Arsip Kategori: artikel

KASUS DNA BABI PADA OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN: PANDUAN MEMILIH OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN YANG “TOYYIB” & “HALAL”

Kasus ditemukannya fragmen DNA babi pada 2 produk food supplemen Viostin DS dan Enzyplex oleh Badan POM, memicu berbagai kontroversi di kalangan masyarakat. Meskipun Kepala Badan POM bersama – sama dengan pihak YLKI dan LPPOM MUI sudah menggelar konferensi pers bersama, menindak-lanjuti temuan tersebut, namun demikian masih banyak pertanyaan dari masyarakat yang masih belum terjawab. Pada umumnya mereka mempertanyakan tentang “keamanan” (dalam tanda petik – karena berbeda dengan pengertian Keamanan Obat yang selama ini dipahami) obat dan suplemen yang beredar di masyarakat, terutama terkait dengan “status” ke-halal-an dari produk-produk tersebut, mengingat kasus ini bukanlah kasus pertama yang terjadi. Dalam rentan waktu 2000-2018, setidaknya ada 10 kasus, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga kosmetik yang mengandung babi ini. Yang khusus terkait dengan obat dan suplemen makanan, tercatat ada  4 kasus, yaitu  vaksin polio (Vaksin Polio Khusus dan Vaksin Polio Oral) tahun 2005; vaksin meningitis (2009); serta 2 obat golongan Heparin yang digunakan untuk pengencer darah, yaitu Enoxaparin Sodium (merk dagang: Levenox Injeksi) serta Nadroparin Calcium (Merek dagang: Fraxiparine Injeksi), yang merebak pada tahun 2013 yang lalu.

Jadi sesungguhnya kasus obat-obatan yang mengandung DNA babi ini bukan hal baru, rentetan tahun yang panjang ditemukannya kasus ini selalu berulang. Tetapi penanganannya seperti hanya sporadis. Muncul kasus, heboh di masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak bereaksi, sampai ditariknya obat tersebut dari peredaran,  kemudian senyap. Hingga beberapa waktu kemudian kasus yang sama kembali berulang dan berulang lagi. Untuk itulah perlu adanya penjelasan yang komprehensif kepada masyarakat tentang masalah ini sehingga ke depan tidak terulang kembali kasus yang cukup heboh dan menyita perhatian masyarakat ini.

 

DARI MANA DATANGNYA DNA BABI DALAM OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya dipahami dahulu bagaimana proses penemuan obat itu sendiri hingga kita gunakan saat ini. Seperti kita ketahui bahwa hampir seluruh obat yang beredar di Indonesia merupakan obat-obat “me too” alias “obat copy” yang hanya “mencontek” obat-obat yang ditemukan dan diproduksi pertama kali oleh industri-industri farmasi besar di luar negeri. Setelah masa patent habis, obat-obat tsb kemudian diproduksi juga oleh industri farmasi lain, termasuk industri farmasi di Indonesia. Dalam proses penemuan senyawa obat tersebut – yang notabene dilakukan di negara – negara yang bukan mayoritas penduduknya menganut agama Islam, tentu TIDAK mempertimbangkan soal HALAL/HARAM-nya bahan yang digunakan sebagai bahan baku obat tersebut. Pada kenyataannya, dari sekian banyak bahan baku yang obat yang ditemukan tersebut, yang PALING MENDEKATI IDEAL, kebanyakan berasal dari hewan babi. Termasuk dalam hal ini misalnya Insulin, Heparin, Chondroitin, Gelatin dan lain sebagainya. Demikian pula banyak katalisator dalam proses pembuatan obat yang menggunakan bahan yang berasal dari babi.

Berikut adalah bahan baku obat dan suplemen makanan yang bersumber dari babi:

bahan baku babi

 

Selain bahan – bahan seperti dalam tabel di atas, bahan lain yang juga bersumber dari babi antara lain adalah Chondroitine Sulfate, serta enzim – enzim pankreatic seperti Amylase, Protease, dan Lipase.

Apakah tidak bisa menggunakan bahan lain selain bersumber dari babi? Bisa.. Sangat bisa!!. Namun demikian penggunakan bahan selain dari babi akan menghasilkan senyawa obat dengan struktur kimia yang berbeda. Bagi orang yang pernah kuliah di Fakultas Farmasi tentu pernah diajari Kimia Medisinal dan bisa menjelaskan dengan gamblang perbedaan struktur kimia meski memiliki senyawa yang sama.

Ambil contoh misalnya Insulin yang diperoleh dari pankreas babi hanya memiliki perbedaan 1 asam amino dengan insulin yang dibutuhkan oleh manusia. Sedangkan Insulin yang diperoleh dari sapi memiliki perbedaan 3 asam amino. Gelatin yang diperoleh dari kulit babi (Gelatin tipe A) memiliki sifat-sifat gelatin yang sangat ideal bila dibanding dengan Gelatin yang diperoleh dari tulang ikan atau tulang sapi (Gelatin tipe B ), dimana gelatin tipe A lebih kuat, lebih elastis, tidak mudah “crack” dan sangat lebih mudah larut air dibanding dengan Gelatin tipe B.

 

Gelatin

 

Demikian pula dengan Magnesium Stearate dan Calcium Stearate yang banyak digunakan dalam proses pembuatan tablet, diproduksi dari Stearic Acid yang berasal dari lemak hewan, misalnya sapi atau babi. Namun demikian, baik Magnesium stearate maupun Calcium Stearate bisa diperoleh dari minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kelapa maupun dari biji bunga matahari. Terdapat berbedaan struktur antara Mg/Ca Stearate yang diproduksi dari asam stearate yang bersumber dari minyak nabati dan lemak hewani.

Sedangkan Chondroitin sulfate, biasanya diperoleh dari tulang rawan (bagian telinga dan hidung) sapi atau babi, tulang ikan hiu, ikan pari atau ikan-ikan lainnya. Lagi – lagi terdapat perbedaan struktur kimia dari Chondroitin sulfate yang dihasilkan, tergantung dari sumber dari bahan baku tersebut. Namun demikian, faktor yang paling utama dari “pemilihan” sumber bahan baku tersebut adalah KETERSEDIAAN dari bahan tersebut. Di China misalnya, tulang rawan dari babi sangat berlimpah karena negeri ini populasi babi yang sangat buaanyak. Sedangkan di Eropa atau Amerika Serikat, justru persediaan tulang ikan dan tulang sapi yang berlimpah. Sehingga akan jauh lebih hemat jika sumber bahan baku pembuatan Chondroitin sulfate tersebut menggunakan tulang ikan atau tulang rawan sapi.

 

chondroitin

 

Bagi para Apoteker yang bekerja di industri farmasi – pesan saya adalah –  jika Anda menggunakan bahan – bahan tersebut, tentu Anda harus betul – betul sangat berhati-hati sekali. Periksa betul-betul dan yakinkan dengan betul dari mana sumber bahan baku obat yang akan digunakan tersebut. Jika perlu, mintakan sertifikat halal dari produsen (jangan dari supplier/distributor, HARUS dari produsen) agar benar – benar yakin bahwa bahan baku yang digunakan bersumber dari bahan yang tidak najis. Bagaimana jika produsen tidak bisa memberikan sertifikat halal sedangkan tidak ada supplier/pemasok lain? Satu-satunya cara adalah kita harus mengetahui bagaimana bahan baku tersebut diproses, mulai dari awal hingga menjadi bahan baku obat, dengan meminta dokumen yang disebut dengan DMF (Drug Master File). Dokumen ini sangat rahasia dan kita diminta untuk menanda-tangani surat perjanjian kerahasiaan dengan produsen untuk tidak membocorkan proses produksi tersebut. Nah dari dokumen DMF inilah kita bisa mengetahui bahan baku obat yang kita gunakan tersebut bersumber dari apa dan bagaimana prosesnya. Apakah pernah bersinggunggan dengan hewan yang di-haramkan apa tidak dan sebagainya. Badan POM juga akan meminta dan mensyaratkan dokumen DMF ini pada saat proses Registrasi obat di Badan POM. Saya kira SEMUA Apoteker yang bekerja di Industri Farmasi sangat paham akan hal ini. Apabila diketahui bahwa obat yang akan diregistrasikan tersebut mengandung bahan baku yang bersumber atau pernah bersinggungan dengan hewan babi, maka Badan POM akan meminta produsen mencantumkan “penandaan khusus” pada dus/kemasan obat tersebut. Sehingga masyarakat maupun petugas di lapangan bisa “aware” bahwa obat (termasuk vaksin) yang akan digunakan mengandung babi atau selama proses pembuatannya pernah bersinggungan dengan babi. Soal apakah si pasien mau menerima terapi dengan obat tersebut atau tidak, itu soal lain.

 

MENGAPA SULIT MENEMUKAN OBAT ATAU SUPLEMEN MAKANAN YANG BERLOGO “HALAL”?

Kasus ditemukannya fragmen DNA babi pada 2 produk food supplemen ini ternyata juga memicu kembali “polemik” soal penerapan UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang dalam beberapa tahun belakangan ini menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat. Hal ini tidak mengherankan karena UU ini sangat menyangkut soal keyakinan dan “hajat hidup” masyarakat banyak serta hampir mempengaruhi perputaran seluruh roda bisnis perekonomian di negeri ini. Tidak heran, setiap pembicaraan atau kasus – kasus yang menyangkut soal HALAL/HARAM suatu produk, akan memicu kontroversi dan perdebatan panjang di masyarakat. Setelah sekian lama dilaksanakannya UU ini, ternyata baru sangat sedikit sekali produsen obat maupun suplemen makanan yang mendaftarkan produknya untuk diserrifikasi Halal oleh LPPOM MUI. Hal ini memunculkan “tuduhan” bahwa industri farmasi “bandel” dan “resisten” terhadap kebijakan ini. Lalu bermunculan-lah “suara – suara sumbang” dari masyarakat terhadap industri farmasi. Sebelum kita menjatuhkan “vonis”, ada baiknya kita mengerti duduk permasalahan yang sebenarnya, mengapa sangat sedikit sekali produk obat atau suplemen makanan yang memiliki logo “Halal”. Dan juga alasan mengapa seorang (mantan) Menteri Kesehatan pernah membuat statemen bahwa tidak mungkin melakukan sertifikasi halal terhadap produk obat.  Hal ini penting agar kita bisa mengambil sikap yang tepat dan dapat menjelaskan secara gamblang dan “benar” kepada masyarakat. Terus terang saya melihat masih banyak kalangan masyarakat, bahkan di kalangan Apoteker sendiri, yang masih sangat kurang pemahamannya soal UU JPH ini dan penerapannya terhadap produk obat, suplemen makanan, Obat Tradisional maupun Kosmetika.

Seperti kita ketahui bahwa sesuai dengan Undang – undang No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) maka SEMUA PRODUK yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia WAJIB “bersertifikat Halal”. Produk yang dimaksud dalam Undang – Undang ini adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk produk yang diimport dari Luar Negeri. Sesuai dengan amanat UU tersebut, maka paling lama 5 tahun sejak diundangkan (UU JPH diundangkan pada tahun2014) yaitu pada tanggal 17 Oktober 2019, maka SELURUH produk yang beredar di Indonesia HARUS bersertifikat HALAL, termasuk produk OBAT dan Suplemen Makanan.

Tentu ini menjadi “tantangan” tersendiri bagi produsen obat/industri farmasi di Indonesia, mengingat lebih dari 95% bahan baku digunakan berasal dari import dimana soal HALAL-HARAM bagi negera-negara asal bahan baku tersebut bukan merupakan hal essensial. Belum lagi pasar farmasi di Indonesia yang relatif sangat kecil (hanya 0,5%) bila dibandingkan dengan pasar farmasi di seluruh dunia. Akan sangat sulit bagi industri farmasi di Indonesia untuk “memaksa” produsen bahan baku obat tersebut untuk melakukan sertifikasi halal untuk bahan bahan baku obat yang diproduksinya. Sertifikat halal bahan baku obat ini adalah salah satu syarat agar obat yang diproduksi memperoleh sertifikasi HALAL dari lembaga terkait. Tidak hanya Bahan Baku Aktif Obat (BBAO) tetapi juga semua bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong serta bahan pengemas primer juga HARUS bersertifkat halal dari produsennya.

Asal BAHAN juga memiliki kompleksitas tersendiri. Dari satu formula (resep) terdiri dari beberapa bahan (terkadang lebih dari 10 bahan baku yang digunakan). Masing – masing bahan baku terkadang dipasok dari beberapa pemasok yang juga punya beberapa pabrik. Agar bisa tersertifikasi HALAL maka SEMUA bahan yang berasal dari berbagai macam tempat tersebut HARUS bersertifikat halal dan bisa ditelusur serta masing – masing BAHAN harus terdaftar dan bisa diverifikasi.

 

obat halal1

obat halal2

Selain faktor bahan baku, hal lain yang menjadi “tantangan” terhadap pelaksanaan Sertifikasi Halal untuk produk obat ini adalah PROSESNYA. Baik proses produksi, lokasi produksi, pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan penjualan serta penyajiannya. Untuk proses produksi, penyimpanan, distribusi dan pemasaran harus dibuat TERPISAH antara bahan/produk yang sudah bersertifikat HALAL dan NON-HALAL. Jadi produsen/industri farmasi harus memiliki fasilitas khusus (dedicated), termasuk mesin, peralatan, fasilitas, dan lain-lain. Hal ini tentu akan menyulitkan bagi industri untuk bisa memenuhi persyaratan sertifikasi Halal tersebut.

Jadi ada 2 hal penting di sini, yaitu : (1) Bahan, termasuk bahan baku, bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong. (2). Proses-nya, baik proses produksi, lokasi produksi, pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan penjualan serta penyajiannya. Kedua hal tersebut harus memenuhi syarat syar’i agar bisa memperoleh sertifikat  HALAL.

obat halal3

 

Bisa dibayangkan bagaimana berat dan mahalnya proses sertifikasi halal tersebut. Sementara di lain pihak, saat ini Pemerintah sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan program obat murah lewat Program BPJS Kesehatan dengan tender obat melalui e-catalog yang mensyaratkan obat dengan harga semurah mungkin, tetapi tetap harus terjamin khasiat, keamanan dan kualitas obat. Tidak heran kalau kemudian Ketua LPPOM MUI sendiri mengakui bahwa mereka kesulitan melakukan sertifikat Halal untuk obat-obatan.

 

LPPOM obat sulit

Menurut data dari Badan POM, saat ini terdapat lebih dari 16.000 produk obat dan suplemen makanan yang beredar di masyarakat. Namun dari data LPPOM MUI, tidak lebih dari 100 item (< 0,6 %) obat dan suplemen makanan yang telah ber-sertifikat halal. Artinya masih ada lebih dari 99% produk obat dan suplemen makanan yang BELUM bersertifikat Halal. Tentu ini menjadi perhatian semua pihak untuk duduk bersama agar upaya perlindungan masyarakat melalui Undang – undang Jaminan Halal Produk bisa juga mencakup produk Obat dan Suplemen Makanan. Pemerintah dan regulator, dalam hal ini Departemen Agama, LPPOM MUI dan Badan POM tidak boleh menutup mata terhadap kondisi ini. Kasihan masyarakat yang saat ini kebingunan karena informasi yang disampaikan sangat tidak transparan dan cenderung saling lempar tanggung jawab antar lembaga.

 

BAGAIMANA MEMILIH PRODUK OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN YANG “TOYYIB” DAN “HALAL“?

Kembali kepada pertanyaan awal, bagaimana memilih produk obat dan suplemen makanan yang “aman”, di tengah minimnya informasi dan sangat sedikitnya jumlah obat/suplemen makanan yang bersertifikat halal?

Ada beberapa pedoman yang bisa kita gunakan untuk memilih produk, sebagai upaya “ijtihad” dalam memilih obat dan suplemen makanan yang “toyyib” dan “halal”.

