KASUS PEMBEKUAN IZIN EDAR ALBOTHYL : KASUS “BIASA” YANG MENJADI “LUAR BIASA”

Belum lagi usai “kehebohan” kasus ditemukannya fragmen DNA babi pada sejumlah obat, dunia industri farmasi di Indonesia kembali “diguncang” kasus tersebarnya sepucuk surat dari salah satu Deputi  di Badan POM RI kepada salah satu industri farmasi yang cukup besar di Tanah Air tentang “Hasil Kajian Aspek Keamanan” suatu produk yang telah dipasarkan. Sebenarnya kasus ini adalah hal yang “biasa – biasa” saja dan “sangat lumrah” terjadi di industri farmasi. Saya tidak “berpolemik” terhadap OBAT-nya, namun lebih menyoroti soal “Hasil Kajian Aspek Keamanan” produk, yang lazimnya disebut sebagai “Post Marketing Surveillance” (bahasa Indonesia: “Surveilan”).

 

Alur produk obat

Alur Proses Penemuan Senyawa Obat (Baru)

 

Post Marketing Surveillance atau Surveilan, merupakan hal yang sudah sangat dikenal di dunia kefarmasian sebagai satu rangkaian dari “Proses Penemuan dan Pemasaran Obat (Baru)” (lihat gambar 1) dan juga hal ini merupakan bagian dari TUGAS Badan POM sebagai Otoritas Pengawasan Obat di Indonesia. Tugas yang sama yang dilakukan oleh SELURUH Otoritas Pengawasan Obat di seluruh dunia. Jadi, memang sudah menjadi tugas dan kewajiban dari Badan POM untuk melakukan Post Marketing Surveillance ini setelah obat tersebut dipasarkan. Bentuk pelaksanaan dari fungsi ini bisa bermacam – macam, termasuk menerima masukan dari para ahli, praktisi maupun profesional lainnya. Bahkan masyarakat-pun bisa melaporkan kepada Badan POM apabila terjadi kasus – kasus yang berkaitan dengan penggunaan obat. Jadi sekali  lagi, bahwa kasus ini sebenarnya hal yang SANGAT BIASA, menjadi sedemikian “heboh” karena disebar-luaskan sedemikian masifnya oleh para netizen di berbagai media sosial.

 

Pengawasan pre-post market

Monitoring Efek Samping Obat (MESO) sebagai salah satu TUGAS dan FUNGSI Badan POM RI

 

Apakah kasus seperti  ini hanya terjadi pada obat Albothyl saja? Tentu saja TIDAK !! Ada  buaaanyak kasus di mana suatu produk ditarik dari peredaran karena aspek keamanan produk yang lebih tinggi resikonya dibanding dengan manfaatnya. WHO mencatat ada lebih 462 (Empat Ratus Enam Puluh Dua) obat yang ditarik dari peredaraan setelah mendapat Nomor Ijin Edar (NIE) alias Nomor Registrasi. Lihat daftarnya di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4740994/ dan di sini https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_withdrawn_drugs

.

Berikut daftar obat yang ditarik dari pasaran antar tahun 1990 – 2013 :

Significant withdrawals  1990 – 2013

No.

