Arsip Kategori: Stem cell

KEMANDIRIAN INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT, SEBUAH UTOPIA TIADA BERTEPI

images (4)

Saya masih ingat, kira-kira 20 – 25 tahun yang lalu, pada saat masih menjadi mahasiwa Fakultas Farmasi UGM, saya pernah membuat sebuah tulisan tentang “Quo Vadis Industri Farmasi di Indonesia” yang saya ikutkan dalam sebuah Lomba Karya Tulis Ilmiah. Alhamdulillah, karya tersebut menjadi Juara III tingkat Nasional.

Salah satu hal yang menjadi sorotan saya waktu itu salah satunya adalah tidak adanya industri bahan baku obat yang dibangun di Indonesia. Kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah, justru malah “mematikan” industri bahan baku yang ada pada saat itu. Tumpang tindih kebijakan soal industri farmasi inilah salah satu penyebab “mandul”nya industri bahan baku di tanah air, di tengah gegap-gempitanya perkembangan industri farmasi di Indonesia. Industri ini pun, seperti yang kita lihat sekarang, seolah seperti sebuah pohon besar dengan daun dan dahan yang sangat rimbun namun ternyata tidak ditopang oleh akar yang kuat. Sehingga sekali kena tiup angin yang “agak kencang sedikit” langsung tumbang…

Selama bertahun-tahun, industri farmasi di”nina-bobo”kan dengan perkembangan dan pertumbuhan yang luar biasa. Bahkan pernah mencapai 23% pertahun, dan Indonesia pun menjadi salah satu emerging country di bidang pharmaceutical industry. Ternyata, pertumbuhan ini dipicu dengan adanya berbagai “kemudahan” yang “dinikmati” oleh industri farmasi di Indonesia. Menjadikannya “manja” dan sangat tergantung dengan berbagai macam fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Coba tengok, kebijakan penghapusan pajak masuk bagi bahan baku farmasi di Indonesia, alias 0%. Bandingkan dengan pajak masuk 35% yang dikenakan oleh pemerintah India. Atau bahkan larangan sama sekali impor bahan baku yang telah diproduksi di dalam negeri oleh Pemerintah China. Berani melanggar? Sepasukan regu tembak siap menghantar ke liang lahat. Hasilnya : India menjadi negara pemasok Obat Generik TERBESAR di Amerika Serikat. China, menjadi PEMASOK BAHAN BAKU OBAT TERBESAR di seluruh dunia. Sedangkan kita? Tetap menjadi negara pengimpor yang konsisten.

Pemerintahan kedua negara tersebut (China dan India) memang tidak main-main. Sebut saja India, mereka dengan “gagah berani” mengeluarkan apa yang disebut dengan “Patent Act” yang menyatakan bahwa perlindungan hak paten TIDAK BERLAKU bagi produk-produk Farmasi, Pertanian dan Nuklir. Akibat dari kebijakan ini, India harus menghadapi embargo dari para raksasa farmasi dunia. Akibatnya, selama bertahun-tahun rakyat India menderita karena tdk tersedianya obat-obatan di prasarana kesehatan mereka. Namun kelangkaan obat-obatan ini memicu kerja keras dan kreatifitas mereka. Hasilnya? Saat ini India merupakan pemasok 40% obat generik di seluruh dunia. TIDAK ADA SATU OBAT PUN YANG TIDAK BISA DIBUAT DI INDIA. Bahkan obat yang paling baru pun, copynya sudah bisa dibuat oleh mereka. Soal Paten? Pemerintah India dengan sangat gagah berani berdiri di belakang industri farmasi India. Tak terhitung berapa kali gugatan para “Big Pharma” soal paten ini KANDAS di pengadilan India.

China? jangan tanya lagi. Sebutkan negara mana yang tdk mengimport bahan baku dari China? Bahkan negara Super Power seperti Amerika Serikat pun meng-import bahan baku dari China. Padahal dulu mereka juga sangat menderita karena tidak punya persediaan obat yang cukup untuk penduduknya. Namun pemimpin besar China, Deng Xiaoping, dengan “gagah perkasa” mengeluarkan kebijakan yang amat sangat mendukung perkembangan industrinya. Seluruh industri farmasi di China di akuisisi oleh Pemerintah Daerah sehingga memudahkan pengerahan modal dan sumber daya manusia. Kemudian, ada kebijakan untuk MELARANG SAMA SEKALI import bahan baku yang sudah dibuat di negeri itu. Pejabat negera yang ketahuan coba-coba kongkalikong dengan pengusaha, untuk memburu rente, siap-siap menghadapi moncong senapan regu tembak. Tak terhitung berapa pejabat tinggi di China yang mengakhiri hidupnya diterjang timah panas di tengah lapangan dan disaksikan oleh rakyat banyak..

Kebijakan yang berpihak dan pelaksanaan yang konsisten, syarat utama agar negeri ini bisa mandiri.. berdiri sama tinggi dengan negera – negara lain di dunia. Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak?

