FAQ : Tanya Jawab Soal CPOB

faq

 

Berikut kumpulan tanya jawab soal CPOB. Saya ambil dari sebuah acara sosialisasi CPOB 2012 yang diselenggarakan oleh badan POM. Keterangan lebih lengkap lihat di situs-nya Badan POM.

 

MANAJEMEN MUTU

Apakah Annual Product Review (APR) merupakan validasi proses retrospektif?

  • APR tidak sama dengan Validasi Proses Retrospektif, tapi data APR dapat digunakan untuk validasi retrospektif, dengan ketentuan dapat “menjawab” semua parameter yang ditentukan dalam protokol validasi retrospektif.
    (Pedoman CPOB Edisi 2012 menggunakan istilah Product Quality Review (PQR)/ Pengkajian Mutu Produk (PMP) untuk APR).

 

PERSONALIA

Apakah Penanggung Jawab Pengawasan Mutu harus seorang apoteker ?

  • Menurut PP No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 9 Ayat 1 Penanggung Jawab Pengawasan Mutu harus seorang apoteker. Pedoman CPOB Edisi 2012 menyebutkan bahwa: Kepala bagian Pengawasan Mutu hendaklah seorang apoteker terkualifikasi dan memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya secara profesional.

 

Apa yang dimaksud dengan kompetensi para Apoteker Penanggung Jawab di produksi sediaan farmasi?

  • Menurut PP No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 37, apoteker harus memiliki sertifikat kompetensi profesi yang akan diatur dalam peraturan menteri. Namun, sementara belum ada peraturan yang dimaksud, industri farmasi dapat mengukur kompetensi dengan mengacu pada Pedoman CPOB Edisi 2012 Butir 2.5; 2.6 dan 2.7. Apoteker Penanggung Jawab hendaklah memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara profesional.

 

BANGUNAN DAN FASILITAS

Berapa “nilai minimum standard” jumlah mikroba udara di ruangan yang boleh ditetapkan sendiri yakni Kelas E? Bagaimana jika industri farmasi menetapkan jumlah angka yang tinggi?

  • “Nilai minimum standar” tidak ditetapkan karena tergantung jenis produk dan spesifikasi mikroba yang ditetapkan dalam masing-masing produk/ sediaan oleh industri sendiri. (Catatan: Di Amerika Serikat dan Eropa, persyaratan mikrobiologis untuk sediaan krim dan cairan sudah ditetapkan dalam farmakope).
  • Di Indonesia ketetapan diserahkan kepada masing-masing industri dengan ketentuan memenuhi spesifikasi mikrobiologis yang ditetapkan dalam masing-masing produk/ sediaan.

 

Sistem tata udara dengan aliran udara manakah yang sesuai Pedoman CPOB2012; apakah HVAC dengan sistem koridor bertekanan udara positif atau negatif?

  • Pedoman CPOB Edisi 2012 merekomendasikan sistem koridor bersih (untuk sediaan padat, nonsteril), di mana tekanan udara di koridor lebih tinggi daripada tekanan udara i ruang proses produksi, sehingga aliran udara terjadi dari koridor ke ruang produksi. Semua barang yang dibawa melalui koridor tetap dalam keadaan bersih / tidak terkontaminasi oleh (partikel) bahan/ produk dari ruang-ruang produksi. Untuk sediaan steril direkomendasikan koridor bertekanan udara negatif relatif terhadap ruang produksi demi perlindungan pada proses kritis yang sensitif terhadap kontaminan mikroorganisme.

 

Bila industri farmasi yang sudah memiliki sistem HVAC namun inlet dan outlet-nya tidak sesuai Pedoman CPOB, apakah industri harus melakukan renovasi HVAC?

  • Apabila sistem HVAC tidak dapat memenuhi persyaratan parameter kualifikasi (perbedaan tekanan udara; frekuensi pertukaran udara; pola aliran udara, bila perlu; waktu recovery; uji integritas filter HEPA), industri harus mempertimbangkan perubahan pada desain.

 

Filter jenis apa yang harus digunakan pada sistem HVAC di fasilitas nonsteril, di mana terpasang 1 (satu) AHU yang digunakan untuk beberapa ruang produksi dengan multi produk?

  • Sistem HVAC yang menggunakan 1 AHU melayani beberapa ruang produksi dengan udara yang diresirkulasi harus memasang HEPA filter H13 (efisiensi 99,95%) sebagai filter akhir; dengan udara yang dibuang 100 % (single pass) memasang F8 (EN 779 90 % ASHRAE 52/76) sampai dengan F9 (85 %EN 1822 atau 95 % ASHRAE 52/76).