Drug name Withdrawn Country Remarks
1 Tetrazepam 2013 European Union Serious cutaneous reactions
2 Drotrecogin alfa (Xigris) 2011 Worldwide Lack of efficacy as shown by PROWESS-SHOCK study
3 Gemtuzumab ozogamicin (Mylotarg) 2010 US No improvement in clinical benefit; risk for death
4 Ozogamicin 2010 US No improvement in clinical benefit; risk for death; veno-occlusive disease.
5 Propoxyphene (Darvocet/Darvon) 2010 Worldwide Increased risk of heart attacks and stroke.
6 Rosiglitazone (Avandia) 2010 Europe Risk of heart attacks and death. This drug continues to be available in the US
7 Sibutramine (Reductil/Meridia) 2010 Worldwide Increased risk of heart attack and stroke
8 Sitaxentan 2010 Germany Hepatotoxicity
9 Efalizumab (Raptiva) 2009 Germany Withdrawn because of increased risk of progressive multifocal leukoencephalopathy
10 Aprotinin (Trasylol) 2008 US Increased risk of death
11 Rimonabant (Acomplia) 2008 Worldwide Risk of severe depression and suicide
12 Clobutinol 2007 Germany Ventricular arrhythmia, QT-prolongation
13 Lumiracoxib (Prexige) 2007–2008 Worldwide Liver damage
14 Nefazodone 2007 US, Canada, others Branded version withdrawn by originator in several countries in 2007 for hepatotoxicity. Generic versions available
15 Pergolide (Permax) 2007 US Risk for heart valve damage
16 Tegaserod (Zelnorm) 2007 US Risk for heart attack, stroke, and unstable angina. Was available through a restricted access program until April 2008.
17 Alatrofloxacin 2006 Worldwide Liver toxicity; serious liver injury leading to liver transplant; death
18 Gatifloxacin 2006 US Increased risk of dysglycemia
19 Ximelagatran (Exanta) 2006 Germany Hepatotoxicity
20 Adderall XR 2005 Canada Risk of stroke[1] The ban was later lifted because the death rate among those taking Adderall XR was determined to be no greater than those not taking Adderall.
21 Hydromorphone (Palladone, extended release version) 2005 High risk of accidental overdose when extended release version (Palladone) administered with alcohol. Standard hydromorphone is sold in most of the world including the US
22 Natalizumab (Tysabri) 2005–2006 US Voluntarily withdrawn from US market because of risk of Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML). Returned to market July, 2006.
23 Thioridazine (Melleril) 2005 Germany, UK Withdrawn worldwide due to severe cardiac arrhythmias
24 Bezitramide 2004 Netherlands Risk of fatal overdose
25 Co-proxamol (Distalgesic) 2004 UK Risk of overdose
26 Dofetilide 2004 Germany Drug interactions, prolonged QT
27 Rofecoxib (Vioxx) 2004 Worldwide Withdrawn by Merck & Co. Risk of myocardial infarction and stroke
28 Valdecoxib (Bextra) 2004 US Risk of heart attack and stroke
29 Levomethadyl acetate 2003 US Cardiac arrhythmias and cardiac arrest
30 Kava Kava 2002 Germany Hepatotoxicity
31 Ardeparin (Normiflo) 2001 US Not for reasons of safety or efficacy
32 Cerivastatin (Baycol, Lipobay) 2001 US Risk of rhabdomyolysis
33 Rapacuronium (Raplon) 2001 US, multiple markets Withdrawn in many countries because of risk of fatal bronchospasm
34 Sparfloxacin 2001 US QT prolongation and phototoxicity
35 Alosetron (Lotronex) 2000 US Serious gastrointestinal adverse events; ischemic colitis; severe constipation. Reintroduced 2002 on a restricted basis
36 Cisapride (Propulsid) 2000 US Risk of fatal cardiac arrhythmias
37 Phenylpropanolamine (Propagest, Dexatrim) 2000 Canada, US Hemorrhagic stroke
38 Troglitazone (Rezulin) 2000 US, Germany Hepatotoxicity
39 Amineptine (Survector) 1999 France, US Hepatotoxicity, dermatological side effects, and abuse potential. Reason: hepatotoxicity
