Arsip Kategori: Tak Berkategori

CPOB: 2018 vs CPOB: 2012 – Finally Revealed

CPOB 2018 vs CPOB 2012 (cover)

 

 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), beberapa waktu yang lalu dalam website resminya, telah menayangkan  “draft” Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) edisi tahun 2018. Penayangan ini dimaksudkan untuk menjaring pendapat dan komentar masyarakat, khususnya kalangan industri farmasi, sebelum draft tersebut secara resmi diundangkan dalam bentuk Peraturan Kepala Badan POM (Perka BPOM) yang berlaku untuk seluruh industri farmasi di Indonesia. CPOB edisi tahun 2018 ini merupakan CPOB ke 5 yang diterbitkan oleh Badan POM sepanjang sejarah penerapan CPOB di Indonesia.

Draft CPOB: 2018, sila klik tautan berikut :

http://jdih.pom.go.id/rancanganpublikshowpdf.php?u=%2BTCwAKWjhQfQ3wwN7Kyv3VbUDZP%2FnIWz4VyU%2BWhi0QA%3D

Perubahan Pedoman CPOB ini tidak terlepas dari keanggotaan Badan POM dalam PIC/S (Pharmaceutical Inspection Cooperation/Scheme), di mana PIC/S telah mengeluarkan regulasi baru terkait persyaratan GMP yang ‘WAJIB” diadopsi oleh seluruh anggotanya, termasuk BPOM RI. Regulasi ini sejalan dengan Guideline yang sudah dipublikasi oleh PIC/S, yaitu PE 009-13 Revision of Chapters 1, 2, 6 & 7 (Part I) tertanggal 1 Januari 2017 dan PE 009-14 Revision of Chapters 3, 5 & 8 (Part I),  serta Annex 17 tertanggal 1 Juli 2018.

 

Perubahan “Fundamental”

Jika kita bandingkan antara CPOB: 2018 dengan CPOB: 2012, terlihat ada perubahan yang cukup signifikan dan sangat fundamental, karena dalam CPOB: 2018 ini, tidak saja mengadopsi penerapan GMP (Good Manufacturing Practices) yang sudah kita kenal selama ini, tetapi juga mengadopsi aturan – aturan yang dalam ICH Q8 mengenai “Pharmaceutical Development/QbD”, ICH Q9 mengenai “Quality Risk Management/QRM” dan ICH Q10 mengenai “Pharmaceutical Quality System”.  Hal ini terlihat, terutama pada terutama pada Bab 1, di mana pada CPOB: 2012, bab 1 berjudul “Manajemen Mutu”, sedangkan pada CPOB: 2018 diberi judul “Sistem Mutu Industri Farmasi” yang MENGUBAH seluruh “paradigma” dalam pasal – pasal yang tercantum dalam CPOB: 2018 ini.

 

Perubahan “paradigma” dalam sistem mutu yang tercantum dalam Bab 1 tersebut, membawa konsekuensi perubahan pada Bab-bab yang lain, terutama Bab 2 tentang Personalia, Bab 5 tentang Produksi, Bab 7 tentang Pengawasan Mutu, Bab 9 tentang Keluhan dan Penarikan Produk, Bab 10 tentang Dokumentasi, dan Bab 12 tentang Kualifikasi dan Validasi. Ada banyak istilah baru, pengertian baru dan juga klausul – klausul baru sesuai dengan perubahan “paradigma” dalam proses penjaminan mutu produk industri farmasi.

Perbandingan selengkapnya antara CPOB: 2018 vs CPOB: 2012 sila unduh tautan berikut ini :

Bambang Priyambodo CPOB 2018 vs CPOB 2012

Semoga bermanfaat.

 

 

 

Iklan

KASUS PEMBEKUAN IZIN EDAR ALBOTHYL : KASUS “BIASA” YANG MENJADI “LUAR BIASA”

Belum lagi usai “kehebohan” kasus ditemukannya fragmen DNA babi pada sejumlah obat, dunia industri farmasi di Indonesia kembali “diguncang” kasus tersebarnya sepucuk surat dari salah satu Deputi  di Badan POM RI kepada salah satu industri farmasi yang cukup besar di Tanah Air tentang “Hasil Kajian Aspek Keamanan” suatu produk yang telah dipasarkan. Sebenarnya kasus ini adalah hal yang “biasa – biasa” saja dan “sangat lumrah” terjadi di industri farmasi. Saya tidak “berpolemik” terhadap OBAT-nya, namun lebih menyoroti soal “Hasil Kajian Aspek Keamanan” produk, yang lazimnya disebut sebagai “Post Marketing Surveillance” (bahasa Indonesia: “Surveilan”).

 

Alur produk obat

Alur Proses Penemuan Senyawa Obat (Baru)

 

Post Marketing Surveillance atau Surveilan, merupakan hal yang sudah sangat dikenal di dunia kefarmasian sebagai satu rangkaian dari “Proses Penemuan dan Pemasaran Obat (Baru)” (lihat gambar 1) dan juga hal ini merupakan bagian dari TUGAS Badan POM sebagai Otoritas Pengawasan Obat di Indonesia. Tugas yang sama yang dilakukan oleh SELURUH Otoritas Pengawasan Obat di seluruh dunia. Jadi, memang sudah menjadi tugas dan kewajiban dari Badan POM untuk melakukan Post Marketing Surveillance ini setelah obat tersebut dipasarkan. Bentuk pelaksanaan dari fungsi ini bisa bermacam – macam, termasuk menerima masukan dari para ahli, praktisi maupun profesional lainnya. Bahkan masyarakat-pun bisa melaporkan kepada Badan POM apabila terjadi kasus – kasus yang berkaitan dengan penggunaan obat. Jadi sekali  lagi, bahwa kasus ini sebenarnya hal yang SANGAT BIASA, menjadi sedemikian “heboh” karena disebar-luaskan sedemikian masifnya oleh para netizen di berbagai media sosial.

 

Pengawasan pre-post market

Monitoring Efek Samping Obat (MESO) sebagai salah satu TUGAS dan FUNGSI Badan POM RI

 

Apakah kasus seperti  ini hanya terjadi pada obat Albothyl saja? Tentu saja TIDAK !! Ada  buaaanyak kasus di mana suatu produk ditarik dari peredaran karena aspek keamanan produk yang lebih tinggi resikonya dibanding dengan manfaatnya. WHO mencatat ada lebih 462 (Empat Ratus Enam Puluh Dua) obat yang ditarik dari peredaraan setelah mendapat Nomor Ijin Edar (NIE) alias Nomor Registrasi. Lihat daftarnya di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4740994/ dan di sini https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_withdrawn_drugs

.

Berikut daftar obat yang ditarik dari pasaran antar tahun 1990 – 2013 :

Significant withdrawals  1990 – 2013

No.