Berikut adalah pertimbangan – pertimbangan yang harus diperhatikan dalam penentuan Obat dan Suplemen Makanan :

  1. Harus kita lihat dulu apakah obat dan suplemen makanan yang akan kita konsumsi tersebut bersifat keterpaksaan (al-dlarurat) apa tidak, yang apabila tidak dilakukan bisa membahayakan nyawa/jiwa manusia apa tidak? Tidak memang TIDAK dalam kondisi TERPAKSA maka pemberian obat dan atau suplemen makanan tersebut bisa dipikirkan ulang.
  2. Lakukan segala macam upaya untuk mencari dan atau mencari tahu apakah ada produk sejenis yang sudah berlabel Halal apa tidak? Jika ternyata sudah ada produk Obat atau suplemen makanan yang sudah bersertifikat Halal, tentu lebih memilih yang sudah bersertifikat/logo Halal. Bahkan saat ini pun sudah ada beberapa VAKSIN yang dinyatakan “HALAL” oleh LPPOM MUI.
  3. Cari rekomendasi dari tenaga ahli terkait, tentang status ke-halal-an produk tersebut. Apoteker yang berpengalaman pasti akan tahu mana-mana obat atau suplemen makanan “kritis” yang sumber bahan baku obat tadi “kemungkinan” berasal dari babi atau dalam prosesnya bersinggunggan dengan babi atau tidak. Tidak semua bahan baku obat bersifat “kritis”, hanya bahan baku obat “tertentu” saja yang dalam proses pembuatannya bersumber dari babi atau bersinggungan dengan babi (lihat tabel di atas).

MUI meningitis halal

 

Badan POM sendiri, dalam rangka untuk memberikan perlindungan kepada masyaraat dari  produk obat, obat tradisional, kosmetik, suplemen makanan dan makanan yang bersumber, mengandung atau berasal dari bahan tertentu yang secara syariah mengandung unsur bahan tidak halal dan tidak lazim digunakan oleh masyararakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, jauh – jauh hari telah mengeluarkan Peraturan Kepada Badan POM  NOMOR HK.00.05.1.23.3516 tahun 2009 mengenai Izin Edar produk obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Suplemen Makanan,  dan Makanan yang bersumber, mengandung  dari bahan tertentu dan atau mengandung Alkohol

Dalam peraturan tersebut, baik Produk Obat atau Suplemen Makanan yang bersumber atau mengandung bahan – bahan berikut :

  1. Babi, anjing dan anak yang lahir dari perkawinan keduanya
  2. Bangkai, termasuk binatang mati tanpa disembelih menurut cara penyembelihan Islam, kecuali ikan dan belalang;
  3. Tiap binatang yang dipandang dan dirasa menjijikan menurut fitrah manusia untuk memakannya seperti cacing, kutu, lintah, dan sebangsa itu;
  4. Setiap binatang yang mempunyai taring;
  5. Setiap binatang yang memunyai kuku pencakar yang memakan mangsanya secara menerkam atau menyambar;
  6. Binatang-binatang yang dilarang oleh Islam membunuhnya, seperti lebah,burung Hud-hud, kodok, dan semut;
  7. Daging yang dipotong dari binatang halal padahal binatang tersebut masih hidup;
  8. Setiap binatang yang beracun dan memudharatkan apabila dimakan;
  9. Setiap binatang yang hidup di dua alam seperti kura-kura, buaya, biawak, dan sebagainya; dan
  10. Darah, urin, feses, dan plasenta.

harus diberikan “Penandaan Khusus” dan untuk mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) diperlukan persyaratan khusus.

obat bahan ttt

 

 

OT, Kos &amp; SUP

 

MakMin

 

Implementasi di lapangan :

penandaan 1

 

 

penandaan 2

PERHATIAN :

Bagi Apoteker yang berada di “garda terdepan” dalam hal pelayanan kefarmasian, harus  “aware” terhadap PENANDAAN TERTENTU ini. Komunikasikan dengan Dokter (atau tenaga kesehatan lain) dan pihak pasien agar memahami tentang terapi yang diberikan. Dengan penjelasan yang tepat dan benar, informasi tersebut akan sangat berguna, baik bagi dokter maupun untuk si pasien.

 

FATWA MUI TENTANG OBAT DAN PENGOBATAN

Mengenai soal Obat dan Pengobatan yang menggunaakan obat dan atau suplemen makanan yang bersumber atau mengandung bahan tertentu tersebut, MUI telah mengeluarkan FATWA sebagai berikut:

Fatwa MUI obat

Produk – produk BIOTEK, termasuk Vaksin, dll. :

MUI biotek

 

Sedangkan untuk Alkohol :

MUI alkohol

 

Dengan berbagai keterangan ini, mudah – mudahan masyarakat semakin paham, tidak perlu panik bahkan paranoid. “TIDAK ADA SERTIFIKAT/LOGO HALAL BELUM TENTU HARAM“. Tanyakan kepada Apoteker Anda jika memerlukan keterangan yang lebih lengkap. Saya berharap para Apoteker yang berada di garda terdepan dalam pelayanan kepada masyarakat, agar memberikan informasi yang komprehensif, jelas, dan tuntas sehingga masyarakat dapat menentukan pilahan terapi yang dilakukannya dengan tepat dan sesuai dengan keyakinannya masing – masing.

 

penjaminan mutu

 

Semoga bermanfaat…

Iklan

Kisah Perjalanan Industri Farmasi Dunia

Tulisan ini merupakan “kompilasi” dari tulisan – tulisan di laman facebook saya. Agar tidak hilang, saya coba untuk membuat satu halaman khusus. Semoga bermanfaat…

.

.

 

E. Merck KGaA : Kisah keluarga Merck Membangun “Kerajaan” Farmasi Dunia

 

e_merck

 