40 Aminopyrine 1999 France, Thailand risk of agranulocytosis; severe acne
41 Astemizole (Hismanal) 1999 US, Malaysia, Multiple Nonspecified Markets Fatal arrhythmia
42 Grepafloxacin (Raxar) 1999 Withdrawn Germany, UK, US others Cardiac repolarization; QT interval prolongation
43 Levamisole (Ergamisol) 1999 US Still used as veterinary drug and as a human antihelminthic in many markets; listed on the WHO List of Essential Medicines. In humans, it was used to treat melanoma before it was withdrawn for agranulocytosis
44 Temazepam (Restoril, Euhypnos, Normison, Remestan, Tenox, Norkotral) 1999 Sweden, Norway Diversion, abuse, and a relatively high rate of overdose deaths in comparison to other drugs of its group. This drug continues to be available in most of the world including the US, but under strict controls.
45 Trovafloxacin (Trovan) 1999–2001 European Union, US Withdrawn because of risk of liver failure
46 Bromfenac 1998 US Severe hepatitis and liver failure (some requiring transplantation)
47 Ebrotidine 1998 Spain Hepatotoxicity
48 Mibefradil 1998 European Union, Malaysia, US, others Fatal arrhythmia, drug interactions
49 Proxibarbal 1998 Spain, France, Italy, Portugal, Turkey Immunoallergic, thrombocytopenia
50 Sertindole 1998 European Union Arrhythmia and sudden cardiac death
51 Tolcapone (Tasmar) 1998 European Union, Canada, Australia Hepatotoxicity
52 Dexfenfluramine 1997 European Union, UK, US Cardiotoxic
53 Fen-phen (popular combination of fenfluramine and phentermine) 1997 Cardiotoxicity
54 Fenfluramine 1997 Worldwide Cardiac valvular disease, pulmonary hypertension, cardiac fibrosis.
55 Pemoline (Cylert) 1997 Canada, UK Withdrawn from US in 2005.  Reason:hepatotoxicity.
56 Phenolphthalein 1997 US Carcinogenicity
57 Terfenadine (Seldane, Triludan) 1997–1998 France, South Africa, Oman, others, US Prolonged QT interval; ventricular tachycardia
58 Chlormezanone (Trancopal) 1996 European Union, US, South Africa, Japan Hepatotoxicity & Steven-Johnson Syndrome
59 Minaprine 1996 France Convulsions
60 Tolrestat (Alredase) 1996 Argentina, Canada, Italy, others Severe hepatotoxicity
61 Alpidem (Ananxyl) 1995 Worldwide Not approved in the US, withdrawn in France in 1994 and the rest of the market in 1995 because of rare but serious hepatotoxicity.
62 Bendazac 1993 Spain Hepatotoxicity
63 Flosequinan (Manoplax) 1993 UK, US Increased mortality at higher doses; increased hospitalizations.
64 Ketorolac 1993 France, Germany, others Hemorrhage, renal Failure.
65 Moxisylyte 1993 France Necrotic hepatitis.
66 Remoxipride 1993 UK, others Aplastic anemia
67 Sorivudine 1993 Japan Drug interaction and deaths
68 Thiobutabarbitone 1993 Germany Renal insufficiency
69 Benzarone 1992 Germany Hepatitis
70 Temafloxacin 1992 Germany, UK, US, others Low blood sugar; hemolytic anemia; kidney, liver dysfunction; allergic reactions
71 Temafloxacin 1992 US Allergic reactions and cases of hemolytic anemia, leading to three patient deaths
72 Encainide 1991 UK, US Ventricular arrhythmias
73 Fipexide 1991 France Hepatotoxicity
74 Flunitrazepam 1991 France Abuse
75 Terodiline (Micturin) 1991 Germany, UK, Spain, others Prolonged QT interval, ventricular tachycardia and arrhythmia
76 Triazolam 1991 France, Netherlands, Finland, Argentina, UK others Psychiatric adverse drug reactions, amnesia.
77 Dilevalol 1990 UK Hepatotoxicity
78 Dinoprostone 1990 UK Uterine hypotonus, fetal distress
79 Fenoterol 1990 New Zealand Asthma mortality
80 Metipranolol 1990 UK, others Uveitis
81 Pirprofen 1990 France, Germany, Spain Liver toxicity