NASIB INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT : HIDUP SEGAN MATI TAK MAU

Saat ini, 96% bahan baku obat masih harus kita import dari luar negeri. Hanya ada segelintir industri bahan baku yang masih eksis di negeri ini. Segelintir yang exist ini, antara lain :

  1. PT. Sinkona Indonesia Lestari (SIL) yang memproduksi bahan baku kina (quinine). PT. SIL merupakan anak perusahaan PT. Kimia Farma. Pada masa jayanya, perusahaan ini mampu memproduksi 150 ton pertahun, yang menjadikannya pabrik kina TERBESAR di seluruh dunia. Namun lagi-lagi kendala klasik, mewarnai perjalanan perusahaan plat merah ini. Mesin-mesin yang sudah mulai menua, teknologi yang sudah usang, masalah pencemaran lingkungan dan sebagainya. Perlahan namun pasti, perusahaan ini pun mulai memasuki masa-masa suram. Apalagi ditambah dengan adanya kenyataan Bahan Baku Kulit Kina pun harus diimport dari China.. Pasar pil kina pun saat ini terus tergerus dengan munculnya obat-obat yang jauh lebih modern.. Lengkaplah sudah penderitaannya….
  2. PT. Riasima Abadi Farma (RAF), yang merupakan perusahaan patungan antara PT. Kimia Farma, PT. Indofarma dan PT. Askes (persero). Pada tahun 1981-1982, RAF mampu membuat Parasetamol dengan teknologi dari Taiwan dan mesin dari Jepang, tetapi sulit untuk menjual karena harga yang relatif mahal. Pada kurun waktu 1982 – 1990 Parasetamol ex RAF mendapat proteksi 100% dari Pemerintah sehingga RAF bisa menjual Parasetamol ke pasar domestik. Sejak tahun 1988 RAF bisa membuat Para Amino Phenol (PAP) sendiri, namun kemunduran dialami sejak tahun 1993 dimana datangnya PAP dari China dengan harga yanglebih kompetitif. Dengan harga PAP yang berbeda dengan China mengakibatkan penjualan menurun dan sampai dengan saat ini Parasetamol ex RAF tidak bisa bersaing dengan Parasetamol ex China.
  3. PT. Sandoz Biochemie Farma Indonesia (SBFI) yang berdiri tahun 1987, merupakan Perusahaan Patungan antara Sandoz (Swiss) dan Biochemie (Austria) sebesar 55% saham dengan PT. Anugerah Daya Laksana dan Kimia Farma sebesar 45% saham. SBFI pada saat awal berdiri merupakan produsen bahan baku terkemuka, terutama Amoxicillin dan Ampicillin, yang diproyeksikan mampu memproduksi sampai 100 ton bahan baku obat. Dalam perkembangannya SBFI harus menyerah karena tingginya biaya produksi dan regulasi yang tidak memihak. SBFI akhirnya tutup karena iklim industri tidak memihak. Produk Amoxicillin dan Ampicillin SBFI tidak bisa bersaing dengan produk sejenis dari China.

Hampir seluruh industri bahan baku obat tersebut di atas kondisinya sudah “Hidup Segan – Mati Tak Mau”. Hampir semuanya kalah bersaing dengan produk-produk impor. Dengan “nyaris” tanpa adanya “perlindungan” dari Pemerintah, apakah masih punya mimpi untuk membangun kemandirian industri bahan baku obat di Indonesia? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang…..

Selama lebih dari TIGA dasawarsa, sejak dibukanya kran investasi di bidang farmasi, wacana, debat dan kajian mengenai Kemandirian Industri Bahan Baku Obat di negeri ini seolah menjadi utopia tiada akhir. Mimpi untuk memiliki industri bahan baku obat sendiri, seolah menjadi “ladang” kajian tiada akhir. Setiap ganti Menteri, lagu yang dinyanyikan pun nyaris sama. Betapa pentingnya kemandirian di bidang bahan baku obat. Lalu membuat “kebijakan baru”, membentuk Team baru, Satgas baru. Seminar di sana-sini.. Para pakar, Profesor, Doktor bahkan kalau perlu pembicara paling top dari seluruh dunia diundang dengan biaya mahal untuk memberikan “mantra sakti”nya. Bertumpuk kertas kerja, kajian, studi kelayakan dan sebagainya yang terakhirnya hanya berakhir di rak-rak perpustakaan yang kemudian menjadi lapuk dan berdebu dimakan rayap. Mimpi tetaplah menjadi mimpi yang entah kapan menjadi kenyataan… Seolah bangsa ini mentasbihkan dirinya menjadi bangsa yang paling jago berwacana, namun tidak ada tindakan nyata alias tidak kemana-mana..”No Where”… duuuh..

Sudahlah, kalau sekedar mengeluh, menangisi segala “keterlambatan” kita dibandingkan negara-negara lain, artinya kita sama juga dengan “pendahulu-pendahulu” kita yang sedang kita “hujat” sekarang ini. Lalu solusi-nya bagaimana?

JENIS – JENIS INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT

Oke, sebelum sampai ke solusi kita lihat dulu bagaimana “peta” industri ini secara mendalam. Ada baiknya juga kita belajar dari bangsa-bangsa lain bagaimana mereka membangun industri ini. Sebut saja China, India, atau Korea adalah negara-negara yang disebut “berhasil” dalam membangun industri bahan baku obat.

Secara garis (untuk memudahkan pembahasan), ada 4 jenis bahan baku obat yang digunakan oleh industri farmasi, yaitu :

1. Bahan baku obat aktif (BBAO) yang diproses secara kimiawi
2. Bahan baku obat tambahan (eksipien)
3. Bahan baku obat aktif yang diproses secara Bioteknologi
4. Bahan baku obat aktif yang berasal dari Sel Punca (Stem cell), yang merupakan teknologi baru dalam pengembangan bahan baku aktif obat.

Mengapa pengembangan bahan baku dari alam tidak dimasukan? Bukankah negeri ini sangat kaya akan bahan alam yang bisa dibuat bahan baku obat? LUPAKAN SAJA kajian/wacana soal pengembangan obat bahan alam ini jika kita bicara mengenai industri bahan baku obat farmasi. Mengapa? karena untuk menjadikan Obat Bahan Alam SETARA dengan Obat Bahan Baku Farmasi dan DIAKUI sebagai OBAT jalannya masih teramat sangat panjang dan berliku. Belum lagi biaya yang dikeluarkan juga amat sangat besar. Obat bahan alam PALING POLL hanya sampai menjadi FITOFARMAKA, belum pernah ada hingga menjadi SEDIAAN OBAT. Jadi lupakan saja MIMPI untuk menjadikan bahan alam sebagai bahan baku obat.

