-lantakkan pabrik Bayer di Leverkusen. Diperlukan waktu 6 tahun untuk membangun kembali fasilitas produksi dari puing-puing bangunan yang hancur lebur. Setahun kemudian, 1952, mereka sudah mulai memproduksi obat2an dan berbagai bahan kimia dan bahkan sudah mengeksport produk2nya ke berbagai belahan dunia.
Tahun 1963, SERATUS TAHUN sejak Bayer didirikan, wmereka sudah memiliki lebih dari 80.000 karyawan dengan penjualan lebih dari 4,7 milliar mark. Tahun 1978, Bayer mengakuisisi Miles Laboratories, Canada. Tahun 1994 mengakuisisi Sterling Winthrop, selanjutnya mereka juga mengakuisisi Divisi OTC Roche Pharmaceutical tahun 2004 yang mengakibatkan banyak pabrik Roche di seluruh dunia berpindah tangan, ternasuk pabrik PT. Roche Indonesia yang di Cimanggis, Depok tempat pertama kali saya membangun karier (Hiks.. baper nih… he3..).
Tahun 2006, Bayer AG mengakuisisi Schering AG dengan senilai € 14,6 milliar, yang merupakan salah satu dari 10 besar dalam sejarah merger & akuisisi dunia, SESAAT sebelum Schering AG jatuh kepelukan Merck KGaA, dan secara resmi berubah nama menjadi Bayer Schering Pharma AG sebagai anak perusahaan Bayer AG. Dengan bergabungnya Divisi OTC dari Roche dan Schering AG, maka hingga sekarang terdapat 4 divisi, yaitu Pharmaceutical, Consumer Health, Cropscience dan Animal Health.
Bayer AG yang pada saat didirikan hanya punya 1 orang karyawan, hingga tahun 2016 telah memiliki lebih dari 116.000 karyawan dari berbagai belahan bumi. Perusahaan yang pada awalnya hanyalah pembuat pewarna tekstil, 154 tahun kemudian telah menjelma menjadi raksasa kimia dan farmasi dunia. Semuanya berawal dari onggokan limbah yang tak berharga, namun di tangan – tangan orang2 jenius yang ulet dan tiada kenal menyerah akhirnya mereka bisa menguasai dunia dan sangat berjasa bagi kehidupan dan kesejahteraan umat manusia penduduk di planet bumi ini..
Sungguh kisah yang sangat luar biasa, semoga bisa menginspirasi kita semua.. Aamiin YRA
Wassalam.
Iklan

1 thought on “Kisah Perjalanan Industri Farmasi Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s