Tidak banyak industri farmasi di seluruh dunia ini yang sampai saat ini masih dimiliki oleh keluarga pendirinya. Salah satu di antara yang sedikit itu – yang paling fenomenal – adalah MERCK. Kerajaan bisnis keluarga ini pertama kali didirikan oleh Friedrich Jacob Merck pada tahun 1668 di sebuah kota kecil dekat Frankfurt, Darmstadt.
Friedrich Jacob Merck – seorang Apoteker lulusan Schweinfurt, Germany dan Viena, mulai membangun kerajaan bisnisnya dengan membeli sebuah apotek di kota Darmstadt, “Engel Apotheke” hampir 350 tahun yang lalu. Inilah tonggak sejarah lahirnya sebuah “kerajaan” bisnis farmasi yang saat ini ada di 70 negara di seluruh dunia dengan pendapatan lebih dari € 12 millar atau lebih dari 174 trilyun rupiah. Merck adalah merupakan SATU-SATUNYA industri farmasi dan kimia TERTUA di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Semuanya berawal dari sebuah Apotek sederhana di sebuah kota kecil, Darmstadt. Apotek ini masih ada sampai sekarang dan masih tetap dimiliki oleh keluarga Merck selama 6 generasi.. Woww..
Friedrich Jacob Merck meninggal dunia pada tahun 1678, tanpa meninggalkan keturunan. Pengelolaan Engel Apotheke diteruskan oleh keponakannya yang juga seorang Apoteker yaitu Georg Friedrich Merck. Pada tahun 1708, Georg Friedrich Merck mulai membuat sendiri obat-obat kimia sederhana yang sebelumnya hanya berasal dari tanaman atau binatang sesuai buku text saat itu yaitu “Materia Medica”. Georg Friedrich Merck meninggal pada tahun 1715. Engel Apotheke selanjutnya dikelola oleh Johan Franz Merck hingga tahun 1741 yang banyak memberikan kontribusi pada kemajuan bidang farmasi. Salah satu penemuan yang paling kontroversial pada masa itu adalah Arsenik yang ditemukan pada tahun 1720.
Pada tahun 1741 – 1782, pengelolaan Engel Apotheke dipegang oleh Johann Justus Merck, Apoteker generasi keempat dari keluarga Merck. Inilah periode tersulit dalam perjalanan bisnis keluarga Merck. Pada tahun 1758, Johann Justus Merck dan istrinya Anna Sophie meninggal dunia, sementara putra mereka, Johann Anton Merck baru berusia 10 tahun. Atas kebijaksanaan Raja Ludwig VII, Engel Apotheke masih bisa beroperasi dengan sistem perwalian negara. Pada tahun 1782, Johann Anton Merck lulus dan disumpah sebagai apoteker dari Universitas Strasbourg dan melanjutkan bisnis yang dibangun oleh eyang buyutnya..
Pada tahun 1816, Emanuel Merck meneruskan dinasti keluarga Merck. Pada saat itu, untuk pertama kalinya ditemukan bahan obat yang disintesis dari bahan alam yaitu Morphine oleh Friedrich Serturner. Dan Morphine buatan Merck diakui sebagai yang TERBAIK. Kualitas Morphine buatan Merck ini diakui oleh ilmuwan terkemuka saat itu, Karl Friedrich Mohr, Profesor Farmasi dari Berlin, penemu gugus kimia Mohr dan menulisnya di Prussian Pharmacopeia tahun 1849. Selain itu, beberapa alkaloid lain juga berhasil disintesis oleh E. Merck, antara lain Cocain pada tahun 1862. Emanuel Merck memberikan garansi kualitas produk2nya dalam sebuah tulisan tangan bahwa ia akan mengganti apapun kerugian yg dialami oleh konsumennya jika bahan kimia yg diproduksinya tidak murni. Surat garansi yang masih tersimpan rapi hingga saat ini di Museum Farmasi di Heidelberg castle.
Pada tahun 1872, untuk pertama kali E. Merck membangun sebuah pabrik bahan farmasi di pinggiran kota Darmstadt. Pabrik Farmasi pertama yang masih beroperasi hingga saat ini. Nama E. Merck selanjutnya digunakan sebagai nama perusahaan keluarga Merck hingga saat ini. Bersama ketiga putranya, Wilhelm Merck, Georg Merck dan Carl Merck. Mulailah sayap kerjaan bisnis keluarga Merck mengembang ke segala penjuru dunia. Tahun 1840 mereka membuka kantor di London, Inggris. Mereka juga mempunyai gudang persediaan di Budapest, Paris, Brussels, Vienna dan Stockholm. Tahun 1879 mereka membuka kantor di Sydney, Australia. Selanjutnya, pada tahun 1898 mereka membuka kantor perwakilan di Moskow, Rusia.
Pada tahun 1891, Georg Merck dipercaya oleh ayahnya untuk membuka kantor E. Merck di New York, Amerika Serikat. Setelah Perang Dunia I, Merck di Amerika Serikat ini kemudian diambil alih dan dinasionalisasi oleh Pemerintah Federal Amerika pada tahun 1917. Kantor E. Merck inilah cikal bakal dari Merck, Sharp & Dohme (MSD) dan berhak menggunakan nama “Merck” di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan di luar kawasan itu, nama “Merck” tetap menjadi milik keluarga Merck.
Perang Dunia kedua, meluluh-lantakkan semua bangunan pabrik mereka di Darmstadt. Hampir 1.000 pekerja mereka menjadi korban perang. Pada bulan Maret 1945, tentara sekutu menduduki pabrik ini. Mesin – mesin produksi yang menghasilkan puluhan jenis obat2an hancur berantakan. Tahun2 berikutnya adalah masa-masa sulit bagi keluarga ini. Membangun kembali perusahaan mereka yang porak -poranda. Dengan susah payah mereka membangun kembali “kerajaan” bisnis mereka. Perlahan namun pasti, satu persatu mereka mulai membuka kembali kantor2 mereka di segala penjuru dunia. Program Marshall Plan, membantu keluarga ini bangkit kembali dari keterpurukan akibat perang. Pada tahun 1947, mereka sudah mulai mengexport obat2an ke Spanyol dan negara2 Amerika Latin. Bahkan pada tahun 1949, untuk pertama kali mereka berhasil membuat obat jantung yang pertama, Digitoxin.
Tahun 2006, perusahaan ini mengakuisisi SERONO, selanjutnya tahun 2010 mengambil alih perusahaan diagnostik terkemuka Millipore corp. Tahun 2013, mengakuisisi AZ Electronic Material dan tahun 2014 Merck mengambil alih Sigma-Aldrich yang menjadikan Merck salah satu perusahaa raksasa farmasi, kimia dan diagnostik dunia..
Hingga saat ini, keluarga Merck masih memegang 70% saham perusahaan, yang merupakan SATU-SATUNYA perusahaan Farmasi dan Kimia TERTUA yang masih bertahan dan beroperasi hingga saat ini..
Sungguh sebuah kisah bisnis yang sangat luar biasa.. Sebuah kerajaan bisnis yang dimulai dari sebuah Apotek di sebuah kota kecil, Darmstadt.
Sungguh sangat beruntung saya pernah menjadi bagian dari perusahaan ini. Meski hanya sekejab namun filosofi perusahaan ini sangat mempengaruhi perjalanan karier saya..
Thanks to Merck.. thanks for everything..
 .
.
Pfizer & Co. : Kisah Duo Imigran membangun Imperium Bisnis dari Uang Pinjaman.
  pfizer
Berbekal uang pinjaman dari sang ayah sebesar $2.500, seorang anak muda berusia 20 tahun-an yang berasal dari kota Ludwigsburg, sebuah kota kecil dekat Stuttgart – Germany, nekat mengarungi Samudra Atlantik menyongsong “dunia baru”, Amerika Serikat. Charles Pfizer nama si pemuda nekat tersebut. Berbekal uang pinjaman dari ayahnya dan keahliannya di bidang farmasi dan kimia, pemuda yang terlahir dengan nama Karl Pfizer tersebut menyewa sebuah gedung di Harrison Avenue di kota New York pada tahun 1849. Bersama dengan saudara sepupunya, Charles F. Erhart, yang mempunyai keahlian membuat permen dan mencampur berbagai macam bahan kimia. Tahun 1849 itulah kedua bersaudara tersebut mulai menuliskan sejarah panjang sebuah kerajaan bisnis farmasi yang nantinya menjelma menjadi industri farmasi TERBESAR di seluruh dunia, Pfizer & Co.
Kisah sukses Pfizer diawali oleh Santonin sebuah produk Obat Cacing yang secara unik diracik oleh Charles Erhart dengan berbagai rasa yang unik dalam bentuk permen yang menarik. Obat ini mendapat sambutan yang luar biasa dari penduduk New York. Produk inilah yang menjadi cikal bakal dari ratusan bahkan ribuan produk yang dihasilkan bertahun – tahun kemudian..
Pfizer & Co. berkembang pesat tatkala terjadi perang saudara (civil war) di Amerika Serikat tahun 1861 – 1865. Obat2 penghilang rasa sakit (painkiller), pengawet, dan obat2 antiinfeksi sangat diperlukan pada masa itu. Pfizer & Co. berhasil mengembangkan produk asam tartat yang digunakan untuk laxative dan pendingin kulit serta krim tartat untuk deuretic dan bahan pembersih.
Pada tahun 1880, Pfizer & Co berhasil memproduksi Citric Acid (Asam Sitrat) menggunakan konsentrat lemon dan jeruk nipis. Segera mereka menjadi produsen utama asam sitrat di Amerika Serikat. Penemuan ini menjadikan Pfizer & Co makin berkembang pesat dan mulai memodernisasi pabrik mereka dan merekrut banyak pekerja. Sampai dengan tahun 1882 mereka suda membuka kantor cabang di Missisippi, Chicago, Illinois dan hampir di seluruh penjuru Amerika Serikat. Pada tahun 1906 penjualan mereka sudah mencapai $ 3,4 juta… Semuanya berawal dari uang pinjaman $2.500.. Woww..!!!
Pada tahun 1891, co-founder Charles Erhart meninggal dunia. Meninggalkan partnership senilai $250.000 kepada anaknya, William Erhart. Namun sesuai perjanjian, bahwa barang siapa yang meninggal terlebih dahulu maka ia berhak membeli dengan harga setengah dari nilai partnership tersebut. Akhirnya, Charles Pfizer membeli seluruh saham dari Erhart dan mengangkat William Erhart sebagai Vice President hingga meninggal dunia tahun 1940.
Pada tahun 1900, Pfizer berubah dari perusahaan keluarga menjadi perseroan dengan menerbitkan 20.000 senilai $100 perlembar saham.
Pada tahun 1906, Charles Pfizer meninggal dunia dalam usia 82 tahun. Emile Pfizer, putra bungsu Charles Pfizer diangkat sebagai President dan CEO hingga tahun 1941. Dia adalah anggota keluarga Pfizer terakhir yang terlibat dalam pengelolaan perusahaan.
Hingga tahun 1942, Pfizer & Co tetap menjadi perusahaan privat dan dimiliki sepenuhnya oleh keluarga Pfizer. Namun pada bulan Mei 1942, untuk pertama kalinya, mereka menjual 240.000 saham baru kepada publik. Mulailah era baru dalam perjalanan perusahaan ini. Keluarga Pfizer tidak lagi terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan sepenuhnya dijalankan oleh eksekutif yang diangkat oleh para pemegang saham.
Pada tahun 1944 Pfizer sukses membuat Penisillin dalam skala massal dan dinobatkan sebagai produsen penisilin terbesar di dunia. Tahun 1950 mereka berhasil menemukan Oxytetracycline sebuah antibiotik spektrum luas pertama saat itu. Mulai tahun 1951 mereka mulai merambah ke berbagai penjuru dunia. Mereka membuka kantor cabang di Belgia, Canada, Cuba, Inggris, Mexico dan lain-lain. Pada tahun 1958 mereka membangun pabrik di Mexico, Italy dan Turki.
Tahun 1976 mereka untuk pertama kali menemukan obat tekanan darah tinggi, Minipress (Prazosin HCl). Tahun 1980 meluncurkan Feldene (Piroxicam) sebagai obat anti inflamasi paling laris pada masa itu dan terjual lebih dari $ 1 milyar di AS. Tahun 1984, mereka menemukan obat diabetes pertama, Glipizide.
Tahun-tahun berikutnya berbagai macam obat blockbuster terus memenuhi pundi2 perusahaan ini. Norvasc, Zoloft, Lipitor, Viagra adalah merek2 dagang yang mendatangkan uanh milyaran dollar ke rekening mereka..
Tahun 2000, untuk memperbesar bisnis mereka merger dengan Warner-Lambert, kemudian dengan Pharmacia (2003) dan Wyeth (2009). Hasil merger ini membuat Pfizer menjadi raksasa farmasi dunia dan menjadi headline di seluruh dunia yang mengawali megatrend saat itu, merger dan akuisisi. Tahun 2015, Pfizer mengakuisisi HOSPIRA senilai $15,2 miliar yang merupakan rekor transaksi terbesar hingga saat ini. Hingga tahun 2015, total penjualan Pfizer di seluruh dunia mencapai $48,85 miliar atau sekitar Rp660.000.000.000.0000 (baca: 600 trilyun rupiah).. Wowww… Dan semuanya berawal dari seorang pemuda yang nekat menyebrangi samudra Atlantik berbekal uang pinjaman sebesar $2.5000 sahaja…
.
.
Eli Lilly & Co. : Kolonel Veteran Perang, Pioneer Industri Farmasi Modern
lelly
Penderita diabetes mellitus di seluruh dunia, selayaknya berterima kasih kepada mantan Kolonel yang lahir 8 Juli 1838 di Baltimore, Maryland Amerika Serikat ini. Oleh karena lewat industri farmasi yang didirikannya pada tahun 1876 inilah untuk pertama kali insulin dibuat secara massal dan dipasarkan secara luas pada tahun 1923. Insulin, pertama kali diisolasi dari pankreas babi kemudian dimurnikan dan diproses secara aseptis sehingga bisa disuntikan langsung kepada penderita. Diperlukan tidak kurang dari 100 pankreas babi untuk memproduksi insulin bagi penderita diabetes selama 1 tahun penuh. Perusahaan ini pula yang, 60 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1982, untuk pertama kali berhasil membuat sintesa insulin dari bakteri Escherechia coli dengan menggunakan bioteknologi. Teknologi ini “menyelamatkan” tidak kurang 20 juta nyawa babi tiap tahunnya yang akan diambil pankreasnya untuk bisa memenuhi kebutuhan sekitar 200 juta penderita diabetes di seluruh dunia. Dialah Eli Lilly.
Eli Lilly, seorang Apoteker lulusan Indiana Asburn University yang juga mantan kolonel dalam perang civil, memulai tonggak sejarah industri farmasi dari sebuah gudang sewaan usang pada tahun 1876. Karyawannya hanya 3 orang, 1 orang pengaduk, 1 orang tukang kemas serta anak laki-laki satu-satunya setelah pulang sekolah, Josiah K. Lilly, Sr. (sering dipanggil J.K.) yang saat itu baru berusia 14 tahun…
Inovasi Eli Lilly yang pertama adalah capsule gelatine dan pil salut gelatine. Inovasi lainnya adalah sirup obat dengan rasa aneka buah dan pil salut gula yang merupakan sediaan – sediaan obat PERTAMA di dunia pada saat itu. Tatkala perusahaan farmasi lain masih secara tradisional menggunakan bentuk sediaan yang sederhana seperti tablet maupun serbuk, Eli Lilly & Co sudah melangkah jauh melampaui jamannya. Tidak heran, obat – obat produksi Eli Lilly & Co amat laris di pasaran. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam waktu 3 tahun perusahaan ini sudah mencatatkan penjualan mencapai $ 48.000 (nilai sekarang sekitar $ 1.221.086 atau sekitar 16,5 milyar rupiah lebih). Padahal saat awal membuka pabrik, Eli Lilly hanya punya modal $1.400. Pada akhir tahun 1880, perusahaan ini telah memiliki lebih dari 100 karyawan dengan pendapatan lebih dari $200.000 atau sekitar $5.276.296 nilai sekarang.. Wowww..
J.K. kemudian mengikuti jejak ayahnya, kuliah farmasi di Philadelphia College of Pharmacy & Science dan lulus sebagai apoteker tahun 1882. J.K. kemudian bergabung dengan ayahnya, dan menjadi kepala research di perusahaan yang dibangun ayahnya dan menjadi Presiden Direktur pada tahun 1898. Kolonel Eli Lelly menyerahkan sepenuhnya tongkat perusahaan ke tangan anaknya dan mulai kegiatan sosial terutama membantu kolega2nya sesama vetera perang.
Tahun 1894, Eli Lelly mulai memodernisasi pabriknya dengan membangun pabrik cangkang kapsul sendiri secara modern yang dapat memproduksi puluhan ton kapsul kosong yang menjadikan Eli Lelly industri farmasi paling modern di antara industri farmasi lainnya. Kedua putra J.K., yaitu Eli Lelly Jr. dan Josiah Jr. kemudian juga ikut bergabung dengan perusahaan yang didirikan kakeknya. Eli Lelly Jr. menamatkan pendidikan farmasi di tempat yang sama dengan ayahnya, Philadelphia college of pharmacy and science tahun 1907; sedangkan sang adik, Josiah K. Lilly Jr. alumnus dari University of Michigan’s School of Pharmacy tahun 1914.
Eli Lelly meninggal dunia pada tahun 1898, saat itu perusahaan yang dirintisnya telah memproduksi tidak kurang dari 2.000 item obat dengan penjualan lebih dari $300.000. Semuanya berawal dari sebuah gudang tua sewaan di tengah kota Indiana, Amerika Serikat. Tidak pelak, Eli Lilly merupakan pioner industri farmasi modern dan meletakkan dasar – dasar manajemen perusahaan yang kuat, sistem dokumentasi produksi yang tercatat rapi, flow of process bagus di mana pintu masuk bahan baku dan pintu keluar finished good terpisah, konsep straight-line produksi untuk menghindarkan terjadinya mix-up, semua sudah dipraktekkan oleh perusahaan ini, lebih dari 100 tahun lalu. Praktek manajemen produksi yang baik ini pun didukung oleh bagian research yang kokoh. Bahkan salah seorang sejahrawan dari Michigan University menulis, “It was probably the most sophisticated production system in the American pharmaceutical industry”. Tidak heran, memasuki abad ke 20, penjualan perusahaan ini sudah mencapai $1 juta.. Sungguh luar biasa..
J.K. menjadi presiden direktur Eli Elly & Co. hingga tahun 1932. Pada masanya inilah insulin diproduksi secara massal di pabriknya dengan merk dagang “Iletin”. J.K. mengundurkan diri dari perusahaan pada tahun 1932 dan menghabiskan masa tuanya dengan berbagai aktifitas sosial. Beliau meninggal pada tahun 1948 pada usia 86 tahun dan dimakamkan di Indianapolis. Sebelumnya, pada tahun 1937, J.K. mendirikan yayasan Lilly Endowment yang nantinya akan memegang peranan penting setelah keluarga Eli Lelly tidak lagi memegang kendali perusahaan.
Sepeninggal J.K. kendali perusahaan dikelola oleh Eli Lelly Jr. anak tertua J.K. hingga tahun 1961 sebagai Ketua. Sedangkan adiknya, J.K. Lilly Jr. sebagai Presiden Direktur. Eli Lelly jr. meninggal tahun 1977 pada usia 91 tanpa meninggalkan keturunan dan dimakamkan di samping istrinya di Crown Hill, Indianapolis. Seluruh harta kekayaannya yang mencapai $165,7 juta atau sekitar Rp. 2.200 trilyun disumbangkan ke berbagai lembaga kemanusiaan, sesuai dengan surat wasiat yang ditinggalkannya.
Josiah Kirby “Joe” Lilly Jr., sang adik, tetap menjadi presiden direktur hingga tahun 1953. Selanjutnya pengelolaan perusahaan, untuk pertama kalinya diserahkan kepada orang di luar keluarga Eli Lelly. Beliau tetap menjabat sebagai Chairman hingga wafat pada tahun 1966. Anak Lilly, Ruth dan Josiah III mengikuti jejak ayahnya sebagai filantropis dan mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Sampai saat ini keluarga Eli Lelly masih memiliki sekitar 12 persen saham perusahaan yang nilainya tidak kurang dari $35.57 miliar atau sekitar 480 trilyun rupiah..
Pada tahun 1971, Eli Lelly membeli perusahaan kosmetik Elizabeth Arden Inc. senilai $ 38 juta. Tahun 2007 mengakuisisi Icos corporation dan memproduksi obat yang sangat legendaris, Cialis untuk disfungsi ereksi. Selanjutnya tahun 2008 mengakuisisi ImClone System serta berkolaborasi dengan Boehringer Ingelheim memproduksi insulin analog dan anti diabetic oral. Hingga tahun 2015, 141 tahun sejak didirikan, Eli Lelly mencatatkan penjualan $2,41 miliar dengn jumlah karyawan lebih dari 41.000 orang, membuka cabang di 18 negara dan produk2nya tersebar di 125 negara di seluruh dunia. Semuanya berawal dari sebuah gudang sewaan yang dibangun oleh seorang Apoteker yang juga seorang Kolonel veteran perang, yang sangat visioner, ulet dan tentu saja, luar biasa…
 .
.
Bayer AG: Dari Limbah tak Berharga Menjadi “Raksasa” Kimia dan Farmasi Dunia
bayer1
Meskipun bukan yang pertama, namun Bayer AG dianggap sebagai “pembuka” era baru dalam tonggak sejarah industri farmasi di dunia. Perusahaan inilah yang untuk PERTAMA kali, membuat obat yang DISINTESA dari bahan kimia murni bukan dari bahan alam, sehingga “kelahirannya” dianggap sebagai “milestone” dalam sejarah perkembangan industri farmasi dunia. Namun siapa sangka, sintesis obat secara kimia PERTAMA yang dihasilkan oleh perusahaan yang berkantor pusat di Leverkusen, Jerman ini ternyata hasil “kejeniusan” seorang ahli kimia memanfaatkan limbah yang semula tidak ada harganya sama sekali.
Bayer AG, didirikan pertama kali pada tahun 1863 oleh Friedrich Bayer, seorang ahli dalam bidang pewarna (dye) bersama rekannya, Friedrich Weskott di Barmen, Jerman. Bayer muda dibesarkan oleh keluarga yang secara turun-temurun berkecimpung dalam bisnis kain dan pewarna. Kakeknya memiliki pabrik memintalan kain di Elberfeld, Jerman; sedangkan ayahnya memiliki pemintalan benang sutera. Bayer muda belajar kimia dan sangat menguasai bahan2 pewarna yang sangat dekat hubungannya dengan bidang bisnis kakek dan ayahnya. Sementara Friedrich Weskott berasal dari keluarga petani dan memiliki sebuah pabrik pewarnaan benang. Tepat pada tanggal 1 Agustus 1863, kantor “Friedr. Bayer et Comp.” sebagai cikal bakal Bayer AG resmi dibuka di Rittershause, Barmen dengan hanya memiliki 1 orang pegawai – Daniel Preiss – yang kemudian bekerja selama 40 tahun dan ikut menjadi saksi sejarah bagaimana Bayer AG tumbuh dan berkembang, yang bahkan sang pendirinya sendiri tidak sempat melihat transformasi perusahaan ini.
Pelan namun pasti, Friedr. Bayer et Comp., tumbuh dan berkembang. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Fuchsine pewarna textile yang tahan terhadap asam. Hingga tahun 1877 perusahaan ini sudah membukukan asset sebesar 5,4 juta mark, memiliki 4 pabrik yang memproduksi berbagai macam pewarna tekstile antara lain fuchsine, aniline, alizarin dan Azo. Mereka juga membuka pabrik di Lille, Perancis dan di Moskow, Rusia. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, Friedr. Bayer et Comp. sudah memiliki lebih dari 200 pekerja dan memproduksi lebih dari 100 jenis pewarna serta menjadi perusahaan pewarna terkemuka di Jerman..
Di tengah perkembangan perusahaan yg sedemikian pesat, pada tahun 1880, sang pendiri – Friedrich Bayer – meninggal dunia pada usia 54 tahun, berselang 4 tahun dari partnernya, Friedrich Weskott yang meninggal dunia dalam usia 55 tahun. Sebelumnya, tongkat kendali perusahaan diserahkan kepada sebuah dewan yang terdiri dari Julie (istri Friedrich Bayer Sr.), Friedrich Bayer Jr. (anak Friedrich Bayer Sr.), Carl Rumff (anak menantu), Friedrich Weskott jr. (anak Friedrich weskott sr.), August Siller (menantu Friedrich Weskott sr.) dan Eduart Tust sebagai satu2nya yang bukan anggota keluarga pendiri. Nama perusahaan pun diubah menjadi “Farbenfabriken Vorm. Friedr. Bayer & Co.” dan menjual sebagaian saham di Pasar Saham Dusseldorf. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham pertama Carl Rumff, August Siller dan Eduard Tust terpilih sebagai Dewan Komisaris, sedangkan Friedrich Bayer Jr. dan Friedrich Weskott jr. terpilih sebagai Direktur perusahaan.
“Arah angin” perusahaan ini mulai berubah haluan tatkala pada tahun 1883, Carl Rumff merekrut seorang anak muda berusia 23 tahun yang sangat terobsesi dengan kimia, Carl Duisberg, sebagai tenaga ahli kimia dan mengepalai divisi riset perusahaan ini. Pada musim panas tahun 1886, Carl Duisberg melihat tumpukan ratusan drum berisi para-nitrophenol yang teronggok begitu saja di halaman belakang pabrik yang memproduksi Benzoazurine. Tidak kurang dari 30.000 kg para-nitrophenol ini merupakan limbah hasil samping dari proses produksi Benzoazurine. Berkat “kejelian” dan “kejeniusan” Carl Duisberg, limbah tak berharga ini kemudian diolah menjadi p-acetophenetidine yang mirip dengan acetanilide yang saat itu digunakan sebagai obat turun panas (antipyretic). Oleh Carl Duisberg, p-acetophenetidine ini diberi nama Phenacetin. Dari hasil uji pharmakologi ternyata Phenacetin memiliki khasiat antipyretic yang jauh lebih kuat dan jauh lebih stabil serta efek samping yang jauh lebih rendah dibanding Acetanilide. Dan tiba – tiba saja, perusahaan yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi pewarna tekstil, berubah haluan menjadi pabrik obat dengan produk andalan Phenacetin yang diperoleh dari limbah pabrik yang semula tidak ada harganya sama sekali… Dan penemuan Phenacetin ini memperoleh moment yang pas, karena pada saat itu terjadi epidemi flu di Eropa dan Amerika Serikat menjadikan produk ini amat laris di pasaran. Kejeniusan Carl Duisberg akhirnya membawanya ke puncak pimpinan perusahaan. Dia menjadi CEO Bayer & Co. pada tahun 1900. Di tangannya berbagai obat2an berhasil disintesis dan banyak di antaranya yang kemudian menjadi “legendaris”, antara lain yang kemudian dinobatkan menjadi “Obat Sepanjang Masa”, Aspirin.
Penemuan Phenacetin membuka babak baru dalam perjalanan perusahaan ini. Divisi pewarna juga masih terus berkembang dengan menghasilkan berbagai varian product. Divisi Pharmaceutical, di bawah supervisi khusus dari Carl Duisberg, terus melakukan inovasi – inovasi baru. Beberapa obat baru juga kemudian ditemukan dan laris di pasaran, di antaranya: Sulfonal yang disintesa dari diethylmercaptodimethylmethane. Setelahnya ditemukan pula Trional sebagai obat penenang, hasil pengembangan dari Sulfonal. Obat lain yang dikembangkan adalah Piperazine untuk obat cacing. Pada tahun 1894, Bayer meluncurkan produk Tannigen yang sangat efektif mengatasi diare. Lambat laun, Bayer kemudian dikenal sebagai “drug manufacturer” dibanding dengan produsen pewarna. Bahkan pada saat pergantian abad, nama Bayer identik dengan “obat”..
Pada tahun 1894, atas rekomendasi dari seorang ilmuwan peraih hadiah nobel, Prof. Adolf van Baeyer, seorang anak muda brilian yang berasal dari Ludwigsburg, Negara Bagian Baden-Wurttemberg, bergabung dengan Bayer sebagai peneliti. Anak muda yang meraih gelar apoteker dan kimia dari Ludwig Maximillian University di Munich dengan gelar Magna Cum Laude serta meraih gelar Doktor hanya dalam waktu 2 tahun, juga dengan gelar Magna Cum Laude, inilah yang nantinya membawa kejayaan bagi Bayer. Pemuda brilian, pemalu dan pendiam ini bernama Felix Hoffmann.
bayer2
Pada tanggal 10 Agustus 1897, Felix Hoffman berhasil mensintesa Acetylsalicylic Acid (ASA) dengan proses asetilisasi asam salisilat menggunakan asam asetat. Sebuah penemuan yang sangat luar biasa, mengingat sudah sekian lama ilmuwan berusaha mensintesa ASA dengan berbagai macam metode namun belum pernah ada yang berhasil. Namun, Felix Hoffmann, pemuda brilian ini berhasil mensintesa ASA dalam bentuk bahan kimia yang murni dan sangat stabil. Bayer, selanjutnya bergerak cepat dengan mendaftarkan Patent dari produk ini, yang kemudian di-setujui pada tahun 1899, dengan nama yang kemudian menjadi legenda: ASPIRIN, yang berasal dari bahasa jerman yang artinya “sebuah asam yang secara kimia identik dengan asam salisilat”. Huruf “A” = acetyl, “- SPIR dari kata Spirsäure = (seperti) asam salisilat, “-IN = obat.
Ada cerita menarik di balik penemuan Aspirin ini. Pada waktu itu, ada 8 ahli kimia dan ahli farmakologi yang bekerja di Divisi Riset Bayer di Elberfeld. Salah seorang diantara mereka adalah si jenius Felix Hoffmann. Sebenarnya, Bayer tidak secara khusus mengembangkan obat anti rematik. Namun, Felix Hoffman yang mempunyai ayah yang menderita penyakit rematik berkepanjangan, yang sangat menderita dengan obat asam salisilat yang membuat mual dan rasanya sangat pahit, secara diam2 mengembangkan obat anti rematik yang lebih stabil, rasa lebih bisa enak dengan efek samping yang lebih kecil. Akhirnya, obat yang sebenarnya “tidak direncanakan” ini berhasil ditemukan dan sukses besar di pasaran. Sampai dengan tahun 2011 obat ini sudah diproduksi sebanyak 40.000 ton pertahun. Di Amerika serikat saja, obat ini diproduksi hampir mencapai 20 milyar tablet pertahun.. Tidak mengherankan obat ini dinobatkan sebagai “Obat Sepanjang Masa”. Padahal obat ini sebenarnya tidak direncanakan, namun lebih karena cinta kasih seorang anak untuk meringankan beban sakit dari si ayah yang dicintainya… (Hiks.. ambil tissue…).
Setelah meluncurkan “si fenomenal” Aspirin, masih banyak lagi obat2 legendaris yang dihasilkan oleh Bayer & Co, di antaranya Heroin (diacethylmorphine) yang juga berhasil disintesis oleh Felix Hoffmann sebagai obat batuk (sekarang tergolong narkotika kelas wahid), Veronal (diethylbarbituic acid) sebagai obat hipnotic, kemudian Phenobarbital (1912) sebagai obat anti-epilepsi yang hingga saat ini masih masuk dalam daftar obat esensial dari WHO. Bayangkan obat yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, namun masih menjadi obat pilihan Badan Kesehatan Dunia… Luar biasa…
Pada tahun 1916, ilmuwan2 Bayer menemukan SURAMIN, sebuah senyawa yang berkhasiat sebagai anti-biotik/anti parasit PERTAMA yang berhasil disintesis secara kimia. Penemuan ini membuka jalan bagi penemuan senyawa antibiotik lain yang lebih poten dan lebih sedikit efek samping yang ditimbulkannya, yaitu Sulfonamide yang ditemukan oleh peneliti Bayer yang lain, Gerhard Domagk. Penemuan Sulfonamide ini kemudian membuka “era baru” dalam dunia pengobatan sehingga Domagk kemudian dianugerahi hadiah Nobel bidang kesehatan tahun 1939.
Perang Dunia II, meluluh-lantakkan pabrik Bayer di Leverkusen. Diperlukan waktu 6 tahun untuk membangun kembali fasilitas produksi dari puing-puing bangunan yang hancur lebur. Setahun kemudian, 1952, mereka sudah mulai memproduksi obat2an dan berbagai bahan kimia dan bahkan sudah mengeksport produk2nya ke berbagai belahan dunia.
Tahun 1963, SERATUS TAHUN sejak Bayer didirikan, wmereka sudah memiliki lebih dari 80.000 karyawan dengan penjualan lebih dari 4,7 milliar mark. Tahun 1978, Bayer mengakuisisi Miles Laboratories, Canada. Tahun 1994 mengakuisisi Sterling Winthrop, selanjutnya mereka juga mengakuisisi Divisi OTC Roche Pharmaceutical tahun 2004 yang mengakibatkan banyak pabrik Roche di seluruh dunia berpindah tangan, ternasuk pabrik PT. Roche Indonesia yang di Cimanggis, Depok tempat pertama kali saya membangun karier (Hiks.. baper nih… he3..).
Tahun 2006, Bayer AG mengakuisisi Schering AG dengan senilai € 14,6 milliar, yang merupakan salah satu dari 10 besar dalam sejarah merger & akuisisi dunia, SESAAT sebelum Schering AG jatuh kepelukan Merck KGaA, dan secara resmi berubah nama menjadi Bayer Schering Pharma AG sebagai anak perusahaan Bayer AG. Dengan bergabungnya Divisi OTC dari Roche dan Schering AG, maka hingga sekarang terdapat 4 divisi, yaitu Pharmaceutical, Consumer Health, Cropscience dan Animal Health.
Bayer AG yang pada saat didirikan hanya punya 1 orang karyawan, hingga tahun 2016 telah memiliki lebih dari 116.000 karyawan dari berbagai belahan bumi. Perusahaan yang pada awalnya hanyalah pembuat pewarna tekstil, 154 tahun kemudian telah menjelma menjadi raksasa kimia dan farmasi dunia. Semuanya berawal dari onggokan limbah yang tak berharga, namun di tangan – tangan orang2 jenius yang ulet dan tiada kenal menyerah akhirnya mereka bisa menguasai dunia dan sangat berjasa bagi kehidupan dan kesejahteraan umat manusia penduduk di planet bumi ini..
Sungguh kisah yang sangat luar biasa, semoga bisa menginspirasi kita semua.. Aamiin YRA
Wassalam.