Membangun industri bahan baku obat memang tidak tidak mudah dan tidak murah. Selain proses yang sangat panjang, rumit, dan kompleks juga tingkat keberhasilan yang sangat bervariasi. Selain itu masih ada lagi isu-isu soal keamanan serta lingkungan, membuat industri ini membutuhkan modal dan investasi yang sangat mahal dengan ROI (Return On Investment) yang sangat panjang. Diperlukan “nyali besar” untuk terjun dalam bisnis ini.

images (1)

Seperti tersebut di atas terdapat 4 jenis industri bahan obat, yaitu Bahan baku obat aktif (BBAO) yang diproses secara kimiawi; Bahan baku obat tambahan (exipient); Bahan baku obat aktif yang proses secara bioteknologi serta Bahan baku aktif yang dikembangkan dari sel punca (stem cell). Mari kita bahas satu-persatu agar kita bisa memilih dengan tepat jenis mana yang bisa kita kembangkan di Tanah Air.

Saat ini kita mengimport lebih kurang 851 item bahan baku obat aktif (BBAO) dan 441 item bahan baku pembantu/tambahan (eksipient). Sebagian besar dari China dan India, serta sebagian kecil dari Korea, Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Kalau kita pilah-pilah dari sebagian besar BBAO dan seluruh bahan baku tambahan (eksipient) merupakan senyawa kimia yang diproses atau diproduksi secara kimiawi. Artinya bahan-bahan tersebut merupakan PROSES SINTESA KIMIA. Kebanyakan (kalau tidak bisa dikatakan semua) bahan-bahan ini kita impor dari 2 negara, yaitu China dan India. Mengapa? pasti sudah tahu jawabannya kan.. Ya betul sekali, karena faktor harga yang murah dan mutu yang boleh dikatakan lumayan..

Sebagian dari Bahan Baku Aktif Obat (BBAO) diproses atau diproduksi dengan menggunakan secara BIOTEKNOLOGI, terutama bahan baku obat-obat yang tergolong “baru”. Misalnya obat kanker, obat diabetes, obat jantung, dan sebagainya. Kalau kita lihat lebih jauh lagi, ternyata obat-obat jenis ini kita datangkan dari berbagai macam negara. Selain dari China dan India, juga kita impor dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan juga Korea. Bahan baku jenis ini biasanya diproses dengan menggunakan Bioteknologi yang membutuhkan teknologi “tingkat tinggi” karena prosesta sangat rumit dan sangat kompleks.

FB_IMG_1446827817222

Kita sudah “belajar” bagaimana China dan India membangun industri bahan baku obat-nya. Kalau China, mengandalkan infrastruktur yang telah dipersiapkan dengan matang puluhan tahun silam oleh pemimpin besar meraka, Deng Xiaoping. Sedangkan India, lebih unggul karena faktor “kreatifitas”, “Kecerdikan” dan sifat pantang menyerah mereka yang luar biasa. Puluhan tahun mereka menderita karena embargo dari negara-negara Barat, saat ini mereka menikmati buah dari kerja keras dan pengorbanan yang mereka lakukan.

Jadi pilihan yang tersedia buat kita untuk membangun industri bahan baku obat yang berbasis senyawa kimia adalah MEMBANGUN INFRASTRUKTUR ala China atau SUPER KREATIF DAN RELA MENDERITA ala India… Masing-masing memiliki konsekuensi dan risikonya sendiri-sendiri..

Untuk membangun infrastruktur jelas membutuhkan biaya yang sangat besar. Pemerintahan sekarang “baru mulai” membenahi infrastruktur ini. Namun, badai krisis tidak terduga datang dengan tiba2.. saya tidak tahu apakah pemerintah sekarang memiliki “nyali” untuk terus menggenjot pembangunan infrastruktur ini di tengah derasnya hujatan, cacian dan makian rakyatnya sendiri.. duuuh…

Jalan tengah yg bisa kita tempuh adalah dengan menggabungkan “kreatifitas” ala India dengan keterbatasan infrastruktur yg kita miliki saat ini. Apa itu? Bikin “terobosan” baru dalam hal sintesis kimia. Kita tidak kekurangan ahli Kimia Sintesa. Tidak terhitung berapa Profesor – Doktor yg dimiliki bangsa ini. Saya yakin, jika mereka difasilitasi, akan lahir “penemuan-penemuan” yg brilian. Ada banyak cerita bagaimana “kreatif”nya bangsa ini.. tapi sayang tidak mendapatkan panggung yg layak buat mereka. Ada banyak “Habibie-Habibie” muda kita yg saat ini tersebar di seluruh penjuru dunia yg siap mengabdikan diri pada Bumi Pertiwi.. Yang terpenting ARAHNYA harus benar. Tidak usahlah BERMIMPI menemukan senyawa baru (NCE), cukup konsentrasi untuk menemukan proses sintesa yg lebih sederhana.. lebih murah dan lebih efisien. Saya kira akan banyak industri yang siap menyambut hangat temuan Anda..

KASUS OSELTAMIVIR : PELAJARAN BERHARGA DARI NEGERI HINDUSTAN

Bicara soal industri bahan baku obat, ada sebuah kisah yang sangat menarik untuk kita renungkan dan menjadi bahan kajian kita bersama.