Drug name Withdrawn Country Remarks
1 Tetrazepam 2013 European Union Serious cutaneous reactions
2 Drotrecogin alfa (Xigris) 2011 Worldwide Lack of efficacy as shown by PROWESS-SHOCK study
3 Gemtuzumab ozogamicin (Mylotarg) 2010 US No improvement in clinical benefit; risk for death
4 Ozogamicin 2010 US No improvement in clinical benefit; risk for death; veno-occlusive disease.
5 Propoxyphene (Darvocet/Darvon) 2010 Worldwide Increased risk of heart attacks and stroke.
6 Rosiglitazone (Avandia) 2010 Europe Risk of heart attacks and death. This drug continues to be available in the US
7 Sibutramine (Reductil/Meridia) 2010 Worldwide Increased risk of heart attack and stroke
8 Sitaxentan 2010 Germany Hepatotoxicity
9 Efalizumab (Raptiva) 2009 Germany Withdrawn because of increased risk of progressive multifocal leukoencephalopathy
10 Aprotinin (Trasylol) 2008 US Increased risk of death
11 Rimonabant (Acomplia) 2008 Worldwide Risk of severe depression and suicide
12 Clobutinol 2007 Germany Ventricular arrhythmia, QT-prolongation
13 Lumiracoxib (Prexige) 2007–2008 Worldwide Liver damage
14 Nefazodone 2007 US, Canada, others Branded version withdrawn by originator in several countries in 2007 for hepatotoxicity. Generic versions available
15 Pergolide (Permax) 2007 US Risk for heart valve damage
16 Tegaserod (Zelnorm) 2007 US Risk for heart attack, stroke, and unstable angina. Was available through a restricted access program until April 2008.
17 Alatrofloxacin 2006 Worldwide Liver toxicity; serious liver injury leading to liver transplant; death
18 Gatifloxacin 2006 US Increased risk of dysglycemia
19 Ximelagatran (Exanta) 2006 Germany Hepatotoxicity
20 Adderall XR 2005 Canada Risk of stroke[1] The ban was later lifted because the death rate among those taking Adderall XR was determined to be no greater than those not taking Adderall.
21 Hydromorphone (Palladone, extended release version) 2005 High risk of accidental overdose when extended release version (Palladone) administered with alcohol. Standard hydromorphone is sold in most of the world including the US
22 Natalizumab (Tysabri) 2005–2006 US Voluntarily withdrawn from US market because of risk of Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML). Returned to market July, 2006.
23 Thioridazine (Melleril) 2005 Germany, UK Withdrawn worldwide due to severe cardiac arrhythmias
24 Bezitramide 2004 Netherlands Risk of fatal overdose
25 Co-proxamol (Distalgesic) 2004 UK Risk of overdose
26 Dofetilide 2004 Germany Drug interactions, prolonged QT
27 Rofecoxib (Vioxx) 2004 Worldwide Withdrawn by Merck & Co. Risk of myocardial infarction and stroke
28 Valdecoxib (Bextra) 2004 US Risk of heart attack and stroke
29 Levomethadyl acetate 2003 US Cardiac arrhythmias and cardiac arrest
30 Kava Kava 2002 Germany Hepatotoxicity
31 Ardeparin (Normiflo) 2001 US Not for reasons of safety or efficacy
32 Cerivastatin (Baycol, Lipobay) 2001 US Risk of rhabdomyolysis
33 Rapacuronium (Raplon) 2001 US, multiple markets Withdrawn in many countries because of risk of fatal bronchospasm
34 Sparfloxacin 2001 US QT prolongation and phototoxicity
35 Alosetron (Lotronex) 2000 US Serious gastrointestinal adverse events; ischemic colitis; severe constipation. Reintroduced 2002 on a restricted basis
36 Cisapride (Propulsid) 2000 US Risk of fatal cardiac arrhythmias
37 Phenylpropanolamine (Propagest, Dexatrim) 2000 Canada, US Hemorrhagic stroke
38 Troglitazone (Rezulin) 2000 US, Germany Hepatotoxicity
39 Amineptine (Survector) 1999 France, US Hepatotoxicity, dermatological side effects, and abuse potential. Reason: hepatotoxicity
40 Aminopyrine 1999 France, Thailand risk of agranulocytosis; severe acne
41 Astemizole (Hismanal) 1999 US, Malaysia, Multiple Nonspecified Markets Fatal arrhythmia
42 Grepafloxacin (Raxar) 1999 Withdrawn Germany, UK, US others Cardiac repolarization; QT interval prolongation
43 Levamisole (Ergamisol) 1999 US Still used as veterinary drug and as a human antihelminthic in many markets; listed on the WHO List of Essential Medicines. In humans, it was used to treat melanoma before it was withdrawn for agranulocytosis
44 Temazepam (Restoril, Euhypnos, Normison, Remestan, Tenox, Norkotral) 1999 Sweden, Norway Diversion, abuse, and a relatively high rate of overdose deaths in comparison to other drugs of its group. This drug continues to be available in most of the world including the US, but under strict controls.
45 Trovafloxacin (Trovan) 1999–2001 European Union, US Withdrawn because of risk of liver failure
46 Bromfenac 1998 US Severe hepatitis and liver failure (some requiring transplantation)
47 Ebrotidine 1998 Spain Hepatotoxicity
48 Mibefradil 1998 European Union, Malaysia, US, others Fatal arrhythmia, drug interactions
49 Proxibarbal 1998 Spain, France, Italy, Portugal, Turkey Immunoallergic, thrombocytopenia
50 Sertindole 1998 European Union Arrhythmia and sudden cardiac death
51 Tolcapone (Tasmar) 1998 European Union, Canada, Australia Hepatotoxicity
52 Dexfenfluramine 1997 European Union, UK, US Cardiotoxic
53 Fen-phen (popular combination of fenfluramine and phentermine) 1997 Cardiotoxicity
54 Fenfluramine 1997 Worldwide Cardiac valvular disease, pulmonary hypertension, cardiac fibrosis.
55 Pemoline (Cylert) 1997 Canada, UK Withdrawn from US in 2005.  Reason:hepatotoxicity.
56 Phenolphthalein 1997 US Carcinogenicity
57 Terfenadine (Seldane, Triludan) 1997–1998 France, South Africa, Oman, others, US Prolonged QT interval; ventricular tachycardia
58 Chlormezanone (Trancopal) 1996 European Union, US, South Africa, Japan Hepatotoxicity & Steven-Johnson Syndrome
59 Minaprine 1996 France Convulsions
60 Tolrestat (Alredase) 1996 Argentina, Canada, Italy, others Severe hepatotoxicity
61 Alpidem (Ananxyl) 1995 Worldwide Not approved in the US, withdrawn in France in 1994 and the rest of the market in 1995 because of rare but serious hepatotoxicity.
62 Bendazac 1993 Spain Hepatotoxicity
63 Flosequinan (Manoplax) 1993 UK, US Increased mortality at higher doses; increased hospitalizations.
64 Ketorolac 1993 France, Germany, others Hemorrhage, renal Failure.
65 Moxisylyte 1993 France Necrotic hepatitis.
66 Remoxipride 1993 UK, others Aplastic anemia
67 Sorivudine 1993 Japan Drug interaction and deaths
68 Thiobutabarbitone 1993 Germany Renal insufficiency
69 Benzarone 1992 Germany Hepatitis
70 Temafloxacin 1992 Germany, UK, US, others Low blood sugar; hemolytic anemia; kidney, liver dysfunction; allergic reactions
71 Temafloxacin 1992 US Allergic reactions and cases of hemolytic anemia, leading to three patient deaths
72 Encainide 1991 UK, US Ventricular arrhythmias
73 Fipexide 1991 France Hepatotoxicity
74 Flunitrazepam 1991 France Abuse
75 Terodiline (Micturin) 1991 Germany, UK, Spain, others Prolonged QT interval, ventricular tachycardia and arrhythmia
76 Triazolam 1991 France, Netherlands, Finland, Argentina, UK others Psychiatric adverse drug reactions, amnesia.
77 Dilevalol 1990 UK Hepatotoxicity
78 Dinoprostone 1990 UK Uterine hypotonus, fetal distress
79 Fenoterol 1990 New Zealand Asthma mortality
80 Metipranolol 1990 UK, others Uveitis
81 Pirprofen 1990 France, Germany, Spain Liver toxicity

 

Beberapa contoh obat yang ditarik dari peredaran antara lain, misalnya:  Cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia yang setelah dipasarkan lebih dari 10 tahun baru diketahui ternyata dapat merusak ginjal; Entero-vioform (kliokuinol) suatu obat anti disentri amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON disease); Phenyl Propanol Amin (PPA) yang sering terdapat pada obat flu harus diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi; troglitazon suatu obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati setelah lebih dari 15 tahun dipasarkan.

 

Drugs withdrawn

Beberapa obat yang ditarik dari peredaran

 

 

vioxx withdraw2

Kisah penarikan obat paling “dramatis” sepanjang sejarah

 

 

Sedangkan di Indonesia sendiri – apabila Anda jeli – di pasaran banyak sekali obat – obat yang menggunakan nama dengan awalan “NEO” (cari sendiri ya… buaaanyak koq, termasuk obat yang sangat laris itu). Nah obat – obat tadi  AWAL-nya juga mengandung bahan obat atau dosis obat yang dari hasil kajian aspek keamanan obat oleh Badan POM dinyatakan bisa membahayakan orang yang mengkonsumsinya. Obat – obat tersebut kemudian ditarik dari peredaran dan si Produsen kemudian melakukan “reformulasi” dan mengajukan permohonan Nomor Registrasi Baru, dengan nama yang (hampir) SAMA dengan obat yang ditarik tadi tapi dengan penambahan awalan “NEO”, sehingga kemudian ada obat dengan nama “Neo titik – titik”.  Beberapa tahun lalu, 130 obat batuk dari berbagai merek yang diproduksi oleh 52 industri farmasi, juga harus ditarik dari peredaran menyusul Surat Keputusan Kepala Badan POM tentang Pembatalan izin Edar obat yang mengandung Dextrometorfan sediaan tunggal. Lihat daftarnya di sini http://health.liputan6.com/read/2055726/daftar-130-obat-batuk-yang-akan-ditarik-per-akhir-juni

Untuk kasus Albothyl ini, setahu saya memang pada awalnya karena adanya pengaduan dari “sekelompok” profesional yang melaporkan terjadinya “Efek Samping Obat (ESO)” pada beberapa orang yang menggunakan obat ini. Dari pengaduan tersebut Badan POM kemudian membentuk “Panel Ahli” yang pada akhirnya memutuskan untuk membekukan ijin edar dari obat yang bersangkutan hingga PERBAIKAN INDIKASI yang diajukan disetujui. Demikian pula untuk produk sejenis, juga diberlakukan hal yang sama (lihat gambar 3).

 

Surat BPOM

 

Jadi sekali lagi, kejadian ini bukanlah hal yang baru.. Bukan pula kejadian yang “luar biasa”.. Sesuatu yang sangat umum.. dan sangat lumrah yang terjadi di industri farmasi, bahwa suatu obat diketahui memiliki efek samping setelah sekian lama (bahkan bisa puluhan tahun) setelah obat tersebut dipasarkan. Oleh karenanya Badan POM juga mewajibkan industri farmasi untuk melakukan FARMAKOVIGILANS. Kewajiban ini pun sudah dituangkan dalam Peraturan Kepada Badan POM No. HK.03.1.23.12.11.10690 TAHUN 2011 tentang Penerapan Farmakovigilans Bagi Industri Farmasi.

Hal yang amat sangat disayangkan dari kasus ini (jika bisa dikatakan sebuah “kasus”) menurut saya adalah justru soal bagaimana mungkin sebuah surat yang bersifat RAHASIA dari sebuah instansi yang (seharusnya) sangat kredibel, bisa sampai “bocor” keluar sehingga tersebar luas ke publik. Saya kira hal ini merupakan suatu “peringatan” bagi para pejabat di Badan POM yang baru saja dilantik, agar hal – hal semacam ini tidak terulang kembali. Bukan tidak mungkin akan timbul “kecurigaan” dari masyarakat bahwa ada “oknum” di lembaga ini yang “sengaja membocorkan” surat tersebut untuk menimbulkan “kegaduhan” di masyarakat karena peristiwa yang sama terjadi dalam selang waktu yang tidak terlalu lama.

Wallahu’alam.