KEMANDIRIAN INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT, SEBUAH UTOPIA TIADA BERTEPI

images (4)

Saya masih ingat, kira-kira 20 – 25 tahun yang lalu, pada saat masih menjadi mahasiwa Fakultas Farmasi UGM, saya pernah membuat sebuah tulisan tentang “Quo Vadis Industri Farmasi di Indonesia” yang saya ikutkan dalam sebuah Lomba Karya Tulis Ilmiah. Alhamdulillah, karya tersebut menjadi Juara III tingkat Nasional.

Salah satu hal yang menjadi sorotan saya waktu itu salah satunya adalah tidak adanya industri bahan baku obat yang dibangun di Indonesia. Kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah, justru malah “mematikan” industri bahan baku yang ada pada saat itu. Tumpang tindih kebijakan soal industri farmasi inilah salah satu penyebab “mandul”nya industri bahan baku di tanah air, di tengah gegap-gempitanya perkembangan industri farmasi di Indonesia. Industri ini pun, seperti yang kita lihat sekarang, seolah seperti sebuah pohon besar dengan daun dan dahan yang sangat rimbun namun ternyata tidak ditopang oleh akar yang kuat. Sehingga sekali kena tiup angin yang “agak kencang sedikit” langsung tumbang…

Selama bertahun-tahun, industri farmasi di”nina-bobo”kan dengan perkembangan dan pertumbuhan yang luar biasa. Bahkan pernah mencapai 23% pertahun, dan Indonesia pun menjadi salah satu emerging country di bidang pharmaceutical industry. Ternyata, pertumbuhan ini dipicu dengan adanya berbagai “kemudahan” yang “dinikmati” oleh industri farmasi di Indonesia. Menjadikannya “manja” dan sangat tergantung dengan berbagai macam fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Coba tengok, kebijakan penghapusan pajak masuk bagi bahan baku farmasi di Indonesia, alias 0%. Bandingkan dengan pajak masuk 35% yang dikenakan oleh pemerintah India. Atau bahkan larangan sama sekali impor bahan baku yang telah diproduksi di dalam negeri oleh Pemerintah China. Berani melanggar? Sepasukan regu tembak siap menghantar ke liang lahat. Hasilnya : India menjadi negara pemasok Obat Generik TERBESAR di Amerika Serikat. China, menjadi PEMASOK BAHAN BAKU OBAT TERBESAR di seluruh dunia. Sedangkan kita? Tetap menjadi negara pengimpor yang konsisten.

Pemerintahan kedua negara tersebut (China dan India) memang tidak main-main. Sebut saja India, mereka dengan “gagah berani” mengeluarkan apa yang disebut dengan “Patent Act” yang menyatakan bahwa perlindungan hak paten TIDAK BERLAKU bagi produk-produk Farmasi, Pertanian dan Nuklir. Akibat dari kebijakan ini, India harus menghadapi embargo dari para raksasa farmasi dunia. Akibatnya, selama bertahun-tahun rakyat India menderita karena tdk tersedianya obat-obatan di prasarana kesehatan mereka. Namun kelangkaan obat-obatan ini memicu kerja keras dan kreatifitas mereka. Hasilnya? Saat ini India merupakan pemasok 40% obat generik di seluruh dunia. TIDAK ADA SATU OBAT PUN YANG TIDAK BISA DIBUAT DI INDIA. Bahkan obat yang paling baru pun, copynya sudah bisa dibuat oleh mereka. Soal Paten? Pemerintah India dengan sangat gagah berani berdiri di belakang industri farmasi India. Tak terhitung berapa kali gugatan para “Big Pharma” soal paten ini KANDAS di pengadilan India.

China? jangan tanya lagi. Sebutkan negara mana yang tdk mengimport bahan baku dari China? Bahkan negara Super Power seperti Amerika Serikat pun meng-import bahan baku dari China. Padahal dulu mereka juga sangat menderita karena tidak punya persediaan obat yang cukup untuk penduduknya. Namun pemimpin besar China, Deng Xiaoping, dengan “gagah perkasa” mengeluarkan kebijakan yang amat sangat mendukung perkembangan industrinya. Seluruh industri farmasi di China di akuisisi oleh Pemerintah Daerah sehingga memudahkan pengerahan modal dan sumber daya manusia. Kemudian, ada kebijakan untuk MELARANG SAMA SEKALI import bahan baku yang sudah dibuat di negeri itu. Pejabat negera yang ketahuan coba-coba kongkalikong dengan pengusaha, untuk memburu rente, siap-siap menghadapi moncong senapan regu tembak. Tak terhitung berapa pejabat tinggi di China yang mengakhiri hidupnya diterjang timah panas di tengah lapangan dan disaksikan oleh rakyat banyak..

Kebijakan yang berpihak dan pelaksanaan yang konsisten, syarat utama agar negeri ini bisa mandiri.. berdiri sama tinggi dengan negera – negara lain di dunia. Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak?

NASIB INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT : HIDUP SEGAN MATI TAK MAU

Saat ini, 96% bahan baku obat masih harus kita import dari luar negeri. Hanya ada segelintir industri bahan baku yang masih eksis di negeri ini. Segelintir yang exist ini, antara lain :

  1. PT. Sinkona Indonesia Lestari (SIL) yang memproduksi bahan baku kina (quinine). PT. SIL merupakan anak perusahaan PT. Kimia Farma. Pada masa jayanya, perusahaan ini mampu memproduksi 150 ton pertahun, yang menjadikannya pabrik kina TERBESAR di seluruh dunia. Namun lagi-lagi kendala klasik, mewarnai perjalanan perusahaan plat merah ini. Mesin-mesin yang sudah mulai menua, teknologi yang sudah usang, masalah pencemaran lingkungan dan sebagainya. Perlahan namun pasti, perusahaan ini pun mulai memasuki masa-masa suram. Apalagi ditambah dengan adanya kenyataan Bahan Baku Kulit Kina pun harus diimport dari China.. Pasar pil kina pun saat ini terus tergerus dengan munculnya obat-obat yang jauh lebih modern.. Lengkaplah sudah penderitaannya….
  2. PT. Riasima Abadi Farma (RAF), yang merupakan perusahaan patungan antara PT. Kimia Farma, PT. Indofarma dan PT. Askes (persero). Pada tahun 1981-1982, RAF mampu membuat Parasetamol dengan teknologi dari Taiwan dan mesin dari Jepang, tetapi sulit untuk menjual karena harga yang relatif mahal. Pada kurun waktu 1982 – 1990 Parasetamol ex RAF mendapat proteksi 100% dari Pemerintah sehingga RAF bisa menjual Parasetamol ke pasar domestik. Sejak tahun 1988 RAF bisa membuat Para Amino Phenol (PAP) sendiri, namun kemunduran dialami sejak tahun 1993 dimana datangnya PAP dari China dengan harga yanglebih kompetitif. Dengan harga PAP yang berbeda dengan China mengakibatkan penjualan menurun dan sampai dengan saat ini Parasetamol ex RAF tidak bisa bersaing dengan Parasetamol ex China.
  3. PT. Sandoz Biochemie Farma Indonesia (SBFI) yang berdiri tahun 1987, merupakan Perusahaan Patungan antara Sandoz (Swiss) dan Biochemie (Austria) sebesar 55% saham dengan PT. Anugerah Daya Laksana dan Kimia Farma sebesar 45% saham. SBFI pada saat awal berdiri merupakan produsen bahan baku terkemuka, terutama Amoxicillin dan Ampicillin, yang diproyeksikan mampu memproduksi sampai 100 ton bahan baku obat. Dalam perkembangannya SBFI harus menyerah karena tingginya biaya produksi dan regulasi yang tidak memihak. SBFI akhirnya tutup karena iklim industri tidak memihak. Produk Amoxicillin dan Ampicillin SBFI tidak bisa bersaing dengan produk sejenis dari China.

Hampir seluruh industri bahan baku obat tersebut di atas kondisinya sudah “Hidup Segan – Mati Tak Mau”. Hampir semuanya kalah bersaing dengan produk-produk impor. Dengan “nyaris” tanpa adanya “perlindungan” dari Pemerintah, apakah masih punya mimpi untuk membangun kemandirian industri bahan baku obat di Indonesia? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang…..