 

Beberapa contoh obat yang ditarik dari peredaran antara lain, misalnya:  Cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia yang setelah dipasarkan lebih dari 10 tahun baru diketahui ternyata dapat merusak ginjal; Entero-vioform (kliokuinol) suatu obat anti disentri amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON disease); Phenyl Propanol Amin (PPA) yang sering terdapat pada obat flu harus diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi; troglitazon suatu obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati setelah lebih dari 15 tahun dipasarkan.

 

Drugs withdrawn

Beberapa obat yang ditarik dari peredaran

 

 

vioxx withdraw2

Kisah penarikan obat paling “dramatis” sepanjang sejarah

 

 

Sedangkan di Indonesia sendiri – apabila Anda jeli – di pasaran banyak sekali obat – obat yang menggunakan nama dengan awalan “NEO” (cari sendiri ya… buaaanyak koq, termasuk obat yang sangat laris itu). Nah obat – obat tadi  AWAL-nya juga mengandung bahan obat atau dosis obat yang dari hasil kajian aspek keamanan obat oleh Badan POM dinyatakan bisa membahayakan orang yang mengkonsumsinya. Obat – obat tersebut kemudian ditarik dari peredaran dan si Produsen kemudian melakukan “reformulasi” dan mengajukan permohonan Nomor Registrasi Baru, dengan nama yang (hampir) SAMA dengan obat yang ditarik tadi tapi dengan penambahan awalan “NEO”, sehingga kemudian ada obat dengan nama “Neo titik – titik”.  Beberapa tahun lalu, 130 obat batuk dari berbagai merek yang diproduksi oleh 52 industri farmasi, juga harus ditarik dari peredaran menyusul Surat Keputusan Kepala Badan POM tentang Pembatalan izin Edar obat yang mengandung Dextrometorfan sediaan tunggal. Lihat daftarnya di sini http://health.liputan6.com/read/2055726/daftar-130-obat-batuk-yang-akan-ditarik-per-akhir-juni

Untuk kasus Albothyl ini, setahu saya memang pada awalnya karena adanya pengaduan dari “sekelompok” profesional yang melaporkan terjadinya “Efek Samping Obat (ESO)” pada beberapa orang yang menggunakan obat ini. Dari pengaduan tersebut Badan POM kemudian membentuk “Panel Ahli” yang pada akhirnya memutuskan untuk membekukan ijin edar dari obat yang bersangkutan hingga PERBAIKAN INDIKASI yang diajukan disetujui. Demikian pula untuk produk sejenis, juga diberlakukan hal yang sama (lihat gambar 3).

 

Surat BPOM

 

Jadi sekali lagi, kejadian ini bukanlah hal yang baru.. Bukan pula kejadian yang “luar biasa”.. Sesuatu yang sangat umum.. dan sangat lumrah yang terjadi di industri farmasi, bahwa suatu obat diketahui memiliki efek samping setelah sekian lama (bahkan bisa puluhan tahun) setelah obat tersebut dipasarkan. Oleh karenanya Badan POM juga mewajibkan industri farmasi untuk melakukan FARMAKOVIGILANS. Kewajiban ini pun sudah dituangkan dalam Peraturan Kepada Badan POM No. HK.03.1.23.12.11.10690 TAHUN 2011 tentang Penerapan Farmakovigilans Bagi Industri Farmasi.

Hal yang amat sangat disayangkan dari kasus ini (jika bisa dikatakan sebuah “kasus”) menurut saya adalah justru soal bagaimana mungkin sebuah surat yang bersifat RAHASIA dari sebuah instansi yang (seharusnya) sangat kredibel, bisa sampai “bocor” keluar sehingga tersebar luas ke publik. Saya kira hal ini merupakan suatu “peringatan” bagi para pejabat di Badan POM yang baru saja dilantik, agar hal – hal semacam ini tidak terulang kembali. Bukan tidak mungkin akan timbul “kecurigaan” dari masyarakat bahwa ada “oknum” di lembaga ini yang “sengaja membocorkan” surat tersebut untuk menimbulkan “kegaduhan” di masyarakat karena peristiwa yang sama terjadi dalam selang waktu yang tidak terlalu lama.

Wallahu’alam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s