Sekitar tahun 2005 yang lalu, dunia dihebohkan dengan merebaknya penyakit FLU BURUNG. Seluruh dunia dilanda kepanikan luar biasa karena terjadi kekhawatiran wabah flu burung yang mula terjadi di Asia Timur, yang semula hanya menular dari hewan ke manusia, berubah menjadi pandemi yang bisa menular antar manusia. Tentu, kekhawatiran ini sangat beralasan, karena hal yang sama pernah terjadi pada tahun 1920-an. Jutaan orang meninggal di seluruh dunia disebabkan wabah flu, yaitu Spanish flu (Flu Spanyol). Akibat dari kepanikan tersebut, satu-satunya obat flu burung yang ada saat itu, yaitu OSELTAMIVIR yang dijual dengan merk dagang TAMIFLU (buatan Roche) menjadi sangat kewalahan melayani permintaan. Obat ini pun dijual dengan harga yang sangat mahal. Tidak kurang dari Rp. 200 ribu per-dosisnya. Pihak ROCHE berkilah bahwa proses pembuatan obat ini sangat rumit, melibatkan tidak kurang dari 14 tahapan proses. Selain itu, proses ini juga sangat berbahaya karena dalam beberapa tahap melibatkan zat Sodium Azide yang sangat berbahaya (lihat gambar).

Screenshot_2015-09-26-08-36-28-1

Bagi negara-negara kaya, tentu saja hal ini bukan masalah besar. Namun bagi negara-negara miskin, tentu sangat memberatkan. Pada saat duitnya ada, barangnya sudah habis, diborong oleh negara-negara kaya tadi. Kalo kita lihat, dari 189 kasus kematian karena flu burung, sebagian besar adalah penduduk negara miskin. Termasuk Indonesia dengan korban terbesar yaitu sebanyak 79 orang meninggal dunia.

Tentu saja, ROCHE sebagai produsen Tamiflu, sebagai satu-satunya obat anti flu burung menuai untung besar. Namun tiba-tiba di tengah merebaknya kasus ini, sebuah kabar datang dari negeri Hindustan, India. Sebuah perusahaan lokal yang bernama CIPLA berhasil membuat OSELTAMIVIR dengan cara yang lebih sederhana, tidak berbahaya dan tentu saja HARGANYA JAUH LEBIH MURAH. Kalau TAMIFLU dijual seharga Rp. 200 ribu per-dosis, maka Oseltamivir buatan Cipla ini hanya sekitar Rp. 100,- (baca SERATUS RUPIAH) saja perdosis-nya. Dr. Yusuf Hamied, seorang ahli kimia dan sekaligus pemilik perusahaan ini adalah orang dibalik kesuksesan perusahaan ini membuat Oseltamivir versi murah meriah ini. Penemuan ini pun tidak lepas dari dukungan para ahli kimia sintesa dari Mumbay University, India yang bekerja keras untuk menemukan sintesa Oseltamivir dengan cara lebih sederhana, lebih efisien dan jauuh lebih murah.Jika pada proses yang dilakukan Roche hanya menghasilkan 12-15% Oseltamivir murni, maka proses yang dilakukan di Cipla bisa menghasilkan rendemen hingga 40 – 50%. Luarrr biasaa….

Tentu saja ROCHE sebagai pemegang paten dari Oseltamivir tidak terima ada perusahaan lain memproduksi obat yang masih dalam masa paten ini. Pihak ROCHE kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan di India. Tapi apa putusan pengadilan India, bahwa sesuai dengan Patent Act, maka produk-produk farmasi bukan-lah produk yang dilindungi paten-nya. Akhirnya, kandaslah upaya Roche untuk membawa Cipla pada tuntutan milyaran dollar Amerika sebagai konsesi produk ini. Pihak Cipla pun berkilah bahwa proses produksi yang dilakukannya juga BERBEDA dengan proses yang lakukan oleh ROCHE, sehingga dakwaan tersebut tidaklah berdasar. Pemerintah India pun berdiri di belakang perusahaannya, mengingat pada saat itu obat ini juga benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat India dan negara-negara berkembang lainnya, termasuk INDONESIA. Jadi, Oseltamivir yang beredar di Indonesia, bukanlah buatan Roche yang amat sangat mahal itu, tapi buatan India yang murah meriah….

Dari kisah ini dapat kita petik pelajaran penting. Kita masih bisa “bersaing” dalam hal produksi bahan baku obat, asal kita cerdik menghadapinya. Kalau orang India saja bisa, mengapa kita tidak?

Beberapa waktu yg lalu saya sempat “berdebat” panjang dengan salah satu pakar kimia sintesa dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, yg dengan bangga mengungkapkan temuan obat barunya yg lbh “canggih” dari Paracetamol. Beliau dengan bangga menyatakan bahwa sudah ada industri dalam negeri yg tertarik untuk memproduksi secara komersial. Saya katakan IMPOSSIBLE. Kenapa? Ya memang TIDAK MUNGKIN memproduksi “Obat Baru” karena dibutuhkan proses yg amat sangat panjang dari mulai skrinning.. uji toksisitas.. uji pra klinis.. uji klinis fase I.. fase II.. fase III dan seterusnya. Dan itu semua membutuhkan biaya yang sangat luar biasa.. bisa 5-6 TRILYUN rupiah. Mana ada industri di negeri ini yg mau menginvestasikan uangnya untuk senyawa yg belum tentu laku di pasaran… Jadilah debat kusir karena tdk ketemu pemikiran akademisi yg berada di menara gading dg “street fighter” seperti kami. Dan apa yg terjadi? Akhirnya si industri pun pelan-pelan surut.. akhirnya sama sekali tidak ada kabar berita. Investasinyg diharapkan pun tak kunjung terealisasi.. Ya iyalah… kata saya. Tapi sang inventor masih bisa membanggakan karyanya menjadi sebuah buku yg diterbitkan secara international… Ya sudahlah.. selamat atas bukunya… Coba kalau energi dan sumber daya yang ada difokuskan untuk penemuan senyawa yg lama dengan metode dan proses yang baru seperti kasus OSELTAMIVIR buatan CIPLA, INDIA bisa menyelamatkan jutaan nyawa manusia… dan bisnis pun melaju kencang…

INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT MASA DEPAN : BIOTEKNOLOGI

Pengembangan bahan baku obat di Indonesia belum berkembang dengan baik terutama untuk BBO yang merupakan hasil sintesis atau disebut dengan Bahan Baku Obat kimia (BBO kimia). Hingga saat ini tingkat ketergantungan pada bahan baku impor masih sangat tinggi. Pengembangan bahan baku obat pada dasarnya relatif lebih mudah dibandingkan dengan penelitian penemuan obat baru (new chemical entities), yang memerlukan biaya yang sangat besar yaitu lebih dari 1 milyar US dolar, biaya pengembangan ini terus meningkat setiap tahunnya karena tuntutan akan obat yang aman dan mengurangi efek samping yang merugikan kepada pasien. Untuk bahan baku obat sebetulnya lebih pada pengembangan proses sintesa atau perbaikan proses produksi dan bukan pada penemuan molekul baru, bagaimana cara mendapatkan metode terbaik agar dapat dihasilkan BBO sintesis yang baik secara ekonomis.

Beberapa kendala dalam dihadapi terkait pengembangan bahan baku obat sekarang ini antara lain :

  • Kurangnya dukungan kimia dasar. Bahan kimia dasar merupakan bahan kimia yang digunakan untuk proses sintesis obat apabila obat dibuat secara sintesis kimia dan bahan kimia yang mendukung dalam proses isolasi, pemisahan, pemurnian obat untuk bahan obat yg diproduksi secara bioproses. Jika bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan obat tidak tersedia maka Indonesia terpaksa mengimpor bahan baku atau bahan antara dari luar negeri, sehingga yang dilakukan di dalam negeri hanya berupa tahap akhir dari pembentukan bahan baku. Hal ini mengakibatkan biaya yang digunakan untuk produksi menjadi lebih besar sehingga bahan baku yang dihasilkan tidak dapat memenuhi skala ekonomi dan tidak kompetitif dibandingkan bahan baku obat impor.
  • Industri bahan baku obat memerlukan investasi yang besar dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Biaya yang besar akan dibebankan kepada harga bahan baku sehingga bahan baku yang dibuat akan menjadi lebih mahal. Selain itu juga merupakan long term project sehingga hasilnya baru akan dinikmati dalam waktu yang cukup lama.
  • Pasar bahan baku nasional yang relatif kecil dibandingkan dengan kapasitas minimal produksi untuk satu industri bahan baku obat sehingga tidak akan dapat memenuhi skala ekonomi. Walaupun dapat dibuat secara lokal dari segi ekonomis tidak akan kompetitif. Sementara produsen bahan baku dari China dan India sudah jauh lebih maju dan sangat ekonomis.

Dengan berbagai kendala tersebut, membuat upaya kemandirian industri bahan baku obat di Indonesia sangat sulit untuk diwujudkan, terutama jika kita terpaku pada upaya pengembangan bahan baku obat secara sintesa kimia.

Selain melalui pendekatan sintesis kimia, upaya memproduksi Bahan Baku Obat juga bisa melalui proses yang disebut dengan BIOTEKNOLOGI.

Ada cerita menarik seputar pengembangan obat dengan Bioteknologi ini. Begini ceritanya…

biotechnology

Duluu…hingga tahun 1982, insulin diisolasi dari pankreas binatang melalui proses yg rumit dan mahal. Tidak kurang dari 100 pankreas babi diperlukan oleh SEORANG pasien diabetes untuk pengobatan selama satu tahun. Pada tahun 1982, untuk pertama kali insulin diproduksi dari bakteri Escherechia coli secara bioteknologi oleh pabrik farmasi Eli Lilly atas lisensi dari Genentech. Saat ini 200 juta penderita diabetes di seluruh dunia merasakan manfaat dari bioteknologi. Andaikata bioteknologi tidak pernah ada, maka tidak kurang dari 20 juta babi harus dibunuh setiap tahunnya untuk diambil pankreasnya… MENGAGUMKAN BUKAN… he3..

Sejak ditemukannya Bioteknologi, perkembangan penemuan-penemuan senyawa obat berkembang sangat cepat. Saat ini kita telah berada pada tahap apa yang disebut dengan TARGETED THERAPY. Baah.. Apa pula itu??

Targeted Therapy merupakan lompatan besar di bidang Biopharmaceutical technology, terutama berkaitan dengan pengobatan penyakit pada tingkat molekular, misalnya penyakit kanker maupun penyakit-penyakit degeratif lainnya. Secara tradisional, obat-obat kanker (chemotherapy), bekerja “membunuh” sel kanker dengan cara “menghambat” perkembangan sel. Namun selain “membunuh” sel kanker, obat-obat ini juga “membunuh” sel normal. Akibatnya banyak sekali efek samping akibat pengobatan dengan chemotherapy, misalnya anemia, mual, muntah, rambut rontok, diare dan sebagainya. Targeted Therapy, “bekerja” secara spesifik pada tingkatan molekuler (bukan tingkat sel/jaringan seperti pada chemotherapy biasa), dengan cara “memblok” aktifitas molekular sel kanker (malignant cell). Secara garis besar, Targeted Therapy dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
– Pertama, Small Particles Therapy, contohnya : imatinib, Gefitinib, Erlotinib (Tarceva®), dll.
– Kedua, Monoclonal Antibody Therapy, contohnya: Rituximab, Trastuzumab (Herceptin®), Cetuximab (Erbitux®), Bevacizumab (Avastin®), dll.