Selama lebih dari TIGA dasawarsa, sejak dibukanya kran investasi di bidang farmasi, wacana, debat dan kajian mengenai Kemandirian Industri Bahan Baku Obat di negeri ini seolah menjadi utopia tiada akhir. Mimpi untuk memiliki industri bahan baku obat sendiri, seolah menjadi “ladang” kajian tiada akhir. Setiap ganti Menteri, lagu yang dinyanyikan pun nyaris sama. Betapa pentingnya kemandirian di bidang bahan baku obat. Lalu membuat “kebijakan baru”, membentuk Team baru, Satgas baru. Seminar di sana-sini.. Para pakar, Profesor, Doktor bahkan kalau perlu pembicara paling top dari seluruh dunia diundang dengan biaya mahal untuk memberikan “mantra sakti”nya. Bertumpuk kertas kerja, kajian, studi kelayakan dan sebagainya yang terakhirnya hanya berakhir di rak-rak perpustakaan yang kemudian menjadi lapuk dan berdebu dimakan rayap. Mimpi tetaplah menjadi mimpi yang entah kapan menjadi kenyataan… Seolah bangsa ini mentasbihkan dirinya menjadi bangsa yang paling jago berwacana, namun tidak ada tindakan nyata alias tidak kemana-mana..”No Where”… duuuh..

Sudahlah, kalau sekedar mengeluh, menangisi segala “keterlambatan” kita dibandingkan negara-negara lain, artinya kita sama juga dengan “pendahulu-pendahulu” kita yang sedang kita “hujat” sekarang ini. Lalu solusi-nya bagaimana?

JENIS – JENIS INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT

Oke, sebelum sampai ke solusi kita lihat dulu bagaimana “peta” industri ini secara mendalam. Ada baiknya juga kita belajar dari bangsa-bangsa lain bagaimana mereka membangun industri ini. Sebut saja China, India, atau Korea adalah negara-negara yang disebut “berhasil” dalam membangun industri bahan baku obat.

Secara garis (untuk memudahkan pembahasan), ada 4 jenis bahan baku obat yang digunakan oleh industri farmasi, yaitu :

1. Bahan baku obat aktif (BBAO) yang diproses secara kimiawi
2. Bahan baku obat tambahan (eksipien)
3. Bahan baku obat aktif yang diproses secara Bioteknologi
4. Bahan baku obat aktif yang berasal dari Sel Punca (Stem cell), yang merupakan teknologi baru dalam pengembangan bahan baku aktif obat.

Mengapa pengembangan bahan baku dari alam tidak dimasukan? Bukankah negeri ini sangat kaya akan bahan alam yang bisa dibuat bahan baku obat? LUPAKAN SAJA kajian/wacana soal pengembangan obat bahan alam ini jika kita bicara mengenai industri bahan baku obat farmasi. Mengapa? karena untuk menjadikan Obat Bahan Alam SETARA dengan Obat Bahan Baku Farmasi dan DIAKUI sebagai OBAT jalannya masih teramat sangat panjang dan berliku. Belum lagi biaya yang dikeluarkan juga amat sangat besar. Obat bahan alam PALING POLL hanya sampai menjadi FITOFARMAKA, belum pernah ada hingga menjadi SEDIAAN OBAT. Jadi lupakan saja MIMPI untuk menjadikan bahan alam sebagai bahan baku obat.

Membangun industri bahan baku obat memang tidak tidak mudah dan tidak murah. Selain proses yang sangat panjang, rumit, dan kompleks juga tingkat keberhasilan yang sangat bervariasi. Selain itu masih ada lagi isu-isu soal keamanan serta lingkungan, membuat industri ini membutuhkan modal dan investasi yang sangat mahal dengan ROI (Return On Investment) yang sangat panjang. Diperlukan “nyali besar” untuk terjun dalam bisnis ini.

images (1)

Seperti tersebut di atas terdapat 4 jenis industri bahan obat, yaitu Bahan baku obat aktif (BBAO) yang diproses secara kimiawi; Bahan baku obat tambahan (exipient); Bahan baku obat aktif yang proses secara bioteknologi serta Bahan baku aktif yang dikembangkan dari sel punca (stem cell). Mari kita bahas satu-persatu agar kita bisa memilih dengan tepat jenis mana yang bisa kita kembangkan di Tanah Air.

Saat ini kita mengimport lebih kurang 851 item bahan baku obat aktif (BBAO) dan 441 item bahan baku pembantu/tambahan (eksipient). Sebagian besar dari China dan India, serta sebagian kecil dari Korea, Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Kalau kita pilah-pilah dari sebagian besar BBAO dan seluruh bahan baku tambahan (eksipient) merupakan senyawa kimia yang diproses atau diproduksi secara kimiawi. Artinya bahan-bahan tersebut merupakan PROSES SINTESA KIMIA. Kebanyakan (kalau tidak bisa dikatakan semua) bahan-bahan ini kita impor dari 2 negara, yaitu China dan India. Mengapa? pasti sudah tahu jawabannya kan.. Ya betul sekali, karena faktor harga yang murah dan mutu yang boleh dikatakan lumayan..

Sebagian dari Bahan Baku Aktif Obat (BBAO) diproses atau diproduksi dengan menggunakan secara BIOTEKNOLOGI, terutama bahan baku obat-obat yang tergolong “baru”. Misalnya obat kanker, obat diabetes, obat jantung, dan sebagainya. Kalau kita lihat lebih jauh lagi, ternyata obat-obat jenis ini kita datangkan dari berbagai macam negara. Selain dari China dan India, juga kita impor dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan juga Korea. Bahan baku jenis ini biasanya diproses dengan menggunakan Bioteknologi yang membutuhkan teknologi “tingkat tinggi” karena prosesta sangat rumit dan sangat kompleks.

FB_IMG_1446827817222

Kita sudah “belajar” bagaimana China dan India membangun industri bahan baku obat-nya. Kalau China, mengandalkan infrastruktur yang telah dipersiapkan dengan matang puluhan tahun silam oleh pemimpin besar meraka, Deng Xiaoping. Sedangkan India, lebih unggul karena faktor “kreatifitas”, “Kecerdikan” dan sifat pantang menyerah mereka yang luar biasa. Puluhan tahun mereka menderita karena embargo dari negara-negara Barat, saat ini mereka menikmati buah dari kerja keras dan pengorbanan yang mereka lakukan.

Jadi pilihan yang tersedia buat kita untuk membangun industri bahan baku obat yang berbasis senyawa kimia adalah MEMBANGUN INFRASTRUKTUR ala China atau SUPER KREATIF DAN RELA MENDERITA ala India… Masing-masing memiliki konsekuensi dan risikonya sendiri-sendiri..

Untuk membangun infrastruktur jelas membutuhkan biaya yang sangat besar. Pemerintahan sekarang “baru mulai” membenahi infrastruktur ini. Namun, badai krisis tidak terduga datang dengan tiba2.. saya tidak tahu apakah pemerintah sekarang memiliki “nyali” untuk terus menggenjot pembangunan infrastruktur ini di tengah derasnya hujatan, cacian dan makian rakyatnya sendiri.. duuuh…

Jalan tengah yg bisa kita tempuh adalah dengan menggabungkan “kreatifitas” ala India dengan keterbatasan infrastruktur yg kita miliki saat ini. Apa itu? Bikin “terobosan” baru dalam hal sintesis kimia. Kita tidak kekurangan ahli Kimia Sintesa. Tidak terhitung berapa Profesor – Doktor yg dimiliki bangsa ini. Saya yakin, jika mereka difasilitasi, akan lahir “penemuan-penemuan” yg brilian. Ada banyak cerita bagaimana “kreatif”nya bangsa ini.. tapi sayang tidak mendapatkan panggung yg layak buat mereka. Ada banyak “Habibie-Habibie” muda kita yg saat ini tersebar di seluruh penjuru dunia yg siap mengabdikan diri pada Bumi Pertiwi.. Yang terpenting ARAHNYA harus benar. Tidak usahlah BERMIMPI menemukan senyawa baru (NCE), cukup konsentrasi untuk menemukan proses sintesa yg lebih sederhana.. lebih murah dan lebih efisien. Saya kira akan banyak industri yang siap menyambut hangat temuan Anda..

KASUS OSELTAMIVIR : PELAJARAN BERHARGA DARI NEGERI HINDUSTAN

Bicara soal industri bahan baku obat, ada sebuah kisah yang sangat menarik untuk kita renungkan dan menjadi bahan kajian kita bersama.

Sekitar tahun 2005 yang lalu, dunia dihebohkan dengan merebaknya penyakit FLU BURUNG. Seluruh dunia dilanda kepanikan luar biasa karena terjadi kekhawatiran wabah flu burung yang mula terjadi di Asia Timur, yang semula hanya menular dari hewan ke manusia, berubah menjadi pandemi yang bisa menular antar manusia. Tentu, kekhawatiran ini sangat beralasan, karena hal yang sama pernah terjadi pada tahun 1920-an. Jutaan orang meninggal di seluruh dunia disebabkan wabah flu, yaitu Spanish flu (Flu Spanyol). Akibat dari kepanikan tersebut, satu-satunya obat flu burung yang ada saat itu, yaitu OSELTAMIVIR yang dijual dengan merk dagang TAMIFLU (buatan Roche) menjadi sangat kewalahan melayani permintaan. Obat ini pun dijual dengan harga yang sangat mahal. Tidak kurang dari Rp. 200 ribu per-dosisnya. Pihak ROCHE berkilah bahwa proses pembuatan obat ini sangat rumit, melibatkan tidak kurang dari 14 tahapan proses. Selain itu, proses ini juga sangat berbahaya karena dalam beberapa tahap melibatkan zat Sodium Azide yang sangat berbahaya (lihat gambar).

Screenshot_2015-09-26-08-36-28-1

Bagi negara-negara kaya, tentu saja hal ini bukan masalah besar. Namun bagi negara-negara miskin, tentu sangat memberatkan. Pada saat duitnya ada, barangnya sudah habis, diborong oleh negara-negara kaya tadi. Kalo kita lihat, dari 189 kasus kematian karena flu burung, sebagian besar adalah penduduk negara miskin. Termasuk Indonesia dengan korban terbesar yaitu sebanyak 79 orang meninggal dunia.

Tentu saja, ROCHE sebagai produsen Tamiflu, sebagai satu-satunya obat anti flu burung menuai untung besar. Namun tiba-tiba di tengah merebaknya kasus ini, sebuah kabar datang dari negeri Hindustan, India. Sebuah perusahaan lokal yang bernama CIPLA berhasil membuat OSELTAMIVIR dengan cara yang lebih sederhana, tidak berbahaya dan tentu saja HARGANYA JAUH LEBIH MURAH. Kalau TAMIFLU dijual seharga Rp. 200 ribu per-dosis, maka Oseltamivir buatan Cipla ini hanya sekitar Rp. 100,- (baca SERATUS RUPIAH) saja perdosis-nya. Dr. Yusuf Hamied, seorang ahli kimia dan sekaligus pemilik perusahaan ini adalah orang dibalik kesuksesan perusahaan ini membuat Oseltamivir versi murah meriah ini. Penemuan ini pun tidak lepas dari dukungan para ahli kimia sintesa dari Mumbay University, India yang bekerja keras untuk menemukan sintesa Oseltamivir dengan cara lebih sederhana, lebih efisien dan jauuh lebih murah.Jika pada proses yang dilakukan Roche hanya menghasilkan 12-15% Oseltamivir murni, maka proses yang dilakukan di Cipla bisa menghasilkan rendemen hingga 40 – 50%. Luarrr biasaa….

Tentu saja ROCHE sebagai pemegang paten dari Oseltamivir tidak terima ada perusahaan lain memproduksi obat yang masih dalam masa paten ini. Pihak ROCHE kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan di India. Tapi apa putusan pengadilan India, bahwa sesuai dengan Patent Act, maka produk-produk farmasi bukan-lah produk yang dilindungi paten-nya. Akhirnya, kandaslah upaya Roche untuk membawa Cipla pada tuntutan milyaran dollar Amerika sebagai konsesi produk ini. Pihak Cipla pun berkilah bahwa proses produksi yang dilakukannya juga BERBEDA dengan proses yang lakukan oleh ROCHE, sehingga dakwaan tersebut tidaklah berdasar. Pemerintah India pun berdiri di belakang perusahaannya, mengingat pada saat itu obat ini juga benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat India dan negara-negara berkembang lainnya, termasuk INDONESIA. Jadi, Oseltamivir yang beredar di Indonesia, bukanlah buatan Roche yang amat sangat mahal itu, tapi buatan India yang murah meriah….

Dari kisah ini dapat kita petik pelajaran penting. Kita masih bisa “bersaing” dalam hal produksi bahan baku obat, asal kita cerdik menghadapinya. Kalau orang India saja bisa, mengapa kita tidak?

Beberapa waktu yg lalu saya sempat “berdebat” panjang dengan salah satu pakar kimia sintesa dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, yg dengan bangga mengungkapkan temuan obat barunya yg lbh “canggih” dari Paracetamol. Beliau dengan bangga menyatakan bahwa sudah ada industri dalam negeri yg tertarik untuk memproduksi secara komersial. Saya katakan IMPOSSIBLE. Kenapa? Ya memang TIDAK MUNGKIN memproduksi “Obat Baru” karena dibutuhkan proses yg amat sangat panjang dari mulai skrinning.. uji toksisitas.. uji pra klinis.. uji klinis fase I.. fase II.. fase III dan seterusnya. Dan itu semua membutuhkan biaya yang sangat luar biasa.. bisa 5-6 TRILYUN rupiah. Mana ada industri di negeri ini yg mau menginvestasikan uangnya untuk senyawa yg belum tentu laku di pasaran… Jadilah debat kusir karena tdk ketemu pemikiran akademisi yg berada di menara gading dg “street fighter” seperti kami. Dan apa yg terjadi? Akhirnya si industri pun pelan-pelan surut.. akhirnya sama sekali tidak ada kabar berita. Investasinyg diharapkan pun tak kunjung terealisasi.. Ya iyalah… kata saya. Tapi sang inventor masih bisa membanggakan karyanya menjadi sebuah buku yg diterbitkan secara international… Ya sudahlah.. selamat atas bukunya… Coba kalau energi dan sumber daya yang ada difokuskan untuk penemuan senyawa yg lama dengan metode dan proses yang baru seperti kasus OSELTAMIVIR buatan CIPLA, INDIA bisa menyelamatkan jutaan nyawa manusia… dan bisnis pun melaju kencang…

INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT MASA DEPAN : BIOTEKNOLOGI

Pengembangan bahan baku obat di Indonesia belum berkembang dengan baik terutama untuk BBO yang merupakan hasil sintesis atau disebut dengan Bahan Baku Obat kimia (BBO kimia). Hingga saat ini tingkat ketergantungan pada bahan baku impor masih sangat tinggi. Pengembangan bahan baku obat pada dasarnya relatif lebih mudah dibandingkan dengan penelitian penemuan obat baru (new chemical entities), yang memerlukan biaya yang sangat besar yaitu lebih dari 1 milyar US dolar, biaya pengembangan ini terus meningkat setiap tahunnya karena tuntutan akan obat yang aman dan mengurangi efek samping yang merugikan kepada pasien. Untuk bahan baku obat sebetulnya lebih pada pengembangan proses sintesa atau perbaikan proses produksi dan bukan pada penemuan molekul baru, bagaimana cara mendapatkan metode terbaik agar dapat dihasilkan BBO sintesis yang baik secara ekonomis.

Beberapa kendala dalam dihadapi terkait pengembangan bahan baku obat sekarang ini antara lain :

  • Kurangnya dukungan kimia dasar. Bahan kimia dasar merupakan bahan kimia yang digunakan untuk proses sintesis obat apabila obat dibuat secara sintesis kimia dan bahan kimia yang mendukung dalam proses isolasi, pemisahan, pemurnian obat untuk bahan obat yg diproduksi secara bioproses. Jika bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan obat tidak tersedia maka Indonesia terpaksa mengimpor bahan baku atau bahan antara dari luar negeri, sehingga yang dilakukan di dalam negeri hanya berupa tahap akhir dari pembentukan bahan baku. Hal ini mengakibatkan biaya yang digunakan untuk produksi menjadi lebih besar sehingga bahan baku yang dihasilkan tidak dapat memenuhi skala ekonomi dan tidak kompetitif dibandingkan bahan baku obat impor.
  • Industri bahan baku obat memerlukan investasi yang besar dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Biaya yang besar akan dibebankan kepada harga bahan baku sehingga bahan baku yang dibuat akan menjadi lebih mahal. Selain itu juga merupakan long term project sehingga hasilnya baru akan dinikmati dalam waktu yang cukup lama.
  • Pasar bahan baku nasional yang relatif kecil dibandingkan dengan kapasitas minimal produksi untuk satu industri bahan baku obat sehingga tidak akan dapat memenuhi skala ekonomi. Walaupun dapat dibuat secara lokal dari segi ekonomis tidak akan kompetitif. Sementara produsen bahan baku dari China dan India sudah jauh lebih maju dan sangat ekonomis.