 

KASUS DNA BABI PADA OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN: PANDUAN MEMILIH OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN YANG “TOYYIB” & “HALAL”

Kasus ditemukannya fragmen DNA babi pada 2 produk food supplemen Viostin DS dan Enzyplex oleh Badan POM, memicu berbagai kontroversi di kalangan masyarakat. Meskipun Kepala Badan POM bersama – sama dengan pihak YLKI dan LPPOM MUI sudah menggelar konferensi pers bersama, menindak-lanjuti temuan tersebut, namun demikian masih banyak pertanyaan dari masyarakat yang masih belum terjawab. Pada umumnya mereka mempertanyakan tentang “keamanan” (dalam tanda petik – karena berbeda dengan pengertian Keamanan Obat yang selama ini dipahami) obat dan suplemen yang beredar di masyarakat, terutama terkait dengan “status” ke-halal-an dari produk-produk tersebut, mengingat kasus ini bukanlah kasus pertama yang terjadi. Dalam rentan waktu 2000-2018, setidaknya ada 10 kasus, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga kosmetik yang mengandung babi ini. Yang khusus terkait dengan obat dan suplemen makanan, tercatat ada  4 kasus, yaitu  vaksin polio (Vaksin Polio Khusus dan Vaksin Polio Oral) tahun 2005; vaksin meningitis (2009); serta 2 obat golongan Heparin yang digunakan untuk pengencer darah, yaitu Enoxaparin Sodium (merk dagang: Levenox Injeksi) serta Nadroparin Calcium (Merek dagang: Fraxiparine Injeksi), yang merebak pada tahun 2013 yang lalu.

Jadi sesungguhnya kasus obat-obatan yang mengandung DNA babi ini bukan hal baru, rentetan tahun yang panjang ditemukannya kasus ini selalu berulang. Tetapi penanganannya seperti hanya sporadis. Muncul kasus, heboh di masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak bereaksi, sampai ditariknya obat tersebut dari peredaran,  kemudian senyap. Hingga beberapa waktu kemudian kasus yang sama kembali berulang dan berulang lagi. Untuk itulah perlu adanya penjelasan yang komprehensif kepada masyarakat tentang masalah ini sehingga ke depan tidak terulang kembali kasus yang cukup heboh dan menyita perhatian masyarakat ini.

 

DARI MANA DATANGNYA DNA BABI DALAM OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya dipahami dahulu bagaimana proses penemuan obat itu sendiri hingga kita gunakan saat ini. Seperti kita ketahui bahwa hampir seluruh obat yang beredar di Indonesia merupakan obat-obat “me too” alias “obat copy” yang hanya “mencontek” obat-obat yang ditemukan dan diproduksi pertama kali oleh industri-industri farmasi besar di luar negeri. Setelah masa patent habis, obat-obat tsb kemudian diproduksi juga oleh industri farmasi lain, termasuk industri farmasi di Indonesia. Dalam proses penemuan senyawa obat tersebut – yang notabene dilakukan di negara – negara yang bukan mayoritas penduduknya menganut agama Islam, tentu TIDAK mempertimbangkan soal HALAL/HARAM-nya bahan yang digunakan sebagai bahan baku obat tersebut. Pada kenyataannya, dari sekian banyak bahan baku yang obat yang ditemukan tersebut, yang PALING MENDEKATI IDEAL, kebanyakan berasal dari hewan babi. Termasuk dalam hal ini misalnya Insulin, Heparin, Chondroitin, Gelatin dan lain sebagainya. Demikian pula banyak katalisator dalam proses pembuatan obat yang menggunakan bahan yang berasal dari babi.

Berikut adalah bahan baku obat dan suplemen makanan yang bersumber dari babi:

bahan baku babi

 

Selain bahan – bahan seperti dalam tabel di atas, bahan lain yang juga bersumber dari babi antara lain adalah Chondroitine Sulfate, serta enzim – enzim pankreatic seperti Amylase, Protease, dan Lipase.

Apakah tidak bisa menggunakan bahan lain selain bersumber dari babi? Bisa.. Sangat bisa!!. Namun demikian penggunakan bahan selain dari babi akan menghasilkan senyawa obat dengan struktur kimia yang berbeda. Bagi orang yang pernah kuliah di Fakultas Farmasi tentu pernah diajari Kimia Medisinal dan bisa menjelaskan dengan gamblang perbedaan struktur kimia meski memiliki senyawa yang sama.

Ambil contoh misalnya Insulin yang diperoleh dari pankreas babi hanya memiliki perbedaan 1 asam amino dengan insulin yang dibutuhkan oleh manusia. Sedangkan Insulin yang diperoleh dari sapi memiliki perbedaan 3 asam amino. Gelatin yang diperoleh dari kulit babi (Gelatin tipe A) memiliki sifat-sifat gelatin yang sangat ideal bila dibanding dengan Gelatin yang diperoleh dari tulang ikan atau tulang sapi (Gelatin tipe B ), dimana gelatin tipe A lebih kuat, lebih elastis, tidak mudah “crack” dan sangat lebih mudah larut air dibanding dengan Gelatin tipe B.

 

Gelatin

 

Demikian pula dengan Magnesium Stearate dan Calcium Stearate yang banyak digunakan dalam proses pembuatan tablet, diproduksi dari Stearic Acid yang berasal dari lemak hewan, misalnya sapi atau babi. Namun demikian, baik Magnesium stearate maupun Calcium Stearate bisa diperoleh dari minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kelapa maupun dari biji bunga matahari. Terdapat berbedaan struktur antara Mg/Ca Stearate yang diproduksi dari asam stearate yang bersumber dari minyak nabati dan lemak hewani.

Sedangkan Chondroitin sulfate, biasanya diperoleh dari tulang rawan (bagian telinga dan hidung) sapi atau babi, tulang ikan hiu, ikan pari atau ikan-ikan lainnya. Lagi – lagi terdapat perbedaan struktur kimia dari Chondroitin sulfate yang dihasilkan, tergantung dari sumber dari bahan baku tersebut. Namun demikian, faktor yang paling utama dari “pemilihan” sumber bahan baku tersebut adalah KETERSEDIAAN dari bahan tersebut. Di China misalnya, tulang rawan dari babi sangat berlimpah karena negeri ini populasi babi yang sangat buaanyak. Sedangkan di Eropa atau Amerika Serikat, justru persediaan tulang ikan dan tulang sapi yang berlimpah. Sehingga akan jauh lebih hemat jika sumber bahan baku pembuatan Chondroitin sulfate tersebut menggunakan tulang ikan atau tulang rawan sapi.

 

chondroitin

 

Bagi para Apoteker yang bekerja di industri farmasi – pesan saya adalah –  jika Anda menggunakan bahan – bahan tersebut, tentu Anda harus betul – betul sangat berhati-hati sekali. Periksa betul-betul dan yakinkan dengan betul dari mana sumber bahan baku obat yang akan digunakan tersebut. Jika perlu, mintakan sertifikat halal dari produsen (jangan dari supplier/distributor, HARUS dari produsen) agar benar – benar yakin bahwa bahan baku yang digunakan bersumber dari bahan yang tidak najis. Bagaimana jika produsen tidak bisa memberikan sertifikat halal sedangkan tidak ada supplier/pemasok lain? Satu-satunya cara adalah kita harus mengetahui bagaimana bahan baku tersebut diproses, mulai dari awal hingga menjadi bahan baku obat, dengan meminta dokumen yang disebut dengan DMF (Drug Master File). Dokumen ini sangat rahasia dan kita diminta untuk menanda-tangani surat perjanjian kerahasiaan dengan produsen untuk tidak membocorkan proses produksi tersebut. Nah dari dokumen DMF inilah kita bisa mengetahui bahan baku obat yang kita gunakan tersebut bersumber dari apa dan bagaimana prosesnya. Apakah pernah bersinggunggan dengan hewan yang di-haramkan apa tidak dan sebagainya. Badan POM juga akan meminta dan mensyaratkan dokumen DMF ini pada saat proses Registrasi obat di Badan POM. Saya kira SEMUA Apoteker yang bekerja di Industri Farmasi sangat paham akan hal ini. Apabila diketahui bahwa obat yang akan diregistrasikan tersebut mengandung bahan baku yang bersumber atau pernah bersinggungan dengan hewan babi, maka Badan POM akan meminta produsen mencantumkan “penandaan khusus” pada dus/kemasan obat tersebut. Sehingga masyarakat maupun petugas di lapangan bisa “aware” bahwa obat (termasuk vaksin) yang akan digunakan mengandung babi atau selama proses pembuatannya pernah bersinggungan dengan babi. Soal apakah si pasien mau menerima terapi dengan obat tersebut atau tidak, itu soal lain.

 

MENGAPA SULIT MENEMUKAN OBAT ATAU SUPLEMEN MAKANAN YANG BERLOGO “HALAL”?