Saat ini, hampir seluruh obat-obat kanker dan penyakit degeratif lainnya menggunakan pendekatan MAB (Monoclonal Antibody) ini yang digunakan sebagai Targeted Therapy. Dan, berita gembiranya, ternyata teknologi ini SUDAH DIKUASAI dengan baik oleh Putra-putri Indonesia. Sebutlah sebuah anak perusahaan PT. Kalbe Farma yang bernama INNOGENE KALBIOTECH sudah mampu memproduksi sendiri NIMOTUZUMAB – dengan merk dagang TheraCIM – salah satu Targeted Therapy generasi MAB terbaru sehingga efek sampingnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kemoterapi biasa atau bahkan dibandingkan dengan Targeted Therapy yang lain. Namun sayangnya, perusahaan ini TIDAK BERKEDUDUKAN di Indonesia, melainkan di SINGAPURA… Mengapa? Pihak Kalbe menyatakan bahwa keberadaan perusahaan ini di Singapura karena negara tersebut memberikan POTONGAN PAJAK sampai DUA KALI LIPAT terhadap biaya penelitian untuk obat-obat kanker yang dihasilkannya… Selain itu, Singapura juga sangat terkenal dengan Laboratorium Pengujian Klinis (CRO) yang sudah mencapai Taraf Dunia, sehingga tidak ada keraguan sedikit pun dari hasil uji klinis yang dilakukan… Woww.. sungguh tamparan yang amat keras bagi Pemerintah Indonesia, mengapa hal ini bisa sampai terjadi…

Ini adalah BUKTI bahwa sebenarnya kita tidak tertinggal jauh dengan negara-negara yang sudah maju. Tinggal sekarang MAU APA TIDAK? Termasuk di sini adalah peran Pemerintah selaku regulator dan juga mendukung pendanaan dan pemberian berbagai insentif lainnya…

Saya kira tidak terlalu sulit menemukan ahli atau pakar di bidang Monobody Anticlonal. Di Fakultas Farmasi UGM saja, setahu saya, ada banyak Profesor Doktor dibidang MAB yang jika diberikan fasilitas yang memadai serta didukung oleh industri kemudian di-back-up dengan pendanaan, aturan dan regulasi yang mendukung, saya kira mimpi kita untuk bisa membangun industri bahan baku obat secara mandiri akan menjadi kenyataan….

 – Wassalam –

Iklan

Drug Research : Beyond Imagination

Picture1Di antara beberapa sifat unik yang dimiliki oleh manusia (Homo sapiens) dibandingkan spesies lain yang mendiami planet bumi ini adalah kemampuannya untuk mengatasi berbagai berbagai gangguan yang mengganggu kebugaran/kesehatan, baik fisik maupun mental dengan menggunakan obat-obatan. Dari berbagai bukti penggalian situs-situs arkeologis yang berhasil ditemukan menunjukkan bahwa upaya pengobatan/mengatasi berbagai gangguan kesehatan manusia tersebut sama tuanya dengan upaya manusia membuat berbagai peralatan untuk membantu (mempermudah) kehidupannya, seperti pisau, kapak, serta berbagai peralatan lainnya. Pada awal mulanya, berbagai bahan aktif (obat) dikumpulkan, diproses, dibentuk dan disiapkan dari berbagai campuran obat. Inilah cikal bakal profesi pharmacist (apoteker) yang kita kenal saat ini, yaitu sebagai peracik dan penyedia berbagai sediaan obat untuk penyembuhan berbagai gangguan kesehatan, baik pada manusia maupun pada hewan.
Sejak awal kehidupan manusia di muka bumi, farmasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari umat manusia. Dari penggalian situs peradapan kuno pertama kali di Shanidar atau Sumeria (lebih kurang 3000 SM), terkuak bahwa aktivitas pengobatan telah dilakukan dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat. Pengetahuan tentang obat-obatan ini terus berkembang bersamaan dengan semakin meningkatnya pengetahuan manusia tentang tumbuhan maupun hewan yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Pengetahuan tentang obat-obatan ini merupakan rahasia yang dijaga sangat ketat oleh kelompok penyembuh (Shaman/dukun) yang seringkali dibumbui dengan mantra-mantra pemujaan. Meskipun demikian, dari cerita mulut ke mulut akhirnya pengetahuan tentang obat-obat inipun menyebar, seiring dengan penyebaran umat manusia ke seluruh penjuru dunia.

>

>

Picture3Dari berbagai peradapan kuno yang berhasil ditemukan, dari lembah sungai Nil di Mesir, sungai Tigris dan Euphrate di Babilonia (Irak sekarang) dan sungai Kuning dan Yangtze (di daratan Cina kuno) serta sungai Indus di India, ilmu tentang obat-obatan yang diambil dari berbagai bahan alam (baik tumbuhan maupun hewan) terus berkembang seiring dengan perkembangan peradapan manusia.

 

>

>

Picture2Catatan berupa resep-resep pengobatan kuno dapat dijejak dari ditemukannya Papyrus Ebers di kawasan lembah sungai Nil (Mesir), sedangkan jejak pengobatan Cina kuno dapat ditemukan pada Pen T’sao (herbal asli) yang diperkiraan ditulis pada jaman kaisar Shen Nung kira-kira tahun 2000 SM.
Melintasi millenium berikutnya, ilmu pengobatan pun melintas ke dunia Barat dan mencapai puncak kejayaannya pada jaman Yunani kuno. Pada masa ini beberapa filsuf besar dilahirkan. Mereka tidak hanya mengamati dan memanfaatkan bahan alam untuk tujuan pengobatan, tetapi juga menelitinya guna menerangkan apa yang mereka lihat yang secara perlahan-lahan mentransformasikan pengetahuan mengenai obat ke dalam ilmu pengetahuan. Diantara filsuf yang terkenal adalah Paracelsus (1541-1493 SM), yang berpendapat bahwa untuk membuat obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya.