Dengan berbagai kendala tersebut, membuat upaya kemandirian industri bahan baku obat di Indonesia sangat sulit untuk diwujudkan, terutama jika kita terpaku pada upaya pengembangan bahan baku obat secara sintesa kimia.

Selain melalui pendekatan sintesis kimia, upaya memproduksi Bahan Baku Obat juga bisa melalui proses yang disebut dengan BIOTEKNOLOGI.

Ada cerita menarik seputar pengembangan obat dengan Bioteknologi ini. Begini ceritanya…

biotechnology

Duluu…hingga tahun 1982, insulin diisolasi dari pankreas binatang melalui proses yg rumit dan mahal. Tidak kurang dari 100 pankreas babi diperlukan oleh SEORANG pasien diabetes untuk pengobatan selama satu tahun. Pada tahun 1982, untuk pertama kali insulin diproduksi dari bakteri Escherechia coli secara bioteknologi oleh pabrik farmasi Eli Lilly atas lisensi dari Genentech. Saat ini 200 juta penderita diabetes di seluruh dunia merasakan manfaat dari bioteknologi. Andaikata bioteknologi tidak pernah ada, maka tidak kurang dari 20 juta babi harus dibunuh setiap tahunnya untuk diambil pankreasnya… MENGAGUMKAN BUKAN… he3..

Sejak ditemukannya Bioteknologi, perkembangan penemuan-penemuan senyawa obat berkembang sangat cepat. Saat ini kita telah berada pada tahap apa yang disebut dengan TARGETED THERAPY. Baah.. Apa pula itu??

Targeted Therapy merupakan lompatan besar di bidang Biopharmaceutical technology, terutama berkaitan dengan pengobatan penyakit pada tingkat molekular, misalnya penyakit kanker maupun penyakit-penyakit degeratif lainnya. Secara tradisional, obat-obat kanker (chemotherapy), bekerja “membunuh” sel kanker dengan cara “menghambat” perkembangan sel. Namun selain “membunuh” sel kanker, obat-obat ini juga “membunuh” sel normal. Akibatnya banyak sekali efek samping akibat pengobatan dengan chemotherapy, misalnya anemia, mual, muntah, rambut rontok, diare dan sebagainya. Targeted Therapy, “bekerja” secara spesifik pada tingkatan molekuler (bukan tingkat sel/jaringan seperti pada chemotherapy biasa), dengan cara “memblok” aktifitas molekular sel kanker (malignant cell). Secara garis besar, Targeted Therapy dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
– Pertama, Small Particles Therapy, contohnya : imatinib, Gefitinib, Erlotinib (Tarceva®), dll.
– Kedua, Monoclonal Antibody Therapy, contohnya: Rituximab, Trastuzumab (Herceptin®), Cetuximab (Erbitux®), Bevacizumab (Avastin®), dll.

Saat ini, hampir seluruh obat-obat kanker dan penyakit degeratif lainnya menggunakan pendekatan MAB (Monoclonal Antibody) ini yang digunakan sebagai Targeted Therapy. Dan, berita gembiranya, ternyata teknologi ini SUDAH DIKUASAI dengan baik oleh Putra-putri Indonesia. Sebutlah sebuah anak perusahaan PT. Kalbe Farma yang bernama INNOGENE KALBIOTECH sudah mampu memproduksi sendiri NIMOTUZUMAB – dengan merk dagang TheraCIM – salah satu Targeted Therapy generasi MAB terbaru sehingga efek sampingnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kemoterapi biasa atau bahkan dibandingkan dengan Targeted Therapy yang lain. Namun sayangnya, perusahaan ini TIDAK BERKEDUDUKAN di Indonesia, melainkan di SINGAPURA… Mengapa? Pihak Kalbe menyatakan bahwa keberadaan perusahaan ini di Singapura karena negara tersebut memberikan POTONGAN PAJAK sampai DUA KALI LIPAT terhadap biaya penelitian untuk obat-obat kanker yang dihasilkannya… Selain itu, Singapura juga sangat terkenal dengan Laboratorium Pengujian Klinis (CRO) yang sudah mencapai Taraf Dunia, sehingga tidak ada keraguan sedikit pun dari hasil uji klinis yang dilakukan… Woww.. sungguh tamparan yang amat keras bagi Pemerintah Indonesia, mengapa hal ini bisa sampai terjadi…

Ini adalah BUKTI bahwa sebenarnya kita tidak tertinggal jauh dengan negara-negara yang sudah maju. Tinggal sekarang MAU APA TIDAK? Termasuk di sini adalah peran Pemerintah selaku regulator dan juga mendukung pendanaan dan pemberian berbagai insentif lainnya…

Saya kira tidak terlalu sulit menemukan ahli atau pakar di bidang Monobody Anticlonal. Di Fakultas Farmasi UGM saja, setahu saya, ada banyak Profesor Doktor dibidang MAB yang jika diberikan fasilitas yang memadai serta didukung oleh industri kemudian di-back-up dengan pendanaan, aturan dan regulasi yang mendukung, saya kira mimpi kita untuk bisa membangun industri bahan baku obat secara mandiri akan menjadi kenyataan….

 – Wassalam –

Jalan Panjang Penemuan Obat Baru

Salah satu ciri khusus industri farmasi dibandingkan dengan industri yang lain adalah besarnya biaya yang dikeluarkan keperluan research, terutama terkait dengan upaya untuk menemukan obat baru, baik NCE (New Chemical Entities) maupun NBE (New Biological Entities). Dari data yang dilansir oleh IFPMA (International Federation of Pharmaceutical Manufacturers & Associations) tahun 2012,  menyebutkan bahwa industri farmasi dan bioteknologi menduduki peringkat pertama dalam hal membelanjakan uangnya untuk keperluan R&D (research and development) di antara seluruh sektor industri.

 

R&D Spend Investment

R&D Investment by Sector 2010

Laporan tersebut lebih lanjut menyebutkan bahwa 5 dari 10 perusahaan dengan pengeluaran terbesar untuk R&D adalah perusahaaan farmasi.

Berikut adalah daftar perusahaan-perusahaan dengan belanja R&D terbesar di dunia :

R&D Spend by Company 2011

Proses penemuan obat baru merupakan sebuah rangkaian langkah yang sangat panjang dan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Tidak mengherankan, jika proses penemuan obat baru, baik NCE maupun NBE memerlukan biaya yang sangat besar. dari data yang dilansir oleh Kalorama Information, industri farmasi mengeluarkan tidak kurang dari US$ 95 Milyard.

Selama 10 tahun terakhir, biaya R&D industri farmasi meningkat drastis, dari US$ 59 Milyard pada tahun 2001, menjadi US 131.7 Milyard pada tahun 2011, meningkat lebih dari 2 kali lipat. Sementara jumlah obat yang disetujui menurun dari rata-rata 86 pertahun menjadi 77 NCE/NBE (Parexel Sourcebook Biopharmaceutical R&D 2011/2012, FDA).

Global R&D Spending 2009

Global Pharma R&D Spending 1996 – 2009

 

R&D Pharma 2001 - 2011

>

>

Jalan Panjang Penemuan Senyawa Obat

LONG_ROAD_TO_A_NEW_DRUG

Proses penemuan obat baru merupakan sebuah rangkaian langkah yang sangat panjang dan berliku serta melibatkan berbagai disiplin ilmu. Secara garis besar, Penelitian dan Pengembangan suatu obat dapat dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut :

  1. Sistesis dan screening molekul
  2. Studi pada hewan percobaan
  3. Studi pada manusia yang sehat (healthy volunteers)
  4. Studi pada manusia yang sakit (pasien)
  5. Studi pada manusai yang sakit dengan populasi diperbesar
  6. Studi lanjutan (post marketing surveillance)

FDA Development

New NCE

Sintesis dan Screening Molekul. Merupakan tahap awal dari rangkaian penemuan suatu obat. Pada tahap ini berbagai molekul atau senyawa yang berpotensi sebagai obat disintesis, dimodifikasi atau bahkan direkayasa untuk mendapatkan senyawa atau molekul obat yang diinginkan. Oleh karena penelitian obat biasanya ditargetkan untuk suatu daerah terapeutik yang khas, potensi relatif pada produk saingan dan bentuk-bentuk sediaan untuk manusia bisa diketahui. Serupa dengan hal tersebut, ahli kimia medisinal mungkin mendalami kelemahan molekul tersebut sebagai hasil usaha untuk mensintesis senyawa tersebut. Selain itu, penelusuran literatur juga harus dilakukan untuk memberikan pengertian tentang mekanisme pelapukan yang mungkin terjadi dan kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan peruraian obat. Informasi ini dapat menyarankan suatu cara stablilisasi, kunci uji stabilitas atau senyawa acuan stabilitas. Informasi tentang cara atau mode yang diusulkan dari pemberian obat, seperti juga melihat kembali literatur tentang formulasi, bioavailabilitas, dan farmakokinetika dari obat-obat yang serupa, seringkali berguna bila menentukan bagaimana mengoptimumkan bioavailabilitas suatu kandidat obat baru. Jika suatu senyawa atau molekul aktif telah dibuktikan secara farmakologis, maka senyawa tersebut selanjutnya memasuki tahap pengembangan dalam bentuk molekul optimumnya, seperti terlihat pada “diagram pengembangan kandidat obat”. Setelah sintesis, suatu senyawa atau molekul melalui proses screening, yang melibatkan pengujian awal obat pada sejumlah kecil hewan dari jenis yang berbeda (biasanya 3 jenis hewan) ditambah uji mikrobiologi untuk menemukan adanya efek senyawa kimia yang menguntungkan. Meskipun ada faktor “lucky” (kebetulan) dalam upaya ini, umumnya pendekatannya cukup terkontrol, berdasarkan struktur senyawa yang telah diketahui. Pada tahap ini sering kali dilakukan pengujian yang melibatkan teratogenitas, mutagenitas dan karsinogenitas, disamping pemeriksaan LD50 dan toksisitas akut dan kronik.

>
Uji praklinik. Merupakan persyaratan uji untuk calon obat. Dari uji ini diperoleh informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada hewan utuh. Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci, marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata. Hewan-hewan ini sangat berjasa bagi pengembangan obat. Karena hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau tidak. Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi :

  • Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis.
  • Kerusakan genetik (genotoksisitas atau mutagenisitas).
  • Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas).
  • Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas).

Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan pada hewan tersebut menentukan apakah calon obat tersebut dapat diteruskan dengan uji pada manusia atau tidak. Ahli farmakologi bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam pembuatan formula obat, menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat yang akan diuji pada manusia. Di samping uji pada hewan, untuk mengurangi penggunaan hewan percobaan telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contohnya uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji anti mikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi dan lain-lain untuk menggantikan uji khasiat pada hewan. Akan tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara in vitro. Uji toksisitas sampai saat ini masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode lain yang menjamin hasil yang dapat menggambarkan toksisitas pada manusia.  Disamping itu, uji pada hewan percobaan ini juga dirancang dengan perhatian khusus pada kemungkinan pengujian obat itu lebih lanjut pada manusia atau uji klinis. Oleh karenanya, pada uji pra-klinis ini dirancang dengan pertimbangan :

  • Lamanya pemberian obat itu menurut dugaan kepada manusia.
  • Kelompok umur dan kondisi fisik manusia yang dituju, dengan pertimbangan khusus untuk anak-anak, wanita hamil atau orang lanjut usia.
  • Efek obat menurut dugaan pada manusia.

Setelah melewati uji pra klinis, maka senyawa atau molekul kandidat calon obat tersebut menjadi IND (Investigational New Drug) atau obat baru dalam penelitian. Setelah calon obat dinyatakan mempunyai kemanfaatan dan aman pada hewan percobaan maka selanjutnya diuji pada manusia (uji klinik).

>
Uji Klinis pada manusia. Uji klinis pada manusia harus diteliti dulu kelayakannya oleh komite etik mengikuti Deklarasi Helsinki. Uji klinik terdiri dari 4 fase yaitu :

  1. Fase I, calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat yang diamati pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia. Pada fase ini ditentukan hubungan dosis dengan efek yang ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat pada manusia.
  2. Fase II, calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efikasi pada penyakit yang diobati. Yang diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan efek samping rendah atau tidak toksik. Pada fase ini mulai dilakukan pengembangan dan uji stabilitas bentuk sediaan obat.
  3. Fase III melibatkan kelompok besar pasien, di sini obat baru dibandingkan efek dan keamanannya terhadap obat pembanding yang sudah diketahui. Selama uji klinik banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat digunakan. Akhirnya obat baru hanya lolos 1 dari lebih kurang 10.000 senyawa yang disintesis karena risikonya lebih besar dari manfaatnya atau kemanfaatannya lebih kecil dari obat yang sudah ada. Keputusan untuk mengakui obat baru dilakukan oleh badan pengatur nasional, di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Amerika Serikat oleh FDA (Food and Drug Administration), di Kanada oleh Health Canada, di Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product Regulatory Agency), di negara Eropa lain oleh EMEA (European Agency for the Evaluation of Medicinal Product) dan di Australia oleh TGA (Therapeutics Good Administration). Untuk dapat dinilai oleh badan tersebut, industri pengusul harus menyerahkan data dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan indikasi yang diajukan, efikasi dan keamanannya harus sudah ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul dan lain-lain) yang telah memenuhi persyaratan produk melalui kontrol kualitas. Pengembangan obat tidak terbatas pada pembuatan produk dengan zat baru, tetapi dapat juga dengan memodifikasi bentuk sediaan obat yang sudah ada atau meneliti indikasi baru sebagai tambahan dari indikasi yang sudah ada. Baik bentuk sediaan baru maupun tambahan indikasi atau perubahan dosis dalam sediaan harus didaftarkan ke Badan POM dan dinilai oleh Komisi Nasional Penilai Obat Jadi. Pengembangan ilmu teknologi farmasi dan biofarmasi melahirkan new drug delivery system terutama bentuk sediaan seperti tablet lepas lambat, sediaan liposom, tablet salut enterik, mikroenkapsulasi dan lain-lain. Kemajuan dalam teknik rekombinasi DNA, kultur sel dan kultur jaringan telah memicu kemajuan dalam produksi bahan baku obat seperti produksi insulin dan lain-lain. Setelah calon obat dapat dibuktikan berkhasiat sekurang-kurangnya sama dengan obat yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si pemakai maka obat baru diizinkan untuk diproduksi oleh industri sebagai legal drug dan dipasarkan dengan nama dagang tertentu serta dapat diresepkan oleh dokter.
  4. Fase IV, setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran (post marketing surveillance) yang diamati pada pasien dengan berbagai kondisi, berbagai usia dan ras, studi ini dilakukan dalam jangka waktu lama untuk melihat nilai terapeutik dan pengalaman jangka panjang dalam menggunakan obat. Setelah hasil studi fase IV dievaluasi masih memungkinkan obat ditarik dari perdagangan jika membahayakan sebagai contoh cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia yang dapat merusak ginjal, Entero-vioform (kliokuinol) suatu obat anti disentri amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON disease), fenil propanol amin yang sering terdapat pada obat flu harus diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, troglitazon suatu obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati .

Penemuan obat baru chemotherapeutica (New Chemical Entity/NCE) saat ini cenderung mengalami penurunan, karena diberlakukannya syarat yang sangat ketat untuk dapat diterima, diregistrasi dan diijinkan beredar sebagai obat. Hal ini berlaku di negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya. Persyaratan ketat ini memerlukan penelitian farmakologi dan keamanan yang jauh lebih luas dan dengan sendirinya memerlukan biaya yang sangat tinggi. Jangka penemuan obat baru sejak awal ditemukan suatu bahan kimia baru sampai menjadi obat baru yang diijinkan beredar memerlukan waktu 10 – 12 tahun dan biaya penelitian lebih kurang USD 750 – 850 juta (Rp.7,5 – 8,5 Trilyun).