Kasus ditemukannya fragmen DNA babi pada 2 produk food supplemen ini ternyata juga memicu kembali “polemik” soal penerapan UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang dalam beberapa tahun belakangan ini menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat. Hal ini tidak mengherankan karena UU ini sangat menyangkut soal keyakinan dan “hajat hidup” masyarakat banyak serta hampir mempengaruhi perputaran seluruh roda bisnis perekonomian di negeri ini. Tidak heran, setiap pembicaraan atau kasus – kasus yang menyangkut soal HALAL/HARAM suatu produk, akan memicu kontroversi dan perdebatan panjang di masyarakat. Setelah sekian lama dilaksanakannya UU ini, ternyata baru sangat sedikit sekali produsen obat maupun suplemen makanan yang mendaftarkan produknya untuk diserrifikasi Halal oleh LPPOM MUI. Hal ini memunculkan “tuduhan” bahwa industri farmasi “bandel” dan “resisten” terhadap kebijakan ini. Lalu bermunculan-lah “suara – suara sumbang” dari masyarakat terhadap industri farmasi. Sebelum kita menjatuhkan “vonis”, ada baiknya kita mengerti duduk permasalahan yang sebenarnya, mengapa sangat sedikit sekali produk obat atau suplemen makanan yang memiliki logo “Halal”. Dan juga alasan mengapa seorang (mantan) Menteri Kesehatan pernah membuat statemen bahwa tidak mungkin melakukan sertifikasi halal terhadap produk obat.  Hal ini penting agar kita bisa mengambil sikap yang tepat dan dapat menjelaskan secara gamblang dan “benar” kepada masyarakat. Terus terang saya melihat masih banyak kalangan masyarakat, bahkan di kalangan Apoteker sendiri, yang masih sangat kurang pemahamannya soal UU JPH ini dan penerapannya terhadap produk obat, suplemen makanan, Obat Tradisional maupun Kosmetika.

Seperti kita ketahui bahwa sesuai dengan Undang – undang No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) maka SEMUA PRODUK yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia WAJIB “bersertifikat Halal”. Produk yang dimaksud dalam Undang – Undang ini adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk produk yang diimport dari Luar Negeri. Sesuai dengan amanat UU tersebut, maka paling lama 5 tahun sejak diundangkan (UU JPH diundangkan pada tahun2014) yaitu pada tanggal 17 Oktober 2019, maka SELURUH produk yang beredar di Indonesia HARUS bersertifikat HALAL, termasuk produk OBAT dan Suplemen Makanan.

Tentu ini menjadi “tantangan” tersendiri bagi produsen obat/industri farmasi di Indonesia, mengingat lebih dari 95% bahan baku digunakan berasal dari import dimana soal HALAL-HARAM bagi negera-negara asal bahan baku tersebut bukan merupakan hal essensial. Belum lagi pasar farmasi di Indonesia yang relatif sangat kecil (hanya 0,5%) bila dibandingkan dengan pasar farmasi di seluruh dunia. Akan sangat sulit bagi industri farmasi di Indonesia untuk “memaksa” produsen bahan baku obat tersebut untuk melakukan sertifikasi halal untuk bahan bahan baku obat yang diproduksinya. Sertifikat halal bahan baku obat ini adalah salah satu syarat agar obat yang diproduksi memperoleh sertifikasi HALAL dari lembaga terkait. Tidak hanya Bahan Baku Aktif Obat (BBAO) tetapi juga semua bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong serta bahan pengemas primer juga HARUS bersertifkat halal dari produsennya.

Asal BAHAN juga memiliki kompleksitas tersendiri. Dari satu formula (resep) terdiri dari beberapa bahan (terkadang lebih dari 10 bahan baku yang digunakan). Masing – masing bahan baku terkadang dipasok dari beberapa pemasok yang juga punya beberapa pabrik. Agar bisa tersertifikasi HALAL maka SEMUA bahan yang berasal dari berbagai macam tempat tersebut HARUS bersertifikat halal dan bisa ditelusur serta masing – masing BAHAN harus terdaftar dan bisa diverifikasi.

 

obat halal1

obat halal2

Selain faktor bahan baku, hal lain yang menjadi “tantangan” terhadap pelaksanaan Sertifikasi Halal untuk produk obat ini adalah PROSESNYA. Baik proses produksi, lokasi produksi, pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan penjualan serta penyajiannya. Untuk proses produksi, penyimpanan, distribusi dan pemasaran harus dibuat TERPISAH antara bahan/produk yang sudah bersertifikat HALAL dan NON-HALAL. Jadi produsen/industri farmasi harus memiliki fasilitas khusus (dedicated), termasuk mesin, peralatan, fasilitas, dan lain-lain. Hal ini tentu akan menyulitkan bagi industri untuk bisa memenuhi persyaratan sertifikasi Halal tersebut.

Jadi ada 2 hal penting di sini, yaitu : (1) Bahan, termasuk bahan baku, bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong. (2). Proses-nya, baik proses produksi, lokasi produksi, pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan penjualan serta penyajiannya. Kedua hal tersebut harus memenuhi syarat syar’i agar bisa memperoleh sertifikat  HALAL.

obat halal3

 

Bisa dibayangkan bagaimana berat dan mahalnya proses sertifikasi halal tersebut. Sementara di lain pihak, saat ini Pemerintah sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan program obat murah lewat Program BPJS Kesehatan dengan tender obat melalui e-catalog yang mensyaratkan obat dengan harga semurah mungkin, tetapi tetap harus terjamin khasiat, keamanan dan kualitas obat. Tidak heran kalau kemudian Ketua LPPOM MUI sendiri mengakui bahwa mereka kesulitan melakukan sertifikat Halal untuk obat-obatan.

 

LPPOM obat sulit

Menurut data dari Badan POM, saat ini terdapat lebih dari 16.000 produk obat dan suplemen makanan yang beredar di masyarakat. Namun dari data LPPOM MUI, tidak lebih dari 100 item (< 0,6 %) obat dan suplemen makanan yang telah ber-sertifikat halal. Artinya masih ada lebih dari 99% produk obat dan suplemen makanan yang BELUM bersertifikat Halal. Tentu ini menjadi perhatian semua pihak untuk duduk bersama agar upaya perlindungan masyarakat melalui Undang – undang Jaminan Halal Produk bisa juga mencakup produk Obat dan Suplemen Makanan. Pemerintah dan regulator, dalam hal ini Departemen Agama, LPPOM MUI dan Badan POM tidak boleh menutup mata terhadap kondisi ini. Kasihan masyarakat yang saat ini kebingunan karena informasi yang disampaikan sangat tidak transparan dan cenderung saling lempar tanggung jawab antar lembaga.

 

BAGAIMANA MEMILIH PRODUK OBAT DAN SUPLEMEN MAKANAN YANG “TOYYIB” DAN “HALAL“?

Kembali kepada pertanyaan awal, bagaimana memilih produk obat dan suplemen makanan yang “aman”, di tengah minimnya informasi dan sangat sedikitnya jumlah obat/suplemen makanan yang bersertifikat halal?

Ada beberapa pedoman yang bisa kita gunakan untuk memilih produk, sebagai upaya “ijtihad” dalam memilih obat dan suplemen makanan yang “toyyib” dan “halal”.

Berikut adalah pertimbangan – pertimbangan yang harus diperhatikan dalam penentuan Obat dan Suplemen Makanan :

  1. Harus kita lihat dulu apakah obat dan suplemen makanan yang akan kita konsumsi tersebut bersifat keterpaksaan (al-dlarurat) apa tidak, yang apabila tidak dilakukan bisa membahayakan nyawa/jiwa manusia apa tidak? Tidak memang TIDAK dalam kondisi TERPAKSA maka pemberian obat dan atau suplemen makanan tersebut bisa dipikirkan ulang.
  2. Lakukan segala macam upaya untuk mencari dan atau mencari tahu apakah ada produk sejenis yang sudah berlabel Halal apa tidak? Jika ternyata sudah ada produk Obat atau suplemen makanan yang sudah bersertifikat Halal, tentu lebih memilih yang sudah bersertifikat/logo Halal. Bahkan saat ini pun sudah ada beberapa VAKSIN yang dinyatakan “HALAL” oleh LPPOM MUI.
  3. Cari rekomendasi dari tenaga ahli terkait, tentang status ke-halal-an produk tersebut. Apoteker yang berpengalaman pasti akan tahu mana-mana obat atau suplemen makanan “kritis” yang sumber bahan baku obat tadi “kemungkinan” berasal dari babi atau dalam prosesnya bersinggunggan dengan babi atau tidak. Tidak semua bahan baku obat bersifat “kritis”, hanya bahan baku obat “tertentu” saja yang dalam proses pembuatannya bersumber dari babi atau bersinggungan dengan babi (lihat tabel di atas).

MUI meningitis halal

 

Badan POM sendiri, dalam rangka untuk memberikan perlindungan kepada masyaraat dari  produk obat, obat tradisional, kosmetik, suplemen makanan dan makanan yang bersumber, mengandung atau berasal dari bahan tertentu yang secara syariah mengandung unsur bahan tidak halal dan tidak lazim digunakan oleh masyararakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, jauh – jauh hari telah mengeluarkan Peraturan Kepada Badan POM  NOMOR HK.00.05.1.23.3516 tahun 2009 mengenai Izin Edar produk obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Suplemen Makanan,  dan Makanan yang bersumber, mengandung  dari bahan tertentu dan atau mengandung Alkohol

Dalam peraturan tersebut, baik Produk Obat atau Suplemen Makanan yang bersumber atau mengandung bahan – bahan berikut :

  1. Babi, anjing dan anak yang lahir dari perkawinan keduanya
  2. Bangkai, termasuk binatang mati tanpa disembelih menurut cara penyembelihan Islam, kecuali ikan dan belalang;
  3. Tiap binatang yang dipandang dan dirasa menjijikan menurut fitrah manusia untuk memakannya seperti cacing, kutu, lintah, dan sebangsa itu;
  4. Setiap binatang yang mempunyai taring;
  5. Setiap binatang yang memunyai kuku pencakar yang memakan mangsanya secara menerkam atau menyambar;
  6. Binatang-binatang yang dilarang oleh Islam membunuhnya, seperti lebah,burung Hud-hud, kodok, dan semut;
  7. Daging yang dipotong dari binatang halal padahal binatang tersebut masih hidup;
  8. Setiap binatang yang beracun dan memudharatkan apabila dimakan;
  9. Setiap binatang yang hidup di dua alam seperti kura-kura, buaya, biawak, dan sebagainya; dan
  10. Darah, urin, feses, dan plasenta.

harus diberikan “Penandaan Khusus” dan untuk mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) diperlukan persyaratan khusus.

obat bahan ttt

 

 

OT, Kos &amp; SUP

 

MakMin

 

Implementasi di lapangan :

penandaan 1

 

 

penandaan 2

PERHATIAN :

Bagi Apoteker yang berada di “garda terdepan” dalam hal pelayanan kefarmasian, harus  “aware” terhadap PENANDAAN TERTENTU ini. Komunikasikan dengan Dokter (atau tenaga kesehatan lain) dan pihak pasien agar memahami tentang terapi yang diberikan. Dengan penjelasan yang tepat dan benar, informasi tersebut akan sangat berguna, baik bagi dokter maupun untuk si pasien.