 

Bagaimanakah desain pintu darurat (emergency door) pada ruang aseptis?

  • Sama dengan pintu darurat lain, desain harus memastikan kerapatan pintu namun mudah terbuka apabila didorong dari dalam dan hanya dapat dibuka dari dalam.

 

Apakah udara yang dipasok ke laboratorium mikrobiologi yang digunakan hanya untuk uji identifikasi (bukan uji sterilitas) harus melewati filter HEPA?

  • Direkomendasikan laboratorium mikrobiologi yang digunakan hanya untuk uji identifikasi dilengkapi unit LAF berlatar belakang ruang dengan minimal Kelas D.

 

Apakah sediaan yang mengandung kortikosteroida sintetis berpotensi tinggi (misal metilprednisolon) boleh diproduksi di fasilitas nonhormon?

  • Dalam produksi sediaan yang mengandung kortikosteroida, fasilitas yang perlu dipisah dari fasilitas produksi nonhormon adalah unit untuk produksi hormon seks (hormon kelamin) seperti estrogen, progesteron dan turunannya. Namun perlu diberi perhatian pada pelaksanaan validasi pembersihan alat/mesin yang digunakan memproses kortikosteroid; pelaksanaan produksi secara campaign; personil menggunakan APD yang sesuai.

 

Apakah ruang sampling harus dilengkapi dengan unit LAF?

  • Ruang sampling untuk pengambilan sampel bahan yang digunakan untuk produksi nonsteril harus memenuhi persyaratan kebersihan kelas E (seperti untuk fasilitas produksi); dan direkomendasikan Ruang Sampling dilengkapi dengan sampling booth (contoh desain lihat POP CPOB 2006, Lampiran 3.22 dan 3.32). Unit LAF atau uni directional air flow (UDAF) dari sampling booth berfungsi untuk menjamin perlindungan bahan terhadap risiko kontaminasi dan keamanan operator.
  • Pengambilan sampel produk steril yang diproses secara aseptis dilakukan di ruang kelas A/B.
  • Pengambilan sampel bahan nonsteril untuk produksi produk steril yang diproses dengan sterilisasi akhir dapat dilakukan di ruang kelas D; pengambilan sampel bahan steril dilakukan di ruang Kelas C.

 

Apa yang disebut recovery time?

  • Recovery time adalah waktu yang diperlukan oleh suatu sistem HVAC untuk mencapai kembali kondisi at rest kelas kebersihan ruangan yang “dilayaninya” setelah ruangan terkait digunakan untuk proses produksi.
    Ruangan-ruangan yang memerlukan ketentuan recovery time adalah Ruang Sampling, Ruang Timbang, Ruang Pembuatan Produk Steril (A, B, C dan D).

 

Pelaksanaan kualifikasi sis-tem pengolahan air (SPA) terdiri dari 3 fase. Jika modifikasi dilakukan terhadap sistem (yang sudah dikuali-fikasi), apakah harus dilaksanakan kembali kualifikasi 3 fase tersebut?

  • Apabila keseluruhan sistem (unit pengolahan dan sistem distribusi air) yang dimodifikasi, maka kualifikasi 3 fase harus dilakukan. Apabila hanya sebagian sistem yang dimodifikasi, pelaksanaan kualifikasi dilakukan berdasarkan kajian risiko terhadap sistem. Rekualifikasi dapat terdiri dari 3 fase (untuk modifikasi unit pengolahan saja) atau 1 fase (untuk modifikasi sistem distribusi saja), namun penetapannya didasarkan pada hasil pengkajian risiko.

 

PERALATAN

Bagaimanakah kualifikasi air shower?

  • Penggunaan/tujuan pemasangan air shower harus dipertimbangkan dan tidak dianjurkan untuk digunakan pada saat masuk ruangan tetapi bila mau keluar ruangan “berisiko”. Dalam rangka kualifikasi harus ditetapkan kriteria penerimaan (acceptance criteria) “kebersihan” pakaian setelah melewati proses “air showering”.
  • Parameter kritis ( yakni jumlah dan posisi nozzle penyembur serta kecepatan semburan/ tiupan dan tarikan/ hisapan udara) diukur dan ditetapkan untuk mencapai acceptance kriteria tsb.

 

SANITASI DAN HIGIENE

Bagaimana cara sterilisasi larutan desinfektan?