 

Demikianlah kisah perjalanan panjang yang harus dilalui, sebelum obat diedarkan ke masyarakat. Dengan biaya yang terus meningkat serta waktu penelitian yang semakin lama, tidaklah mengherankan jika harga obat, terutama obat-obat yang masih dilindungi masa patent, harganya semakin mahal.

 

Industri farmasi di Indonesia, dengan omzet penjualan tidak lebih dari Rp. 10 trilyun pertahun, rasa-rasanya akan sulit untuk “berbuat banyak” dalam upaya penemuan senyawa obat baru ini. Hal yang “masih mungkin” kita lakukan adalah penelitian atau penemuan tentang sistem penghantaran obat yang baru (drug delivery system/DDS). Ada begitu banyak teknologi sistem penghantaran obat yang masih dapat kita kembangkan sehingga industri farmasi di Indonesia tidak sekedar menjadi “tukang jahit”, namun juga memiliki kontribusi nyata dalam hal pengembangan obat.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat

BP – 27.03.2014

 

 

Drug Research : Beyond Imagination

Picture1Di antara beberapa sifat unik yang dimiliki oleh manusia (Homo sapiens) dibandingkan spesies lain yang mendiami planet bumi ini adalah kemampuannya untuk mengatasi berbagai berbagai gangguan yang mengganggu kebugaran/kesehatan, baik fisik maupun mental dengan menggunakan obat-obatan. Dari berbagai bukti penggalian situs-situs arkeologis yang berhasil ditemukan menunjukkan bahwa upaya pengobatan/mengatasi berbagai gangguan kesehatan manusia tersebut sama tuanya dengan upaya manusia membuat berbagai peralatan untuk membantu (mempermudah) kehidupannya, seperti pisau, kapak, serta berbagai peralatan lainnya. Pada awal mulanya, berbagai bahan aktif (obat) dikumpulkan, diproses, dibentuk dan disiapkan dari berbagai campuran obat. Inilah cikal bakal profesi pharmacist (apoteker) yang kita kenal saat ini, yaitu sebagai peracik dan penyedia berbagai sediaan obat untuk penyembuhan berbagai gangguan kesehatan, baik pada manusia maupun pada hewan.
Sejak awal kehidupan manusia di muka bumi, farmasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari umat manusia. Dari penggalian situs peradapan kuno pertama kali di Shanidar atau Sumeria (lebih kurang 3000 SM), terkuak bahwa aktivitas pengobatan telah dilakukan dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat. Pengetahuan tentang obat-obatan ini terus berkembang bersamaan dengan semakin meningkatnya pengetahuan manusia tentang tumbuhan maupun hewan yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Pengetahuan tentang obat-obatan ini merupakan rahasia yang dijaga sangat ketat oleh kelompok penyembuh (Shaman/dukun) yang seringkali dibumbui dengan mantra-mantra pemujaan. Meskipun demikian, dari cerita mulut ke mulut akhirnya pengetahuan tentang obat-obat inipun menyebar, seiring dengan penyebaran umat manusia ke seluruh penjuru dunia.

>

>

Picture3Dari berbagai peradapan kuno yang berhasil ditemukan, dari lembah sungai Nil di Mesir, sungai Tigris dan Euphrate di Babilonia (Irak sekarang) dan sungai Kuning dan Yangtze (di daratan Cina kuno) serta sungai Indus di India, ilmu tentang obat-obatan yang diambil dari berbagai bahan alam (baik tumbuhan maupun hewan) terus berkembang seiring dengan perkembangan peradapan manusia.

 

>

>

Picture2Catatan berupa resep-resep pengobatan kuno dapat dijejak dari ditemukannya Papyrus Ebers di kawasan lembah sungai Nil (Mesir), sedangkan jejak pengobatan Cina kuno dapat ditemukan pada Pen T’sao (herbal asli) yang diperkiraan ditulis pada jaman kaisar Shen Nung kira-kira tahun 2000 SM.
Melintasi millenium berikutnya, ilmu pengobatan pun melintas ke dunia Barat dan mencapai puncak kejayaannya pada jaman Yunani kuno. Pada masa ini beberapa filsuf besar dilahirkan. Mereka tidak hanya mengamati dan memanfaatkan bahan alam untuk tujuan pengobatan, tetapi juga menelitinya guna menerangkan apa yang mereka lihat yang secara perlahan-lahan mentransformasikan pengetahuan mengenai obat ke dalam ilmu pengetahuan. Diantara filsuf yang terkenal adalah Paracelsus (1541-1493 SM), yang berpendapat bahwa untuk membuat obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya.

>

>

Picture8Hippocrates (ca. 425 SM) yang menulis tentang sebab-sebab penyakit dan telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Kemudian, Thales (ca. 470 SM) yang mengumpulkan berbagai tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat; serta yang paling berpengaruh terhadap perkembangan pengobatan adalah Dioscorides (65 M) yang menyusun Materia Medica sebagai ensiklopedia obat-obatan standard pertama yang digunakan sebagai panduan pengobatan beratus tahun kemudian. Dalam buku tersebut dijelaskan hampir 500 tanaman dan obat-obatan yang dibuat dari berbagai binatang dan tumbuhan serta menjelaskan secara detail tentang bagaimana cara menyiapkan bahan-bahan tersebut sebagai obat.
Salah satu filsuf yang juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu kefarmasian adalah Galen (130 – 201 M), seorang dokter keluarga kekaisaran Roma yang juga seorang pengajar ilmu farmasi. Galen memperkenalkan banyak obat yang sebelumnya tidak diketahui dan pertama kali mendefinisikan sebuah obat sebagai sesuatu yang bereaksi ke tubuh yang membawa perubahan. Konsep ini merupakan cikal bakal ilmu farmakologi yang dikenal sekarang dan menginspirasi berbagai penemuan tentang obat berabad-abad kemudian.

>

>
Lahirnya Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah di jazirah Arab (570 – 632 M), membawa pencerahan bagi dunia Arab, khususnya di wilayah Timur Tengah dan Africa, bahkan hingga ke Spanyol, pulau Sisilian dan Eropa Timur. Dengan semakin mundurnya kejayaan kerajaan Romawi dan semakin berkembangnya agama Islam dan negara-negara di Timur Tengah (yang di dunia Barat sering disebut dengan “Abad Kegelapan”) maka pengetahuan mengenai obat pun berpindah ke daerah jazirah Arab. Toko obat milik pribadi pertama kali didirikan oleh orang-orang Arab di kota Baghdad pada abad ke 8. Mereka membangun pengetahuan yang diperoleh dari bangsa Yunani dan Romawi. Untuk pertama kalinya pada masa itu dikenal sediaan sirup dan ekstrak alkohol.

 

Picture9Salah seorang ahli obat-obatan Arab yang sangat terkenal adalah Ali Ibn Sina (980 – 1037 M) yang di dunia Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Canon Medicine yang dalam salah satu artikelnya menulis “jika kamu dapat membantunya dengan makanan maka jangan meresepkan obat; jika satu obat adalah efektif maka jangan meresepkan campuran obat”. Kejayaan Islam berakhir dengan jatuhnya kota Istambul (Konstantinopel) Turki pada tahun 1453 M.

>

>
Picture10Berakhirnya masa Islam, berganti dengan masa Renaissance (pencerahan). Pada masa ini, berbagai ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, termasuk ilmu tentang obat-obatan dan farmasi. Penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg, membuat berbagai informasi dengan mudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Pada saat yang sama Columbus menemukan “dunia baru” (benua Amerika) yang membawa serta berbagai bahan yang ternyata dapat berfungsi sebagai obat. Pada masa ini, berbagai senyawa kimia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan mulai ditemukan. Dengan semakin berkembangnya profesi pharmacist (apoteker) maka atas maklumat Raja Frederick, pada tahun 1231 M dilakukan pemisahan profesi dokter dengan apoteker. Dengan adanya pemisahan kedua profesi ini, ilmu farmasi terus berkembang dengan pesat. Tahun 1498 diterbitkan The Nouvo Receptario sebagai Farmakope resmi pertama yang dijadikan pedoman apoteker untuk membuat dan menyiapkan obat. Penemuan berbagai senyawa obat yang berasal dari bahan alam (tumbuh-tumbuhan maupun hewan) terus dilakukan.

>

>
Picture12Perkembangan selanjutnya, membawa para peneliti melakukan isolasi terhadap kandungan bahan alam tersebut untuk memperoleh senyawa kimia yang berfungsi sebagai obat. Misalnya Digoxin yang diekstrak dari daun tanaman Digitalis purpurea yang berfungsi untuk meningkatkan kontraksi otot jantung, Quinine yang diekstraksi dari kulit pohon Cinchona pubescens sebagai obat malaria, dan sebagainya (daftar obat yang diisolasi dari tumbuh-tumbuhan/bahan alam dapat dilihat pada tabel berikut)

 

Picture13a

>

>

 

Picture12aDitemukannya mesin uap oleh James Watt menandai dimulainya revolusi industri. Pada masa ini mulai dilakukan industrialisasi bahan baku obat yang diisolasi dari berbagai bahan alam. Diawali dengan penemuan sintesis Aspirin yang disintesis dari Salicin yang diisolasi dari bunga padang rumput (Filipendula ulmaria, sp.) oleh F. Hoffmann dan Arthur Eichangrün (pendiri industri farmasi Bayer) pada tahun 1893 sebagai cikal bakal “Industri Farmasi” di masa depan.

 

>

>

 

Picture13bMemasuki abad 20, “industri farmasi” terus berkembang dengan pesat. Berbagai penemuan berbagai macam obat baru terus bermunculan mengiringi semakin banyaknya “industri farmasi” baru seperi F. Hoffman – La Roche, Boehringer Ingelheim, dan lain-lain yang tetap exist hingga saat ini.

“Industri Farmasi” yang dimaksud disini adalah industri penghasil bahan obat, baik yang disintesis secara kimiawi maupun diambil dari bahan alam, baik bahan aktif maupun bahan tambahan yang kemudian dipasok ke apotek – apotek dimana para apoteker (pharmacist) membuat racikan obat berdasarkan resep yang ditulis oleh dokter.

 

 

 

Picture14aMemasuki pertengahan abad 20, “industri farmasi” memulai era baru dengan ditemukannya penicillin sebagai antibiotik pertama oleh Sir Alexander Fleming pada tahun 1928 yang diisolasi/fermentasi dari jamur Penicillinum sp. Penemuan ini membuka babak baru dunia industri farmasi dengan memasuki era mikrobiologi. Berbagai obat yang sebelumnya belum pernah dibayangkan oleh umat manusia, satu persatu mulai ditemukan dan telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia, misalnya insulin (1922), sulfonilamide (1935), streptomycin (1944), dan lain-lain.

 

Picture14b

>

>

>

 

Picture16Perang Dunia II (1939 – 1945) membawa kehancuran bagi industri farmasi di Eropa, terutama di Jerman (Barat). Hal ini mengakibatkan bergesernya “peta” industri farmasi dari benua Eropa ke benua Amerika. Berbagai penemuan obat baru terus berkembang di negara adidaya tersebut.

>

>

>

 

Picture17Pada tahun 1953, Dr. J.D. Watson dan Dr. F.H. Crick, ahli biokimia dari Amerika Serikat, untuk pertama kalinya mempublikasikan bentuk tiga dimensi struktur DNA (double helix). Publikasi ini membawa dimensi baru dalam dunia pengobatan dengan dimulainya bentuk pengobatan dalam level molekuler atau yang sering disebut dengan bioteknologi. Dengan adanya penemuan ini memungkinkan ditemukannya obat berbagai penyakit kanker, arthritis rheumatoid, penyakit cardiovaskuler (jantung), HIV/AIDS, dan lain-lain.

 

Picture19

>

>

 

Picture18Saat ini tidak kurang dari 2.075 molekul obat dalam tahap uji klinik fase I dan fase II. Dari jumlah tersebut 95 molekul diindikasikan sebagai anti kanker, 40 molekul anti retrovirus dan HIV. Dua puluh tujuh persen (27%) dari obat yang dalam pengembangan tersebut adalah obat-obat yang dikembangkan dengan bioteknologi (Biospectrum, Asia Edition, Vol.2, 2007).

>

>

 

Picture15aGelombang teknologi pengobatan era mendatang mungkin tidak lagi menggunakan obat-obatan kimia sebagaimana saat ini. Pengobatan dengan obat akan bergeser dengan cara melakukan regenerasi sel pada organ tubuh yang sakit sehingga dapat berfungsi secara normal kembali atau sehat. Pengembangan teknologi pengobatan tersebut yakni dengan mengembangkan sel induk manusia yang dinamakan stem cell.

>

>

 

Picture15b
Stem cell merupakan sel yang tidak atau belum terspesialisasi yang mempunyai kemampuan untuk berdeferensiasi menjadi sel lain. Dalam hal ini stem cell mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel matang, misalnya sel syaraf, sel otot jantung, sel otot rangka, sel pankreas, dan lain-lain. Selain itu, stem cell juga memiliki kemampuan untuk melakukan pembaharuan (self-renew) dan regenerasi dirinya sendiri (self-regenerate). Dalam hal ini stem cell dapat membuat salinan sel yang sama persis dengan dirinya melalui pembelahan sel. Keunikan lainnya adalah kemampuannya untuk dapat berubah menjadi berbagai macam jenis sel yang berbeda-beda, sesuai lingkungannya.
Singkat cerita, bila stem cells kita tanam di jaringan otak, jadi sel otak-lah dia, bila ditanam dijantung, jadi sel jantung-lah dia, dan bila ditanam dijaringan tulang maka jadi-lah dia sel tulang. MENGAGUMKAN BUKAN???

 

Berdasarkan sumbernya, stem cell dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Embryonic stem cell dan Adult stem cell. Embryonic Stem Cell, berasal dari kumpulan sel, bernama inner cell mass, yang merupakan bagian dari embryo fase awal (4-5 hari), yang kita kenal blastocyte. Sedangkan Adult Stem Cell, berasal dari sel yang belum berdiferensiasi di sel orang dewasa, tetapi memiliki sifat-sifat menyerupai stem cells. Termasuk diantaranya tali pusat stem cells dan embryonic carcinoma stem cells.

Picture15c

Embryonic stem cell memilliki sifat Totipotent, artinya memiliki kemampuan yang “hampir tak terbatas”. Sedangkan Adult stem cell, bersifat Pluripotent, dimana kemampuan untuk “menyerupai” sel dewasa lebih terbatas. Satu hal yang menjadi “ganjalan” dalam pengembangan teknologi stem cell adalah adanya “kedekatan” dengan teknolgi “KLONING” pada manusia. Perdebatan etik berkepanjangan, membuat teknologi ini masih harus berada “dipersimpangan jalan”. Meskipun banyak diwarnai “kontroversi”, diam-diam teknologi ini terus berkembang. Saat ini, pengobatan dengan teknologi stem cell telah digunakan untuk pengobatan diabetes, skin replacement, kanker, stroke, penyakit jantung dan lain-lain.

Semoga, segala kontroversi dan perdebatan baik soal “etik” maupun “doktrin keagamaan”, bisa segera mencapai “titik temu”, sehingga tehnik pengobatan yang diyakini bisa menyelamatkan jutaan nyawa manusia dari penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya ini bisa terus berkembang.

 

Semoga bermanfaat.

Salam,

BP – 26.03.2014

 

 

* Artikel ini diambil dari buku “Manajemen Farmasi industri, Priyambodo, Penerbit Global Pustaka, 2007”.

 

 

 

 

 

 

Menjelang AEC 2015, Sudah Siapkah Industri Farmasi Kita?

Dear friends,

Tanpa terasa saat ini kita sudah menapaki bulan ketiga di tahun 2014. Tidak lama lagi, negara – negara di Asia Tenggara, khususnya yang tergabung di dalam ASEAN-10, akan memasuki “era baru”, yaitu diterapkannya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) per tanggal 31 Desember 2015.

 

AEC 2015Asean Economic Community (AEC) merupakan kesepakatan yang dibangun oleh sepuluh negara anggota ASEAN. Terutama di bidang ekonomi dalam upaya meningkatkan perekonomian di kawasan dengan meningkatkan daya saing di kancah internasional agar ekonomi bisa tumbuh merata, juga meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan yang paling utama adalah mengurangi kemiskinan.