 

FATWA MUI TENTANG OBAT DAN PENGOBATAN

Mengenai soal Obat dan Pengobatan yang menggunaakan obat dan atau suplemen makanan yang bersumber atau mengandung bahan tertentu tersebut, MUI telah mengeluarkan FATWA sebagai berikut:

Fatwa MUI obat

Produk – produk BIOTEK, termasuk Vaksin, dll. :

MUI biotek

 

Sedangkan untuk Alkohol :

MUI alkohol

 

Dengan berbagai keterangan ini, mudah – mudahan masyarakat semakin paham, tidak perlu panik bahkan paranoid. “TIDAK ADA SERTIFIKAT/LOGO HALAL BELUM TENTU HARAM“. Tanyakan kepada Apoteker Anda jika memerlukan keterangan yang lebih lengkap. Saya berharap para Apoteker yang berada di garda terdepan dalam pelayanan kepada masyarakat, agar memberikan informasi yang komprehensif, jelas, dan tuntas sehingga masyarakat dapat menentukan pilahan terapi yang dilakukannya dengan tepat dan sesuai dengan keyakinannya masing – masing.

 

penjaminan mutu

 

Semoga bermanfaat…

Kisah Perjalanan Industri Farmasi Dunia

Tulisan ini merupakan “kompilasi” dari tulisan – tulisan di laman facebook saya. Agar tidak hilang, saya coba untuk membuat satu halaman khusus. Semoga bermanfaat…

.

.

 

E. Merck KGaA : Kisah keluarga Merck Membangun “Kerajaan” Farmasi Dunia

 

e_merck

 