  • Sterilisasi larutan desinfektan dilakukan biasanya dengan filtrasi melalui filter steril (sterilising filter) berpori 0,22 μ atau bila memungkinkan sterilisasi cara panas basah (sterilisation by moist heat) menggunakan otoklaf, tergantung sifat/ jenis desinfektan.

 

Bagaimanakah metode pengujian residu deterjen yang digunakan dalam proses pembersihan?

  • Residu deterjen diuji melalui antara lain:
    1. analisis kimia yang spesifik terhadap zat kimia deterjen dalam jumlah yang sangat kecil atau;
    2. metode Total Organic Carbon (TOC);
    3. “Uji Busa” (Foam Test);
    4. spektrofotometri.

 

PENGAWASAN MUTU

Apakah pola sampling (pengambilan sampel) bahan awal hanya berlaku untuk produk nonsteril dan supplier baru? Bagaimana pola sampling bahan awal untuk produk steril?

  • Pola sampling yang sama berlaku untuk semua bahan awal nonsteril dan steril.

 

Metode apa saja yang boleh digunakan untuk pengujian?

  • Metode yang diaplikasikan minimal ekuivalen dengan metode resmi yakni metode dari Farmakope Indonesia, USP, BP, EP, JP terbaru atau bila bukan dari kompendial resmi harus divalidasi secara komprehensif.

 

Apakah alat yang digunakan untuk pelaksanaan uji endotoksin harus didepirogenisasi?

  • Ya. Karena bila alat berkaitan tidak didepirogenisasi tentu ada risiko bahwa hasil pengujian menunjukkan false endotoxine-positive akibat zat endotoxin yang berasal dari alat tersebut, bukan dari larutan uji.

 

INSPEKSI DIRI, AUDIT MUTU DAN AUDIT & PERSETUJUAN PEMASOK

Pada audit eksternal terhadap vendor, apakah pemasok perlu diberi sosialisasi sehingga tidak menolak untuk diinspeksi?

  • Biasanya pemasok bahan (yang berniat baik) sudah mengerti dan tidak menolak untuk diaudit. Adalah tugas dan tanggung jawab calon pembeli – bukan Pemerintah /BPOM – untuk memberi penerangan (“sosialisasi”), bila perlu, agar vendor audit/ inspeksi tidak ditolak.

 

Beberapa industri penerima tol tidak bersedia untuk diaudit. Bagaimana menyikapi hal ini?

  • Penerima Kontrak harus bersedia diaudit oleh Pemberi Kontrak baik dalam rangka penunjukan maupun secara rutin pasca penunjukan (yang harus tercakup dalam Surat Kontrak) yang antara lain untuk menentukan apakah (calon) Penerima Kontrak memiliki kapasitas (penyimpanan, produksi dll.) dan kompeten melakukan proses pembuatan produk sesuai CPOB dan standar Pemberi Kontrak. Ingat bahwa yang bertanggung jawab terhadap mutu produk adalah tetap Pemberi Kontrak. Jadi apabila calon Penerima Kontrak tidak bersedia diaudit, Pemberi Kontrak seharusnya tidak menunjuk/mengikat perjanjian kontrak dengan perusahaan tersebut.

 

PEMBUATAN DAN ANALISIS KONTRAK

Apa ada persyaratan bagi penerima analisis berdasarkan kontrak (contract analysis)?

  • Penerima Kontrak harus memiliki Sertifikat CPOB atau akreditasi dari lembaga akreditasi nasional yang mencakup ruang lingkup pengujian dan bersedia diaudit oleh Pemberi Kontrak baik dalam rangka penunjukan maupun secara rutin pasca penunjukan (tercakup dalam Surat Kontrak) yang antara lain untuk menentukan apakah kompeten melakukan analisis/pengujian terkait. Yang bertanggung jawab terhadap mutu produk (yang diuji berdasarkan kontrak) tetap Pemberi Kontrak.

 

KUALIFIKASI DAN VALIDASI

Apa prasyarat untuk melakukan validasi proses?

  • Semua bahan (bahan awal, bahan pengemas), alat (mesin-mesin produksi, alat-alat ukur), sistem-sistem (HVAC, pengolahan air dan uap bersih serta udara bertekanan, bila bersentuhan dengan produk) dan metode pengujian yang digunakan dalam proses pembuatan yang akan divalidasi harus dikualifikasi dan/ atau divalidasi lebih dahulu; bila tidak, langkah validasi proses tidak valid.

 

Berapa bets sebaiknya yang digunakan untuk me-lakukan validasi retrospektif?