AEC merupakan realisasi dari Visi ASEAN 2020 yaitu untuk melakukan integrasi terhadap ekonomi negara-negara ASEAN dengan membentuk pasar tunggal dan basis produksi bersama. Di atas kertas, AEC bertujuan untuk menyatukan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Ada empat pilar utama dalam cetak biru AEC. Pertama, pembentukan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi regional. Kedua, ASEAN sebagai kawasan berdaya saing tinggi. Ketiga, ASEAN sebagai kawasan dengan pembangunan ekonomi merata. Keempat, ASEAN sebagai kawasan terintegrasi dengan ekonomi dunia. Dalam pelaksanaan AEC, negara-negara ASEAN harus memegang teguh prinsip pasar terbuka dan ekonomi yang digerakkan oleh pasar. Dengan kata lain, konsekuensi diberlakukannya AEC adalah liberalisasi perdagangan barang, jasa, dan tenaga terampil secara bebas dan tanpa hambatan tarif dan nontarif.

Salah satu komoditas yang termasuk di dalamnya adalah produk dan jasa kesehatan, termasuk di dalamnya adalah Obat-obatan.

Pertanyaan yang mengemuka dan sering dibahas dalam berbagai seminar atau pertemuan adalah apakah industri farmasi kita siap menghadapi AEC 2015 tersebut? Bagaimana kita mensikapi hal tersebut, haruskah kita optimis bahwa AEC akan membuka peluang bagi kita untuk “melebarkan sayap” atau justru pesimis, karena kita akan menjadi “pasar” bagi produk – produk dari negara lain? Mari sejenak kita dedah masalah ini.

 

Jumlah Penduduk Terbesar = Pasar Terbesar

ASEAN 4Kawasan ASEAN merupakan salah satu kawasan yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar dibandingkan dengan kawasan lain di seluruh dunia. Tidak kurang dari 600 juta jiwa (9 %) dari populasi dunia, mendiami kawasan kawasan ini.  Bahkan lebih besar dibanding dengan jumlah seluruh penduduk di wilayah Eropa atau Amerika Serikat. ASEAN - populaltion

 

Selain jumlah penduduk yang besar, Kawasan ASEAN juga merupakan pasar yang sangat potensial. Kekuatan ekonomi ASEAN sendiri bertumbuh semakin besar. Pada tahun 2013, ekonomi kawasan ini  berhasil menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 3,36 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 5,6% dari tahun sebelumnya.

Faktor-faktor inilah yang  menjadikan kawasan Ekonomi ASEAN memiliki nilai strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Asia.

ASEAN 3Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya potensi ekonomi yang dihasilkan dari kawasan ini. Suatu kawasan dengan jumlah penduduk lebih dari 600 juta jiwa dan memiliki daya beli yang cukup tinggi, sungguh merupakan daya tarik pasar yang sangat luar biasa.

 

Pasar Farmasi ASEAN

Menurut data yang dipubilkasikan oleh IMS Health (2013) pasar farmasi dunia pada tahun 2011 adalah sebesar $ 956 Milyard. Diperkirakan pada tahun 2017 yang akan datang, pasar farmasi dunia akan menembus angka $ 1.200 Milyard, naik sebesar $ 205 – 235 Milyard dibanding tahun 2012.

 GLOBAL PHARMA MARKET 2008 - 2017

Pasar farmasi terbesar di dunia, tetap dikuasai oleh pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa, masing-masing sebesar 38 % dan 24 %. Lihat grafik berikut :

 

GLOBAL PHARMA MARKET 2012

Meskipun pasar farmasi dunia masih dikuasai oleh negara-negara Barat, namun pertumbuhan pasar didominasi oleh negara-negara yang disebut sebagai Pre-emerging Market. Lihat grafik di bawah ini :

 

GLOBAL PHARMA MARKET 2012 (%)

Dari data IMS Health tersebut terlihat bahwa pasar farmasi di Asia tenggara, khususnya di kawasan ASEAN, tumbuh sangat pesat. Pasar farmasi di kawasan ASEAN sendiri pada tahun 2003 mencapai $ 5 Milyard. Dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbangkan sekitar 50%-nya. Lihat grafik berikut :

 

ASEAN 5    pasar-farmasi-asean (%)

 

Di sisi lain, apabila kita lihat data konsumsi obat perkapita, Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara-negara ASEAN lainnya. Lihat grafik berikut :

 

ASEAN Konsumsi Obat Perkapita

Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar obat di Indonesia masih sangat besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, jika kita tidak hati-hati dan waspada bukan tidak mungkin, bangsa kita akan menjadi “tamu” di negeri sendiri. Potensi pasar yang sedemikian besar, akan menjadi “rebutan” industri farmasi dari negara-negara lain.

Mari sejenak kita tengok kondisi industri farmasi di negara-negara ASEAN lainnya. Dari ke-sepuluh negara ASEAN, baru 3 negara yang menjadi anggota PIC/S, yaitu Indonesia, Singapura dan Malaysia. Sementara, Thailand, Filipina, dan Vietnam masih dalam tahap permohonan (aplikasi). Dengan demikian “musuh” kita di kawasan ini hanyalah dari Singapura dan Malaysia.

 

Singapura

Dari data yang di-release oleh majalah Biospectrum Asia tahun 2008 dan Majalah Pharmaceutical technology tahun 2006, sejak menerapkan cGMP dan menjadi anggota PIC/S, SELURUH industri farmasi LOCAL di Singapura “gulung tikar”. Saat ini, industri farmasi yang masih exist di negeri Singa ini, hanyalah industri farmasi Asing (multinasional company).  Dengan pangsa pasar sebesar $ 350 Juta (tahun 2006), industri farmasi di Singapura, tidak saja menjadi pusat produksi namun juga menjadi pusat distribusi dari perusahaan-perusahaan multinasional ini.  Tentu saja dengan biaya investasi yang sangat mahal, perusahaan-perusahaan ini tentu akan membidik pasar “orang-orang kaya” di kawasan ini. Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, diperkirakan jumlah “orang kaya” di negara-negara ASEAN akan terus meningkat. Hal ini-lah yang menjadi sasaran dari industri farmasi di Singapura. Termasuk, tentu saja, “orang-orang kaya” dari Indonesia yang memang doyan berobat di luar negeri 🙂

Berikut sekilas gambaran industri farmasi di Singapore :

 

ASEAN - Singapore

 

Malaysia

Pasar farmasi di Malaysia, pada tahun 2007 sebesar $ 1.027 juta dan diperkirakan pada tahun 2013 sebesar $ 1.800 juta. Suatu angka yang relatif kecil. Satu fakta bahwa sejak bergabung dengan PIC/S, hampir 50% industri farmasi di Malaysia “gulung tikar”. Tiga industri farmasi terbesar di Malaysia, yaitu Pharmaniaga, Hovid dan Apex Healthcare sangat menyadari kecilnya pangsa pasar di negaranya. Untuk itu, ketiga industri farmasi terbesar di Negeri Jiran ini telah melakukan eksport ke berbagai negara. Hovid, misalnya telah mengeksport produknya ke lebih dari 35 negara, di mana 60% dari revenue mereka, berasal dari eksport. Hal yang sama juga dilakukan oleh industri farmasi di Malaysia lainnya. Selain itu, dengan “hingar-bingar” indutri biotechnolgy, juga menarik industri farmasi di Malaysia untuk mengembangkan diri. Apalagi dukungan penuh dari pemerintah Malaysia, industri biotechnology berkembang pesat di Malaysia.

Berikut gambaran industri farmasi di Malaysia :

 

ASEAN - Malaysia

 

Dari berbagai ulasan tersebut di atas, ada beberapa hal yang patut kita waspadai, antara lain :

  • Pasar Indonesia yang sangat besar, akan mendorong industri farmasi dari luar, untuk masuk ke dalam pasar Indonesia. Pengalaman penulis di lapangan menunjukkan bahwa saat ini, beberapa perusahaan yang berbasis di Singapore maupun Malaysia, sangat gencar mencari mitra-mitra usaha di negeri ini. Mereka tahu bahwa Indonesia sudah menjadi anggota PIC/S, sehingga mutu produk kita terpercaya. Hal ini perlu kita waspadai sebagai upaya bagi mereka untuk masuk ke pasar Indonesia, melalui berbagai upaya kerja-sama ini. Jangan sampai nantinya kita justru menjadi “kacung-kacung” mereka.
  • Meningkatnya pendapatan perkapita di Indonesia, mendorong para “orang kaya” di negeri ini untuk mencari alternatif pelayanan kesehatan di negara lain. Apalagi jika memang pelayanan di luar negeri tersebut, jauh lebih baik kualitasnya dibanding dengan pelayanan kesehatan di dalam negeri. Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa pelayanan kesehatan di negeri ini “acak-kadut” gak karuan.

Pasar Bebas ASEAN, membuka banyak peluang dan kesempatan bagi kita untuk memperluas pasar farmasi, juga sekaligus tantangan apakah kita mampu bertahan atau bahkan memasuki pasar mereka. Jumlah penduduk ASEAN yang 600 juta, tentu lebih besar dari 250 juta penduduk Indonesia. Sekarang tergantung pada kita, mau “ikut bermain” atau hanya sekedar jadi penonton. Pilihan ada di tangan kita.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

BP – 21.03.2014

Meneropong Bisnis Industri Farmasi Di Tahun Kuda

tahun kudaMenurut penanggalan Cina, tahun 2014 dikenal sebagai tahun kuda kayu. Konon, kuda kayu melambangkan instabilitas dan gangguan. Tahun kuda kayu ditandai berbagai peristiwa besar dunia, misalnya tahun 1894 mulai meletusnya perang China – Jepang. Tahun kuda kayu juga ditandai dengan berakhirnya perang Perancis – Vietnam pada tahun 1954, dengan kekalahan tragis di pihak Perancis. Pasar properti, bursa saham, valas, ekonomi, maupun politik semuanya diramalkan dalam ketidak-stabilan. Jelas bukan merupakan tahun yang mudah, penuh dengan tantangan, kerja keras, dan penuh ketidak-pastian. Entahlah, saya bukan ahli feng shui, silahkan jika Anda percaya atau tidak percaya, monggo saja…

Kerja keras, penuh dengan tantangan dan ketidak-pastian, nampaknya juga akan mewarnai perjalanan dunia bisnis industri farmasi sepanjang tahun kuda kayu ini. Memasuki tahun 2014, industri farmasi sudah dirundung berbagai persoalan. Mulai dari kenaikan UMR/UMP, kenaikan harga listrik, BBM industri dan lain-lain. Di sisi lain, ambisi Pemerintah untuk melaksanakan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), nampaknya masih amburadul. Ketidakjelasan persiapan pemerintah terkait implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2014 membuat pergerakan bisnis farmasi sedikit mengendur. Target pertumbuhan yang semula 14% direvisi menjadi hanya 12% saja.

Sebagaimana kita ketahui bahwa industri farmasi di Indonesia merupakan salah satu industri yang bertumbuh sangat pesat. Selama bertahun-tahun pertumbuhan industri di sektor ini, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan secara Nasional. Pasar farmasi nasional diperkirakan tumbuh rata-rata 13% per tahun pada 2011 – 2015. Pasar farmasi nasional pada 2013 sendiri diperkirakan sebesar USD 5,88 miliar dan meningkat menjadi USD 6,61 miliar pada tahun 2014. Obat resep (ethical) mendominasi sekitar 60% pasar farmasi nasional dan sisanya 40% adalah obat bebas (over the counter/OTC). Obat resep sendiri terdiri dari obat patent (30%) dan obat generik (70%), dimana obat generic terbagi lagi menjadi obat generik bermerek dan obat generik biasa (OGB). Dalam hal ini pangsa OGB di Indonesia masih relatif kecil (<20% dari total pasar obat generik). Potensi pertumbuhan obat resep ke depan, khususnya obat generik, diharapkan akan semakin tinggi seiring dengan implementasi SJSN.

Pasar Farmasi Indonesia 2014      Pasar OGB

Bahan baku masih menyumbang sebagian besar biaya produksi industri farmasi (60% – 70%). Sementara itu, sekitar 90% bahan baku obat masih diimpor sehingga dapat disimpulkan bahwa import content dalam industri ini tinggi. Asosiasi perusahaan pemasok bahan baku obat, Pharma Materials Management Club (PMMC) memproyeksikan impor bahan baku farmasi Indonesia pada 2013 mencapai USD1,35 miliar, naik 15,4% dibandingkan tahun 2012 yang sebesar USD 1,17 miliar. Mengingat tingginya import content pada industri ini, fluktuasi Rupiah menjadi concern dalam bisnis farmasi, terlebih di saat kecenderungan Rupiah terdepresiasi seperti saat ini (meskipun dalam beberapa hari terakhir ini rupiah cenderung menguat, namun masih jauh di atas harga psikologis Rp. 10.000,-/USD). Pelemahan Rupiah memang tidak serta merta menaikkan harga obat karena perusahaan telah memiliki management stock impor bahan baku. Namun jika Rupiah terus melemah dalam waktu satu hingga dua kuartal, maka potensi perusahaan farmasi untuk menaikkan harga jual obatnya akan semakin besar.

Biaya Produksi  kurs USD

SJSN : Berkah atau Bencana?

Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan sebuah sistem jaminan sosial yang ditetapkan di Indonesia dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 2004. Jaminan sosial ini adalah salah satu bentuk perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh negara Republik Indonesia guna menjamin warganegaranya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar yang layak, sebagaimana dalam deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948 dan konvensi ILO No.102 tahun 1952.

UU No.40 tahun 2004 tentang SJSN menggantikan program-program jaminan sosial yang ada sebelumnya (Askes, Jamsostek, Taspen, dan Asabri) yang dinilai kurang berhasil memberikan manfaat yang berarti kepada penggunanya, karena jumlah pesertanya kurang, jumlah nilai manfaat program kurang memadai, dan kurang baiknya tata kelola manajemen program tersebut. Manfaat program Jamsosnas tersebut cukup komprehensif, yaitu meliputi jaminan hari tua, asuransi kesehatan nasional, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kematian. Program ini akan mencakup seluruh warga negara Indonesia, tidak peduli apakah mereka termasuk pekerja sektor formal, sektor informal, atau wiraswastawan.

Namun demikian, implementasi program yang sudah cukup lama dirancang oleh Pemerintah ini, hingga saat ini ternyata masih amburadul. Disinyalir, hal ini disebabkan oleh karena belum adanya juklak dan juknis yang jelas. Inilah yang menyebabkan terjadinya kebingungan pelaksanaan di lapangan.

Industri farmasi nasional pada awalnya sangat antusias menyambut kebijakan pemerintah ini. Beberapa perusahaan farmasi nasional ekspansi besar-besaran untuk menyambut berlakunya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang dijalankan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Total dana yang digelontorkan diperkirakan sekitar Rp 5 triliun. Dana itu digunakan untuk menambah kapasitas pabrik, apotek, klinik dan memenuhi sejumlah persyaratan BPJS. Beberapa produsen farmasi yang gencar berekspansi adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Mereka meyakini SJSN bakal mendongkrak penjualan obat generik hingga 2-3 kali lipat, sehingga kapasitas pabrik perlu ditambah. Namun apa daya, hingga pertengahan Maret 2014 ini, kabar mengenai e-catalog masih simpang siur, masih penuh ketidak-pastian (Naaah… cocok kan dengan ramalan di atas 🙂 )

Di sisi lain, pelaksanaan SJSN juga membawa dampak lain, yaitu terjadinya perang harga di antara sesama produsen obat ini. Setiap industri akan berusaha menawarkan harga obat generik serendah-rendahnya agar dapat memenangkan tender e-catalog. Harga obat akan terus cenderung turun. Padahal seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, beban biaya semakin meningkat, tapi harga jual terus cenderung menurun… lagi-lagi kondisi yang membingungkan 😦

Akibatnya bisa diduga, hanya industri berskala dan bermodal besarlah yang mampu bertahan. Sedangkan bagi industri farmasi yang kecil-kecil, yang biasa main tender kecil-kecilan di daerah-daerah pinggiran, sudah semakin tidak kebagian kue. Hal ini disebabkan karena semua pengadaan obat dilaksanakan secara nasional melalui tender e-catalog. Lengkaplah sudah penderitaan…  hanya tinggal menunggu lonceng kematian… Wallahuallam.

Selamat Tahun Kuda.. Gong Xi Fa Cai…

Salam hangat,

BP – 12.03.2014