Tidak banyak industri farmasi di seluruh dunia ini yang sampai saat ini masih dimiliki oleh keluarga pendirinya. Salah satu di antara yang sedikit itu – yang paling fenomenal – adalah MERCK. Kerajaan bisnis keluarga ini pertama kali didirikan oleh Friedrich Jacob Merck pada tahun 1668 di sebuah kota kecil dekat Frankfurt, Darmstadt.
Friedrich Jacob Merck – seorang Apoteker lulusan Schweinfurt, Germany dan Viena, mulai membangun kerajaan bisnisnya dengan membeli sebuah apotek di kota Darmstadt, “Engel Apotheke” hampir 350 tahun yang lalu. Inilah tonggak sejarah lahirnya sebuah “kerajaan” bisnis farmasi yang saat ini ada di 70 negara di seluruh dunia dengan pendapatan lebih dari € 12 millar atau lebih dari 174 trilyun rupiah. Merck adalah merupakan SATU-SATUNYA industri farmasi dan kimia TERTUA di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Semuanya berawal dari sebuah Apotek sederhana di sebuah kota kecil, Darmstadt. Apotek ini masih ada sampai sekarang dan masih tetap dimiliki oleh keluarga Merck selama 6 generasi.. Woww..
Friedrich Jacob Merck meninggal dunia pada tahun 1678, tanpa meninggalkan keturunan. Pengelolaan Engel Apotheke diteruskan oleh keponakannya yang juga seorang Apoteker yaitu Georg Friedrich Merck. Pada tahun 1708, Georg Friedrich Merck mulai membuat sendiri obat-obat kimia sederhana yang sebelumnya hanya berasal dari tanaman atau binatang sesuai buku text saat itu yaitu “Materia Medica”. Georg Friedrich Merck meninggal pada tahun 1715. Engel Apotheke selanjutnya dikelola oleh Johan Franz Merck hingga tahun 1741 yang banyak memberikan kontribusi pada kemajuan bidang farmasi. Salah satu penemuan yang paling kontroversial pada masa itu adalah Arsenik yang ditemukan pada tahun 1720.
Pada tahun 1741 – 1782, pengelolaan Engel Apotheke dipegang oleh Johann Justus Merck, Apoteker generasi keempat dari keluarga Merck. Inilah periode tersulit dalam perjalanan bisnis keluarga Merck. Pada tahun 1758, Johann Justus Merck dan istrinya Anna Sophie meninggal dunia, sementara putra mereka, Johann Anton Merck baru berusia 10 tahun. Atas kebijaksanaan Raja Ludwig VII, Engel Apotheke masih bisa beroperasi dengan sistem perwalian negara. Pada tahun 1782, Johann Anton Merck lulus dan disumpah sebagai apoteker dari Universitas Strasbourg dan melanjutkan bisnis yang dibangun oleh eyang buyutnya..
Pada tahun 1816, Emanuel Merck meneruskan dinasti keluarga Merck. Pada saat itu, untuk pertama kalinya ditemukan bahan obat yang disintesis dari bahan alam yaitu Morphine oleh Friedrich Serturner. Dan Morphine buatan Merck diakui sebagai yang TERBAIK. Kualitas Morphine buatan Merck ini diakui oleh ilmuwan terkemuka saat itu, Karl Friedrich Mohr, Profesor Farmasi dari Berlin, penemu gugus kimia Mohr dan menulisnya di Prussian Pharmacopeia tahun 1849. Selain itu, beberapa alkaloid lain juga berhasil disintesis oleh E. Merck, antara lain Cocain pada tahun 1862. Emanuel Merck memberikan garansi kualitas produk2nya dalam sebuah tulisan tangan bahwa ia akan mengganti apapun kerugian yg dialami oleh konsumennya jika bahan kimia yg diproduksinya tidak murni. Surat garansi yang masih tersimpan rapi hingga saat ini di Museum Farmasi di Heidelberg castle.
Pada tahun 1872, untuk pertama kali E. Merck membangun sebuah pabrik bahan farmasi di pinggiran kota Darmstadt. Pabrik Farmasi pertama yang masih beroperasi hingga saat ini. Nama E. Merck selanjutnya digunakan sebagai nama perusahaan keluarga Merck hingga saat ini. Bersama ketiga putranya, Wilhelm Merck, Georg Merck dan Carl Merck. Mulailah sayap kerjaan bisnis keluarga Merck mengembang ke segala penjuru dunia. Tahun 1840 mereka membuka kantor di London, Inggris. Mereka juga mempunyai gudang persediaan di Budapest, Paris, Brussels, Vienna dan Stockholm. Tahun 1879 mereka membuka kantor di Sydney, Australia. Selanjutnya, pada tahun 1898 mereka membuka kantor perwakilan di Moskow, Rusia.
Pada tahun 1891, Georg Merck dipercaya oleh ayahnya untuk membuka kantor E. Merck di New York, Amerika Serikat. Setelah Perang Dunia I, Merck di Amerika Serikat ini kemudian diambil alih dan dinasionalisasi oleh Pemerintah Federal Amerika pada tahun 1917. Kantor E. Merck inilah cikal bakal dari Merck, Sharp & Dohme (MSD) dan berhak menggunakan nama “Merck” di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan di luar kawasan itu, nama “Merck” tetap menjadi milik keluarga Merck.
Perang Dunia kedua, meluluh-lantakkan semua bangunan pabrik mereka di Darmstadt. Hampir 1.000 pekerja mereka menjadi korban perang. Pada bulan Maret 1945, tentara sekutu menduduki pabrik ini. Mesin – mesin produksi yang menghasilkan puluhan jenis obat2an hancur berantakan. Tahun2 berikutnya adalah masa-masa sulit bagi keluarga ini. Membangun kembali perusahaan mereka yang porak -poranda. Dengan susah payah mereka membangun kembali “kerajaan” bisnis mereka. Perlahan namun pasti, satu persatu mereka mulai membuka kembali kantor2 mereka di segala penjuru dunia. Program Marshall Plan, membantu keluarga ini bangkit kembali dari keterpurukan akibat perang. Pada tahun 1947, mereka sudah mulai mengexport obat2an ke Spanyol dan negara2 Amerika Latin. Bahkan pada tahun 1949, untuk pertama kali mereka berhasil membuat obat jantung yang pertama, Digitoxin.
Tahun 2006, perusahaan ini mengakuisisi SERONO, selanjutnya tahun 2010 mengambil alih perusahaan diagnostik terkemuka Millipore corp. Tahun 2013, mengakuisisi AZ Electronic Material dan tahun 2014 Merck mengambil alih Sigma-Aldrich yang menjadikan Merck salah satu perusahaa raksasa farmasi, kimia dan diagnostik dunia..
Hingga saat ini, keluarga Merck masih memegang 70% saham perusahaan, yang merupakan SATU-SATUNYA perusahaan Farmasi dan Kimia TERTUA yang masih bertahan dan beroperasi hingga saat ini..
Sungguh sebuah kisah bisnis yang sangat luar biasa.. Sebuah kerajaan bisnis yang dimulai dari sebuah Apotek di sebuah kota kecil, Darmstadt.
Sungguh sangat beruntung saya pernah menjadi bagian dari perusahaan ini. Meski hanya sekejab namun filosofi perusahaan ini sangat mempengaruhi perjalanan karier saya..
Thanks to Merck.. thanks for everything..
 .
.
Pfizer & Co. : Kisah Duo Imigran membangun Imperium Bisnis dari Uang Pinjaman.
  pfizer
Berbekal uang pinjaman dari sang ayah sebesar $2.500, seorang anak muda berusia 20 tahun-an yang berasal dari kota Ludwigsburg, sebuah kota kecil dekat Stuttgart – Germany, nekat mengarungi Samudra Atlantik menyongsong “dunia baru”, Amerika Serikat. Charles Pfizer nama si pemuda nekat tersebut. Berbekal uang pinjaman dari ayahnya dan keahliannya di bidang farmasi dan kimia, pemuda yang terlahir dengan nama Karl Pfizer tersebut menyewa sebuah gedung di Harrison Avenue di kota New York pada tahun 1849. Bersama dengan saudara sepupunya, Charles F. Erhart, yang mempunyai keahlian membuat permen dan mencampur berbagai macam bahan kimia. Tahun 1849 itulah kedua bersaudara tersebut mulai menuliskan sejarah panjang sebuah kerajaan bisnis farmasi yang nantinya menjelma menjadi industri farmasi TERBESAR di seluruh dunia, Pfizer & Co.
Kisah sukses Pfizer diawali oleh Santonin sebuah produk Obat Cacing yang secara unik diracik oleh Charles Erhart dengan berbagai rasa yang unik dalam bentuk permen yang menarik. Obat ini mendapat sambutan yang luar biasa dari penduduk New York. Produk inilah yang menjadi cikal bakal dari ratusan bahkan ribuan produk yang dihasilkan bertahun – tahun kemudian..
Pfizer & Co. berkembang pesat tatkala terjadi perang saudara (civil war) di Amerika Serikat tahun 1861 – 1865. Obat2 penghilang rasa sakit (painkiller), pengawet, dan obat2 antiinfeksi sangat diperlukan pada masa itu. Pfizer & Co. berhasil mengembangkan produk asam tartat yang digunakan untuk laxative dan pendingin kulit serta krim tartat untuk deuretic dan bahan pembersih.
Pada tahun 1880, Pfizer & Co berhasil memproduksi Citric Acid (Asam Sitrat) menggunakan konsentrat lemon dan jeruk nipis. Segera mereka menjadi produsen utama asam sitrat di Amerika Serikat. Penemuan ini menjadikan Pfizer & Co makin berkembang pesat dan mulai memodernisasi pabrik mereka dan merekrut banyak pekerja. Sampai dengan tahun 1882 mereka suda membuka kantor cabang di Missisippi, Chicago, Illinois dan hampir di seluruh penjuru Amerika Serikat. Pada tahun 1906 penjualan mereka sudah mencapai $ 3,4 juta… Semuanya berawal dari uang pinjaman $2.500.. Woww..!!!
Pada tahun 1891, co-founder Charles Erhart meninggal dunia. Meninggalkan partnership senilai $250.000 kepada anaknya, William Erhart. Namun sesuai perjanjian, bahwa barang siapa yang meninggal terlebih dahulu maka ia berhak membeli dengan harga setengah dari nilai partnership tersebut. Akhirnya, Charles Pfizer membeli seluruh saham dari Erhart dan mengangkat William Erhart sebagai Vice President hingga meninggal dunia tahun 1940.
Pada tahun 1900, Pfizer berubah dari perusahaan keluarga menjadi perseroan dengan menerbitkan 20.000 senilai $100 perlembar saham.
Pada tahun 1906, Charles Pfizer meninggal dunia dalam usia 82 tahun. Emile Pfizer, putra bungsu Charles Pfizer diangkat sebagai President dan CEO hingga tahun 1941. Dia adalah anggota keluarga Pfizer terakhir yang terlibat dalam pengelolaan perusahaan.
Hingga tahun 1942, Pfizer & Co tetap menjadi perusahaan privat dan dimiliki sepenuhnya oleh keluarga Pfizer. Namun pada bulan Mei 1942, untuk pertama kalinya, mereka menjual 240.000 saham baru kepada publik. Mulailah era baru dalam perjalanan perusahaan ini. Keluarga Pfizer tidak lagi terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan sepenuhnya dijalankan oleh eksekutif yang diangkat oleh para pemegang saham.
Pada tahun 1944 Pfizer sukses membuat Penisillin dalam skala massal dan dinobatkan sebagai produsen penisilin terbesar di dunia. Tahun 1950 mereka berhasil menemukan Oxytetracycline sebuah antibiotik spektrum luas pertama saat itu. Mulai tahun 1951 mereka mulai merambah ke berbagai penjuru dunia. Mereka membuka kantor cabang di Belgia, Canada, Cuba, Inggris, Mexico dan lain-lain. Pada tahun 1958 mereka membangun pabrik di Mexico, Italy dan Turki.