  • Validasi proses retrospektif: 10-30 bets berurutan.

Apakah setelah dilakukan media fill untuk produk aseptis, tidak perlu lagi dilakukan validasi proses?

  • Kita harus memisahkan arti media fill dari validasi proses:
    Media fill adalah validasi proses aseptis untuk membuktikan bahwa prosedur dan semua langkah proses yang dilakukan memberikan “sterility assurance”; sedangkan validasi proses adalah untuk membuktikan kehandalan proses dan kinerja mesin untuk masing-masing produk terkait.

 

Apakah validasi uji sterilitas perlu dilakukan untuk tiap produk steril atau hanya untuk yang dianggap worst case saja?

  • Validasi uji sterilitas harus dilakukan untuk tiap produk steril dan masing-masing kekuatan dengan pertimbangan bahwa penetapan worst case sulit.

 

Bagaimanakah ketentuan validasi pembersihan bag filter untuk fluid bed drier?

  • Ketentuan validasi pembersihan bag filter sama dengan ketentuan validasi pembersihan mesin/peralatan yang lain. Namun pengambilan sampel tidak bisa dengan cara apus tetapi dengan cara bilas.
  • Pembersihan filter bag yang digunakan untuk lebih dari satu produk (multy purpose) harus divalidasi. Bag filter yang “product dedicated” tidak memerlukan validasi pembersihan (yang memastikan pengeliminasian cross-contamination). Sedangkan produk toksis harus menggunakan dedicated bag filter.

 

PEMBUATAN PRODUK STERIL

Bagaimana persyaratan pakaian dan personil pada validasi proses aseptik / media fill?

  • Karena validasi dengan media fill adalah “menyimulasi” proses aseptik yang reguler, semua kondisi operasional – termasuk persyaratan pakaian dan personil – harus identis dengan kondisi proses aseptik “reguler”.

 

Apakah personil harus mandi setelah keluar dari area produksi?

  •  Tidak diharuskan personil mandi setelah keluar dari area produksi, kecuali bila meninggalkan area pembuatan produk yang mengandung antibotika tertentu (misal betalaktam), hormon seks dan zat berpotensi sangat tinggi yang lain.

 

Berapa batas jumlah partikel udara dalam area untuk pembuatan/ pengisian dry injections?

  • Sudah ditetapkan di Pedoman CPOB. Pengisian pada pembuatan dry injection dilakukan di area kelas kebersihan A dengan latar belakang kelas B. Pengujian dilakukan pada saat “at rest” dan saat operasional yaitu pada saat mesin set up (belum menggunakan produk). Waktu proses removal dari partikel (recovery/clean-up time), sehingga setelah penghentian operasi dalam waktu tertentu jumlah partikel segera kembali ke kondisi “at rest” , harus ditentukan.

 

Pada saat penimbangan bahan baku steril apakah diperlukan dust collector?

  • Tergantung desain unit LAF yang dipasang. Apabila unit LAF telah didesain sedemikian rupa sehingga debu yang tercipta diarahkan ke bagian unit LAF yang berfungsi menghisap/ mengumpulkan debu, maka dust collector tidak diperlukan.

 

Apakah di dalam ruang kelas kebersihan A boleh ada interkom?

  • Tidak boleh ada interkom karena konstruksinya mengandung risiko menampung / menyimpan debu dan kuman; dan belum ada cara pembersihan dan sanitasi yang tepat untuk interkom. Namun suatu voice of comunicator yang dilengkapi selaput tembus suara tapi tidak tembus partikel dapat dipasang sebagai alternatif.

 

Apakah alat dan mesin mixing harus disterilkan untuk produk dengan sterilisasi akhir?

  • Alat mixing untuk pembuatan produk dengan sterilisasi akhir tidak perlu disterilkan, namun harus dicuci kemudian dibilas akhir dengan WFI. Prosedur pembersihan harus divalidasi dan dibuktikan bahwa kandungan mikroba yang terdeteksi pada permukaan alat tidak melebihi jumlah tertentu (mis. 25 CFU/25cm2); namun demikian disarankan bahwa semua peralatan yang akan digunakan untuk memproses produk, meskipun disterilisasi akhir, disterilkan sebelum digunakan untuk menekan bioburden; dengan demikian proses sterilisasi akhir produk (yang telah divalidasi) tidak akan “dibebani” oleh bioburden peralatan yang dapat bervariasi.

 

Pada proses sterilisasi infus, apakah harus menggunakan suhu 121oC selama 15 menit?