>

>

Picture8Hippocrates (ca. 425 SM) yang menulis tentang sebab-sebab penyakit dan telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Kemudian, Thales (ca. 470 SM) yang mengumpulkan berbagai tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat; serta yang paling berpengaruh terhadap perkembangan pengobatan adalah Dioscorides (65 M) yang menyusun Materia Medica sebagai ensiklopedia obat-obatan standard pertama yang digunakan sebagai panduan pengobatan beratus tahun kemudian. Dalam buku tersebut dijelaskan hampir 500 tanaman dan obat-obatan yang dibuat dari berbagai binatang dan tumbuhan serta menjelaskan secara detail tentang bagaimana cara menyiapkan bahan-bahan tersebut sebagai obat.
Salah satu filsuf yang juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu kefarmasian adalah Galen (130 – 201 M), seorang dokter keluarga kekaisaran Roma yang juga seorang pengajar ilmu farmasi. Galen memperkenalkan banyak obat yang sebelumnya tidak diketahui dan pertama kali mendefinisikan sebuah obat sebagai sesuatu yang bereaksi ke tubuh yang membawa perubahan. Konsep ini merupakan cikal bakal ilmu farmakologi yang dikenal sekarang dan menginspirasi berbagai penemuan tentang obat berabad-abad kemudian.

>

>
Lahirnya Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah di jazirah Arab (570 – 632 M), membawa pencerahan bagi dunia Arab, khususnya di wilayah Timur Tengah dan Africa, bahkan hingga ke Spanyol, pulau Sisilian dan Eropa Timur. Dengan semakin mundurnya kejayaan kerajaan Romawi dan semakin berkembangnya agama Islam dan negara-negara di Timur Tengah (yang di dunia Barat sering disebut dengan “Abad Kegelapan”) maka pengetahuan mengenai obat pun berpindah ke daerah jazirah Arab. Toko obat milik pribadi pertama kali didirikan oleh orang-orang Arab di kota Baghdad pada abad ke 8. Mereka membangun pengetahuan yang diperoleh dari bangsa Yunani dan Romawi. Untuk pertama kalinya pada masa itu dikenal sediaan sirup dan ekstrak alkohol.

 

Picture9Salah seorang ahli obat-obatan Arab yang sangat terkenal adalah Ali Ibn Sina (980 – 1037 M) yang di dunia Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Canon Medicine yang dalam salah satu artikelnya menulis “jika kamu dapat membantunya dengan makanan maka jangan meresepkan obat; jika satu obat adalah efektif maka jangan meresepkan campuran obat”. Kejayaan Islam berakhir dengan jatuhnya kota Istambul (Konstantinopel) Turki pada tahun 1453 M.

>

>
Picture10Berakhirnya masa Islam, berganti dengan masa Renaissance (pencerahan). Pada masa ini, berbagai ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, termasuk ilmu tentang obat-obatan dan farmasi. Penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg, membuat berbagai informasi dengan mudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Pada saat yang sama Columbus menemukan “dunia baru” (benua Amerika) yang membawa serta berbagai bahan yang ternyata dapat berfungsi sebagai obat. Pada masa ini, berbagai senyawa kimia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan mulai ditemukan. Dengan semakin berkembangnya profesi pharmacist (apoteker) maka atas maklumat Raja Frederick, pada tahun 1231 M dilakukan pemisahan profesi dokter dengan apoteker. Dengan adanya pemisahan kedua profesi ini, ilmu farmasi terus berkembang dengan pesat. Tahun 1498 diterbitkan The Nouvo Receptario sebagai Farmakope resmi pertama yang dijadikan pedoman apoteker untuk membuat dan menyiapkan obat. Penemuan berbagai senyawa obat yang berasal dari bahan alam (tumbuh-tumbuhan maupun hewan) terus dilakukan.

>

>
Picture12Perkembangan selanjutnya, membawa para peneliti melakukan isolasi terhadap kandungan bahan alam tersebut untuk memperoleh senyawa kimia yang berfungsi sebagai obat. Misalnya Digoxin yang diekstrak dari daun tanaman Digitalis purpurea yang berfungsi untuk meningkatkan kontraksi otot jantung, Quinine yang diekstraksi dari kulit pohon Cinchona pubescens sebagai obat malaria, dan sebagainya (daftar obat yang diisolasi dari tumbuh-tumbuhan/bahan alam dapat dilihat pada tabel berikut)

 

Picture13a

>

>

 

Picture12aDitemukannya mesin uap oleh James Watt menandai dimulainya revolusi industri. Pada masa ini mulai dilakukan industrialisasi bahan baku obat yang diisolasi dari berbagai bahan alam. Diawali dengan penemuan sintesis Aspirin yang disintesis dari Salicin yang diisolasi dari bunga padang rumput (Filipendula ulmaria, sp.) oleh F. Hoffmann dan Arthur Eichangrün (pendiri industri farmasi Bayer) pada tahun 1893 sebagai cikal bakal “Industri Farmasi” di masa depan.

 

>

>

 

Picture13bMemasuki abad 20, “industri farmasi” terus berkembang dengan pesat. Berbagai penemuan berbagai macam obat baru terus bermunculan mengiringi semakin banyaknya “industri farmasi” baru seperi F. Hoffman – La Roche, Boehringer Ingelheim, dan lain-lain yang tetap exist hingga saat ini.

“Industri Farmasi” yang dimaksud disini adalah industri penghasil bahan obat, baik yang disintesis secara kimiawi maupun diambil dari bahan alam, baik bahan aktif maupun bahan tambahan yang kemudian dipasok ke apotek – apotek dimana para apoteker (pharmacist) membuat racikan obat berdasarkan resep yang ditulis oleh dokter.