Tahun 1976 mereka untuk pertama kali menemukan obat tekanan darah tinggi, Minipress (Prazosin HCl). Tahun 1980 meluncurkan Feldene (Piroxicam) sebagai obat anti inflamasi paling laris pada masa itu dan terjual lebih dari $ 1 milyar di AS. Tahun 1984, mereka menemukan obat diabetes pertama, Glipizide.
Tahun-tahun berikutnya berbagai macam obat blockbuster terus memenuhi pundi2 perusahaan ini. Norvasc, Zoloft, Lipitor, Viagra adalah merek2 dagang yang mendatangkan uanh milyaran dollar ke rekening mereka..
Tahun 2000, untuk memperbesar bisnis mereka merger dengan Warner-Lambert, kemudian dengan Pharmacia (2003) dan Wyeth (2009). Hasil merger ini membuat Pfizer menjadi raksasa farmasi dunia dan menjadi headline di seluruh dunia yang mengawali megatrend saat itu, merger dan akuisisi. Tahun 2015, Pfizer mengakuisisi HOSPIRA senilai $15,2 miliar yang merupakan rekor transaksi terbesar hingga saat ini. Hingga tahun 2015, total penjualan Pfizer di seluruh dunia mencapai $48,85 miliar atau sekitar Rp660.000.000.000.0000 (baca: 600 trilyun rupiah).. Wowww… Dan semuanya berawal dari seorang pemuda yang nekat menyebrangi samudra Atlantik berbekal uang pinjaman sebesar $2.5000 sahaja…
.
.
Eli Lilly & Co. : Kolonel Veteran Perang, Pioneer Industri Farmasi Modern
lelly
Penderita diabetes mellitus di seluruh dunia, selayaknya berterima kasih kepada mantan Kolonel yang lahir 8 Juli 1838 di Baltimore, Maryland Amerika Serikat ini. Oleh karena lewat industri farmasi yang didirikannya pada tahun 1876 inilah untuk pertama kali insulin dibuat secara massal dan dipasarkan secara luas pada tahun 1923. Insulin, pertama kali diisolasi dari pankreas babi kemudian dimurnikan dan diproses secara aseptis sehingga bisa disuntikan langsung kepada penderita. Diperlukan tidak kurang dari 100 pankreas babi untuk memproduksi insulin bagi penderita diabetes selama 1 tahun penuh. Perusahaan ini pula yang, 60 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1982, untuk pertama kali berhasil membuat sintesa insulin dari bakteri Escherechia coli dengan menggunakan bioteknologi. Teknologi ini “menyelamatkan” tidak kurang 20 juta nyawa babi tiap tahunnya yang akan diambil pankreasnya untuk bisa memenuhi kebutuhan sekitar 200 juta penderita diabetes di seluruh dunia. Dialah Eli Lilly.
Eli Lilly, seorang Apoteker lulusan Indiana Asburn University yang juga mantan kolonel dalam perang civil, memulai tonggak sejarah industri farmasi dari sebuah gudang sewaan usang pada tahun 1876. Karyawannya hanya 3 orang, 1 orang pengaduk, 1 orang tukang kemas serta anak laki-laki satu-satunya setelah pulang sekolah, Josiah K. Lilly, Sr. (sering dipanggil J.K.) yang saat itu baru berusia 14 tahun…
Inovasi Eli Lilly yang pertama adalah capsule gelatine dan pil salut gelatine. Inovasi lainnya adalah sirup obat dengan rasa aneka buah dan pil salut gula yang merupakan sediaan – sediaan obat PERTAMA di dunia pada saat itu. Tatkala perusahaan farmasi lain masih secara tradisional menggunakan bentuk sediaan yang sederhana seperti tablet maupun serbuk, Eli Lilly & Co sudah melangkah jauh melampaui jamannya. Tidak heran, obat – obat produksi Eli Lilly & Co amat laris di pasaran. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam waktu 3 tahun perusahaan ini sudah mencatatkan penjualan mencapai $ 48.000 (nilai sekarang sekitar $ 1.221.086 atau sekitar 16,5 milyar rupiah lebih). Padahal saat awal membuka pabrik, Eli Lilly hanya punya modal $1.400. Pada akhir tahun 1880, perusahaan ini telah memiliki lebih dari 100 karyawan dengan pendapatan lebih dari $200.000 atau sekitar $5.276.296 nilai sekarang.. Wowww..
J.K. kemudian mengikuti jejak ayahnya, kuliah farmasi di Philadelphia College of Pharmacy & Science dan lulus sebagai apoteker tahun 1882. J.K. kemudian bergabung dengan ayahnya, dan menjadi kepala research di perusahaan yang dibangun ayahnya dan menjadi Presiden Direktur pada tahun 1898. Kolonel Eli Lelly menyerahkan sepenuhnya tongkat perusahaan ke tangan anaknya dan mulai kegiatan sosial terutama membantu kolega2nya sesama vetera perang.
Tahun 1894, Eli Lelly mulai memodernisasi pabriknya dengan membangun pabrik cangkang kapsul sendiri secara modern yang dapat memproduksi puluhan ton kapsul kosong yang menjadikan Eli Lelly industri farmasi paling modern di antara industri farmasi lainnya. Kedua putra J.K., yaitu Eli Lelly Jr. dan Josiah Jr. kemudian juga ikut bergabung dengan perusahaan yang didirikan kakeknya. Eli Lelly Jr. menamatkan pendidikan farmasi di tempat yang sama dengan ayahnya, Philadelphia college of pharmacy and science tahun 1907; sedangkan sang adik, Josiah K. Lilly Jr. alumnus dari University of Michigan’s School of Pharmacy tahun 1914.
Eli Lelly meninggal dunia pada tahun 1898, saat itu perusahaan yang dirintisnya telah memproduksi tidak kurang dari 2.000 item obat dengan penjualan lebih dari $300.000. Semuanya berawal dari sebuah gudang tua sewaan di tengah kota Indiana, Amerika Serikat. Tidak pelak, Eli Lilly merupakan pioner industri farmasi modern dan meletakkan dasar – dasar manajemen perusahaan yang kuat, sistem dokumentasi produksi yang tercatat rapi, flow of process bagus di mana pintu masuk bahan baku dan pintu keluar finished good terpisah, konsep straight-line produksi untuk menghindarkan terjadinya mix-up, semua sudah dipraktekkan oleh perusahaan ini, lebih dari 100 tahun lalu. Praktek manajemen produksi yang baik ini pun didukung oleh bagian research yang kokoh. Bahkan salah seorang sejahrawan dari Michigan University menulis, “It was probably the most sophisticated production system in the American pharmaceutical industry”. Tidak heran, memasuki abad ke 20, penjualan perusahaan ini sudah mencapai $1 juta.. Sungguh luar biasa..
J.K. menjadi presiden direktur Eli Elly & Co. hingga tahun 1932. Pada masanya inilah insulin diproduksi secara massal di pabriknya dengan merk dagang “Iletin”. J.K. mengundurkan diri dari perusahaan pada tahun 1932 dan menghabiskan masa tuanya dengan berbagai aktifitas sosial. Beliau meninggal pada tahun 1948 pada usia 86 tahun dan dimakamkan di Indianapolis. Sebelumnya, pada tahun 1937, J.K. mendirikan yayasan Lilly Endowment yang nantinya akan memegang peranan penting setelah keluarga Eli Lelly tidak lagi memegang kendali perusahaan.
Sepeninggal J.K. kendali perusahaan dikelola oleh Eli Lelly Jr. anak tertua J.K. hingga tahun 1961 sebagai Ketua. Sedangkan adiknya, J.K. Lilly Jr. sebagai Presiden Direktur. Eli Lelly jr. meninggal tahun 1977 pada usia 91 tanpa meninggalkan keturunan dan dimakamkan di samping istrinya di Crown Hill, Indianapolis. Seluruh harta kekayaannya yang mencapai $165,7 juta atau sekitar Rp. 2.200 trilyun disumbangkan ke berbagai lembaga kemanusiaan, sesuai dengan surat wasiat yang ditinggalkannya.
Josiah Kirby “Joe” Lilly Jr., sang adik, tetap menjadi presiden direktur hingga tahun 1953. Selanjutnya pengelolaan perusahaan, untuk pertama kalinya diserahkan kepada orang di luar keluarga Eli Lelly. Beliau tetap menjabat sebagai Chairman hingga wafat pada tahun 1966. Anak Lilly, Ruth dan Josiah III mengikuti jejak ayahnya sebagai filantropis dan mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Sampai saat ini keluarga Eli Lelly masih memiliki sekitar 12 persen saham perusahaan yang nilainya tidak kurang dari $35.57 miliar atau sekitar 480 trilyun rupiah..
Pada tahun 1971, Eli Lelly membeli perusahaan kosmetik Elizabeth Arden Inc. senilai $ 38 juta. Tahun 2007 mengakuisisi Icos corporation dan memproduksi obat yang sangat legendaris, Cialis untuk disfungsi ereksi. Selanjutnya tahun 2008 mengakuisisi ImClone System serta berkolaborasi dengan Boehringer Ingelheim memproduksi insulin analog dan anti diabetic oral. Hingga tahun 2015, 141 tahun sejak didirikan, Eli Lelly mencatatkan penjualan $2,41 miliar dengn jumlah karyawan lebih dari 41.000 orang, membuka cabang di 18 negara dan produk2nya tersebar di 125 negara di seluruh dunia. Semuanya berawal dari sebuah gudang sewaan yang dibangun oleh seorang Apoteker yang juga seorang Kolonel veteran perang, yang sangat visioner, ulet dan tentu saja, luar biasa…
 .
.
Bayer AG: Dari Limbah tak Berharga Menjadi “Raksasa” Kimia dan Farmasi Dunia
bayer1
Meskipun bukan yang pertama, namun Bayer AG dianggap sebagai “pembuka” era baru dalam tonggak sejarah industri farmasi di dunia. Perusahaan inilah yang untuk PERTAMA kali, membuat obat yang DISINTESA dari bahan kimia murni bukan dari bahan alam, sehingga “kelahirannya” dianggap sebagai “milestone” dalam sejarah perkembangan industri farmasi dunia. Namun siapa sangka, sintesis obat secara kimia PERTAMA yang dihasilkan oleh perusahaan yang berkantor pusat di Leverkusen, Jerman ini ternyata hasil “kejeniusan” seorang ahli kimia memanfaatkan limbah yang semula tidak ada harganya sama sekali.
Bayer AG, didirikan pertama kali pada tahun 1863 oleh Friedrich Bayer, seorang ahli dalam bidang pewarna (dye) bersama rekannya, Friedrich Weskott di Barmen, Jerman. Bayer muda dibesarkan oleh keluarga yang secara turun-temurun berkecimpung dalam bisnis kain dan pewarna. Kakeknya memiliki pabrik memintalan kain di Elberfeld, Jerman; sedangkan ayahnya memiliki pemintalan benang sutera. Bayer muda belajar kimia dan sangat menguasai bahan2 pewarna yang sangat dekat hubungannya dengan bidang bisnis kakek dan ayahnya. Sementara Friedrich Weskott berasal dari keluarga petani dan memiliki sebuah pabrik pewarnaan benang. Tepat pada tanggal 1 Agustus 1863, kantor “Friedr. Bayer et Comp.” sebagai cikal bakal Bayer AG resmi dibuka di Rittershause, Barmen dengan hanya memiliki 1 orang pegawai – Daniel Preiss – yang kemudian bekerja selama 40 tahun dan ikut menjadi saksi sejarah bagaimana Bayer AG tumbuh dan berkembang, yang bahkan sang pendirinya sendiri tidak sempat melihat transformasi perusahaan ini.