  • Sesuai monografi farmakope, produk (termasuk bahan pengemasnya) yang stabil-panas (heat stable) harus disterilisasi pada suhu 121OC selama 15 menit Produk (termasuk bahan pengemasnya) yang panas-labil (heat labil) dapat disterilkan pada suhu lebih rendah yang setara untuk memberikan minimal FO=8 menit dan SAL (Sterility Assurance Level) 10-6 .

 

Sediaan tetes mata tidak memerlukan pemeriksaan endotoksin; apakah pada air yang digunakan untuk proses produksi harus diperiksa endotoksin?

  • Untuk sediaan tetes mata air murni yang digunakan minimal adalah Purified Water – PW (Air Murni) yang disaring melalui 0,2μm filter, dan persyaratan endotoksin tidak relevan untuk obat tetes mata.
    Tapi, jika air yang digunakan untuk sediaan tetes mata tersebut diklaim sebagai WFI maka pemeriksaan yang dilakukan pada air harus sesuai dengan spesifikasinya; jadi termasuk pemeriksaan endotoksin.

 

Bagaimana cara penyaringan produk yang akan diisikan secara aseptis?

  • Direkomendasikan melakukan filtrasi serial (seri, bukan paralel) melalui filter 0,2 μm kemudian lakukan uji keutuhan (integrity test) terhadap filter.

 

Untuk produk steril antibiotika, jika validasi media fill sudah memenuhi syarat, apakah tetap harus dilakukan uji sterilitas?

  • Ya, keduanya harus dilakukan sebagai bagian dari CPOB.

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 thoughts on “FAQ : Tanya Jawab Soal CPOB

    1. Bambang Priyambodo Penulis Tulisan

      Masalah apakah area penyimpanan bahan kemas, termasuk inner box apakah perlu di kerangkang atau tidak, TIDAK DIATUR di dalam CPOB. CPOB hanya mensyaratkan bahwa bahan cetak, termasuk inner box, harus disimpan dengan KONDISI KEAMANAN yang MEMADAI dan mencegah agar orang tidak berkepentingan tidak masuk ke dalam area tersebut. Apakah kemudian area tersebut dikerangkeng atau cukup diberi pintu, semua terpulang pada industri farmasi masing-masing. Asal bisa menjamin bahwa area tsb aman dan membatasi akses orang untuk keluar masuk, saya kira tidak masalah.

      Demikian pendapat saya.
      Terima kasih,
      Salam hangat.
      BP

      Balas
  1. putri

    Penentuan manufacturing date itu ditentukan dari tahap mana ya pak? didalam CPOB dijelaskan atau tidak, jika ada diklausul nomer berapa
    terima kasih

    Balas
    1. Gumulya

      Mau bantu jawab mbk. Manufacturing date didapat dari tanggal Manufacturing Instruction/KK yang telah disetujui oleh APJ. Karena setelah MI/KK tersebut disetujui maka proses produksi dapat berjalan..

      Balas
  2. Gumulya

    Pak, saya ada pertanyaan tentang CPOTB yaitu:
    1. apa arti RELEASE FOR SALE dan BUKAN RELEASE FOR SALE?
    2. Perbedaan DOKUMEN PRODUKSI INDUK dan PROSEDUR PENGOLAHAN INDUK?
    3. RECALL suatu produk jamu apakah hanya dilakukan/ditarik hanya di agen/distributor tangan pertama?

    Balas
  3. itung23

    Setahu saya penentuan Manufacturing date tidak diatur secara rinci di CPOB, Manufacturing date ditentukan pada waktu produksi. Terus pertanyaan nya pada tahap apa? Penimbangan? Pencampuran? Pencetakan? Kemas primer? Setiap perusahaan farmasi mempunyai prosedur dan tata cara sendiri untuk menentukan ini, penentuan juga diketahui dan APT penanggung jawab juga mengetahuinya

    Balas
    1. Bambang Priyambodo Penulis Tulisan

      Penentuan Manufacturing Date BIASANYA diatur pada saat AWAL proses produksi. Misalnya Tablet pada saat Granulasi, sirup proses pencampuran dan sebagainya. Tapi kadang ada pula yang menetapkan Mfg Date berdasarkan waktu/saat penimbangan. Monggo masing-masing industri punya kebijakan masing-masing. Asal bisa dipertanggung jawabkan.

      Balas
  4. jusuf

    Apakah pembuatan produk yang mengandung heparin sodium harus di fasilitas tersendiri, tdk boleh bersama dengan produk umum lainnya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s