 

 

 

Picture14aMemasuki pertengahan abad 20, “industri farmasi” memulai era baru dengan ditemukannya penicillin sebagai antibiotik pertama oleh Sir Alexander Fleming pada tahun 1928 yang diisolasi/fermentasi dari jamur Penicillinum sp. Penemuan ini membuka babak baru dunia industri farmasi dengan memasuki era mikrobiologi. Berbagai obat yang sebelumnya belum pernah dibayangkan oleh umat manusia, satu persatu mulai ditemukan dan telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia, misalnya insulin (1922), sulfonilamide (1935), streptomycin (1944), dan lain-lain.

 

Picture14b

>

>

>

 

Picture16Perang Dunia II (1939 – 1945) membawa kehancuran bagi industri farmasi di Eropa, terutama di Jerman (Barat). Hal ini mengakibatkan bergesernya “peta” industri farmasi dari benua Eropa ke benua Amerika. Berbagai penemuan obat baru terus berkembang di negara adidaya tersebut.

>

>

>

 

Picture17Pada tahun 1953, Dr. J.D. Watson dan Dr. F.H. Crick, ahli biokimia dari Amerika Serikat, untuk pertama kalinya mempublikasikan bentuk tiga dimensi struktur DNA (double helix). Publikasi ini membawa dimensi baru dalam dunia pengobatan dengan dimulainya bentuk pengobatan dalam level molekuler atau yang sering disebut dengan bioteknologi. Dengan adanya penemuan ini memungkinkan ditemukannya obat berbagai penyakit kanker, arthritis rheumatoid, penyakit cardiovaskuler (jantung), HIV/AIDS, dan lain-lain.

 

Picture19

>

>

 

Picture18Saat ini tidak kurang dari 2.075 molekul obat dalam tahap uji klinik fase I dan fase II. Dari jumlah tersebut 95 molekul diindikasikan sebagai anti kanker, 40 molekul anti retrovirus dan HIV. Dua puluh tujuh persen (27%) dari obat yang dalam pengembangan tersebut adalah obat-obat yang dikembangkan dengan bioteknologi (Biospectrum, Asia Edition, Vol.2, 2007).

>

>

 

Picture15aGelombang teknologi pengobatan era mendatang mungkin tidak lagi menggunakan obat-obatan kimia sebagaimana saat ini. Pengobatan dengan obat akan bergeser dengan cara melakukan regenerasi sel pada organ tubuh yang sakit sehingga dapat berfungsi secara normal kembali atau sehat. Pengembangan teknologi pengobatan tersebut yakni dengan mengembangkan sel induk manusia yang dinamakan stem cell.

>

>

 

Picture15b
Stem cell merupakan sel yang tidak atau belum terspesialisasi yang mempunyai kemampuan untuk berdeferensiasi menjadi sel lain. Dalam hal ini stem cell mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel matang, misalnya sel syaraf, sel otot jantung, sel otot rangka, sel pankreas, dan lain-lain. Selain itu, stem cell juga memiliki kemampuan untuk melakukan pembaharuan (self-renew) dan regenerasi dirinya sendiri (self-regenerate). Dalam hal ini stem cell dapat membuat salinan sel yang sama persis dengan dirinya melalui pembelahan sel. Keunikan lainnya adalah kemampuannya untuk dapat berubah menjadi berbagai macam jenis sel yang berbeda-beda, sesuai lingkungannya.
Singkat cerita, bila stem cells kita tanam di jaringan otak, jadi sel otak-lah dia, bila ditanam dijantung, jadi sel jantung-lah dia, dan bila ditanam dijaringan tulang maka jadi-lah dia sel tulang. MENGAGUMKAN BUKAN???

 

Berdasarkan sumbernya, stem cell dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Embryonic stem cell dan Adult stem cell. Embryonic Stem Cell, berasal dari kumpulan sel, bernama inner cell mass, yang merupakan bagian dari embryo fase awal (4-5 hari), yang kita kenal blastocyte. Sedangkan Adult Stem Cell, berasal dari sel yang belum berdiferensiasi di sel orang dewasa, tetapi memiliki sifat-sifat menyerupai stem cells. Termasuk diantaranya tali pusat stem cells dan embryonic carcinoma stem cells.

Picture15c

Embryonic stem cell memilliki sifat Totipotent, artinya memiliki kemampuan yang “hampir tak terbatas”. Sedangkan Adult stem cell, bersifat Pluripotent, dimana kemampuan untuk “menyerupai” sel dewasa lebih terbatas. Satu hal yang menjadi “ganjalan” dalam pengembangan teknologi stem cell adalah adanya “kedekatan” dengan teknolgi “KLONING” pada manusia. Perdebatan etik berkepanjangan, membuat teknologi ini masih harus berada “dipersimpangan jalan”. Meskipun banyak diwarnai “kontroversi”, diam-diam teknologi ini terus berkembang. Saat ini, pengobatan dengan teknologi stem cell telah digunakan untuk pengobatan diabetes, skin replacement, kanker, stroke, penyakit jantung dan lain-lain.

Semoga, segala kontroversi dan perdebatan baik soal “etik” maupun “doktrin keagamaan”, bisa segera mencapai “titik temu”, sehingga tehnik pengobatan yang diyakini bisa menyelamatkan jutaan nyawa manusia dari penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya ini bisa terus berkembang.

 

Semoga bermanfaat.

Salam,

BP – 26.03.2014

 

 

* Artikel ini diambil dari buku “Manajemen Farmasi industri, Priyambodo, Penerbit Global Pustaka, 2007”.