Pelan namun pasti, Friedr. Bayer et Comp., tumbuh dan berkembang. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Fuchsine pewarna textile yang tahan terhadap asam. Hingga tahun 1877 perusahaan ini sudah membukukan asset sebesar 5,4 juta mark, memiliki 4 pabrik yang memproduksi berbagai macam pewarna tekstile antara lain fuchsine, aniline, alizarin dan Azo. Mereka juga membuka pabrik di Lille, Perancis dan di Moskow, Rusia. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, Friedr. Bayer et Comp. sudah memiliki lebih dari 200 pekerja dan memproduksi lebih dari 100 jenis pewarna serta menjadi perusahaan pewarna terkemuka di Jerman..
Di tengah perkembangan perusahaan yg sedemikian pesat, pada tahun 1880, sang pendiri – Friedrich Bayer – meninggal dunia pada usia 54 tahun, berselang 4 tahun dari partnernya, Friedrich Weskott yang meninggal dunia dalam usia 55 tahun. Sebelumnya, tongkat kendali perusahaan diserahkan kepada sebuah dewan yang terdiri dari Julie (istri Friedrich Bayer Sr.), Friedrich Bayer Jr. (anak Friedrich Bayer Sr.), Carl Rumff (anak menantu), Friedrich Weskott jr. (anak Friedrich weskott sr.), August Siller (menantu Friedrich Weskott sr.) dan Eduart Tust sebagai satu2nya yang bukan anggota keluarga pendiri. Nama perusahaan pun diubah menjadi “Farbenfabriken Vorm. Friedr. Bayer & Co.” dan menjual sebagaian saham di Pasar Saham Dusseldorf. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham pertama Carl Rumff, August Siller dan Eduard Tust terpilih sebagai Dewan Komisaris, sedangkan Friedrich Bayer Jr. dan Friedrich Weskott jr. terpilih sebagai Direktur perusahaan.
“Arah angin” perusahaan ini mulai berubah haluan tatkala pada tahun 1883, Carl Rumff merekrut seorang anak muda berusia 23 tahun yang sangat terobsesi dengan kimia, Carl Duisberg, sebagai tenaga ahli kimia dan mengepalai divisi riset perusahaan ini. Pada musim panas tahun 1886, Carl Duisberg melihat tumpukan ratusan drum berisi para-nitrophenol yang teronggok begitu saja di halaman belakang pabrik yang memproduksi Benzoazurine. Tidak kurang dari 30.000 kg para-nitrophenol ini merupakan limbah hasil samping dari proses produksi Benzoazurine. Berkat “kejelian” dan “kejeniusan” Carl Duisberg, limbah tak berharga ini kemudian diolah menjadi p-acetophenetidine yang mirip dengan acetanilide yang saat itu digunakan sebagai obat turun panas (antipyretic). Oleh Carl Duisberg, p-acetophenetidine ini diberi nama Phenacetin. Dari hasil uji pharmakologi ternyata Phenacetin memiliki khasiat antipyretic yang jauh lebih kuat dan jauh lebih stabil serta efek samping yang jauh lebih rendah dibanding Acetanilide. Dan tiba – tiba saja, perusahaan yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi pewarna tekstil, berubah haluan menjadi pabrik obat dengan produk andalan Phenacetin yang diperoleh dari limbah pabrik yang semula tidak ada harganya sama sekali… Dan penemuan Phenacetin ini memperoleh moment yang pas, karena pada saat itu terjadi epidemi flu di Eropa dan Amerika Serikat menjadikan produk ini amat laris di pasaran. Kejeniusan Carl Duisberg akhirnya membawanya ke puncak pimpinan perusahaan. Dia menjadi CEO Bayer & Co. pada tahun 1900. Di tangannya berbagai obat2an berhasil disintesis dan banyak di antaranya yang kemudian menjadi “legendaris”, antara lain yang kemudian dinobatkan menjadi “Obat Sepanjang Masa”, Aspirin.
Penemuan Phenacetin membuka babak baru dalam perjalanan perusahaan ini. Divisi pewarna juga masih terus berkembang dengan menghasilkan berbagai varian product. Divisi Pharmaceutical, di bawah supervisi khusus dari Carl Duisberg, terus melakukan inovasi – inovasi baru. Beberapa obat baru juga kemudian ditemukan dan laris di pasaran, di antaranya: Sulfonal yang disintesa dari diethylmercaptodimethylmethane. Setelahnya ditemukan pula Trional sebagai obat penenang, hasil pengembangan dari Sulfonal. Obat lain yang dikembangkan adalah Piperazine untuk obat cacing. Pada tahun 1894, Bayer meluncurkan produk Tannigen yang sangat efektif mengatasi diare. Lambat laun, Bayer kemudian dikenal sebagai “drug manufacturer” dibanding dengan produsen pewarna. Bahkan pada saat pergantian abad, nama Bayer identik dengan “obat”..
Pada tahun 1894, atas rekomendasi dari seorang ilmuwan peraih hadiah nobel, Prof. Adolf van Baeyer, seorang anak muda brilian yang berasal dari Ludwigsburg, Negara Bagian Baden-Wurttemberg, bergabung dengan Bayer sebagai peneliti. Anak muda yang meraih gelar apoteker dan kimia dari Ludwig Maximillian University di Munich dengan gelar Magna Cum Laude serta meraih gelar Doktor hanya dalam waktu 2 tahun, juga dengan gelar Magna Cum Laude, inilah yang nantinya membawa kejayaan bagi Bayer. Pemuda brilian, pemalu dan pendiam ini bernama Felix Hoffmann.
bayer2
Pada tanggal 10 Agustus 1897, Felix Hoffman berhasil mensintesa Acetylsalicylic Acid (ASA) dengan proses asetilisasi asam salisilat menggunakan asam asetat. Sebuah penemuan yang sangat luar biasa, mengingat sudah sekian lama ilmuwan berusaha mensintesa ASA dengan berbagai macam metode namun belum pernah ada yang berhasil. Namun, Felix Hoffmann, pemuda brilian ini berhasil mensintesa ASA dalam bentuk bahan kimia yang murni dan sangat stabil. Bayer, selanjutnya bergerak cepat dengan mendaftarkan Patent dari produk ini, yang kemudian di-setujui pada tahun 1899, dengan nama yang kemudian menjadi legenda: ASPIRIN, yang berasal dari bahasa jerman yang artinya “sebuah asam yang secara kimia identik dengan asam salisilat”. Huruf “A” = acetyl, “- SPIR dari kata Spirsäure = (seperti) asam salisilat, “-IN = obat.
Ada cerita menarik di balik penemuan Aspirin ini. Pada waktu itu, ada 8 ahli kimia dan ahli farmakologi yang bekerja di Divisi Riset Bayer di Elberfeld. Salah seorang diantara mereka adalah si jenius Felix Hoffmann. Sebenarnya, Bayer tidak secara khusus mengembangkan obat anti rematik. Namun, Felix Hoffman yang mempunyai ayah yang menderita penyakit rematik berkepanjangan, yang sangat menderita dengan obat asam salisilat yang membuat mual dan rasanya sangat pahit, secara diam2 mengembangkan obat anti rematik yang lebih stabil, rasa lebih bisa enak dengan efek samping yang lebih kecil. Akhirnya, obat yang sebenarnya “tidak direncanakan” ini berhasil ditemukan dan sukses besar di pasaran. Sampai dengan tahun 2011 obat ini sudah diproduksi sebanyak 40.000 ton pertahun. Di Amerika serikat saja, obat ini diproduksi hampir mencapai 20 milyar tablet pertahun.. Tidak mengherankan obat ini dinobatkan sebagai “Obat Sepanjang Masa”. Padahal obat ini sebenarnya tidak direncanakan, namun lebih karena cinta kasih seorang anak untuk meringankan beban sakit dari si ayah yang dicintainya… (Hiks.. ambil tissue…).
Setelah meluncurkan “si fenomenal” Aspirin, masih banyak lagi obat2 legendaris yang dihasilkan oleh Bayer & Co, di antaranya Heroin (diacethylmorphine) yang juga berhasil disintesis oleh Felix Hoffmann sebagai obat batuk (sekarang tergolong narkotika kelas wahid), Veronal (diethylbarbituic acid) sebagai obat hipnotic, kemudian Phenobarbital (1912) sebagai obat anti-epilepsi yang hingga saat ini masih masuk dalam daftar obat esensial dari WHO. Bayangkan obat yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, namun masih menjadi obat pilihan Badan Kesehatan Dunia… Luar biasa…
Pada tahun 1916, ilmuwan2 Bayer menemukan SURAMIN, sebuah senyawa yang berkhasiat sebagai anti-biotik/anti parasit PERTAMA yang berhasil disintesis secara kimia. Penemuan ini membuka jalan bagi penemuan senyawa antibiotik lain yang lebih poten dan lebih sedikit efek samping yang ditimbulkannya, yaitu Sulfonamide yang ditemukan oleh peneliti Bayer yang lain, Gerhard Domagk. Penemuan Sulfonamide ini kemudian membuka “era baru” dalam dunia pengobatan sehingga Domagk kemudian dianugerahi hadiah Nobel bidang kesehatan tahun 1939.
Perang Dunia II, meluluh-lantakkan pabrik Bayer di Leverkusen. Diperlukan waktu 6 tahun untuk membangun kembali fasilitas produksi dari puing-puing bangunan yang hancur lebur. Setahun kemudian, 1952, mereka sudah mulai memproduksi obat2an dan berbagai bahan kimia dan bahkan sudah mengeksport produk2nya ke berbagai belahan dunia.
Tahun 1963, SERATUS TAHUN sejak Bayer didirikan, wmereka sudah memiliki lebih dari 80.000 karyawan dengan penjualan lebih dari 4,7 milliar mark. Tahun 1978, Bayer mengakuisisi Miles Laboratories, Canada. Tahun 1994 mengakuisisi Sterling Winthrop, selanjutnya mereka juga mengakuisisi Divisi OTC Roche Pharmaceutical tahun 2004 yang mengakibatkan banyak pabrik Roche di seluruh dunia berpindah tangan, ternasuk pabrik PT. Roche Indonesia yang di Cimanggis, Depok tempat pertama kali saya membangun karier (Hiks.. baper nih… he3..).
Tahun 2006, Bayer AG mengakuisisi Schering AG dengan senilai € 14,6 milliar, yang merupakan salah satu dari 10 besar dalam sejarah merger & akuisisi dunia, SESAAT sebelum Schering AG jatuh kepelukan Merck KGaA, dan secara resmi berubah nama menjadi Bayer Schering Pharma AG sebagai anak perusahaan Bayer AG. Dengan bergabungnya Divisi OTC dari Roche dan Schering AG, maka hingga sekarang terdapat 4 divisi, yaitu Pharmaceutical, Consumer Health, Cropscience dan Animal Health.
Bayer AG yang pada saat didirikan hanya punya 1 orang karyawan, hingga tahun 2016 telah memiliki lebih dari 116.000 karyawan dari berbagai belahan bumi. Perusahaan yang pada awalnya hanyalah pembuat pewarna tekstil, 154 tahun kemudian telah menjelma menjadi raksasa kimia dan farmasi dunia. Semuanya berawal dari onggokan limbah yang tak berharga, namun di tangan – tangan orang2 jenius yang ulet dan tiada kenal menyerah akhirnya mereka bisa menguasai dunia dan sangat berjasa bagi kehidupan dan kesejahteraan umat manusia penduduk di planet bumi ini..
Sungguh kisah yang sangat luar biasa, semoga bisa menginspirasi kita semua.. Aamiin YRA
Wassalam.

Re-Born

Setelah vakum lebih kurang hampir 3 tahun, semenjak blog lama saya di-suspend oleh WordPress, saya mencoba “menghidupkan” kembali blog ini sebagai media untuk saling bertukar ilmu… pengetahuan maupun  pengalaman apa saja, terutama mengenai industri farmasi di Indonesia.

Sekali lagi.. saya ucapkan selamat datang.. welcome… wilujeng sumping…. di blog yang sangat sederhana ini. Mudah-mudahan bisa membawa manfaat bagi kita semua.. Amiien…