Catatan Perjalanan Ke Denmark & Jerman (Bag. 2)

Meneruskan catatan perjalanan sebelumnya, akhirnya kami pun harus meninggalkan kota Kopenhagen dengan membawa berjuta kenangan. Entahlah, apakah suatu ketika saya diberi kesempatan untuk datang lagi di kota ini. Hanya Tuhan-lah yang tahu… Cerita mengenai perjalanan saya di Kopenhagen, bisa dibaca di sini.

DSC_1763– Bandara Kovenhavn atau Copenhagen –

Tiba di Frankfurt Internasional Airport, kami langsung menuju Stasiun Kereta Api Utama Frankfurt (Frankfurt Hauptbahnhof/Hbf) yang berperan sebagai penghubung untuk kereta jarak jauh (InterCity, ICE) dan kereta regional.  Hati-hati jangan sampe nyasar ke DSC_1767stasiun yang satunya. Jadi di Bandara Frankfurt ini ada 2 stasiun kereta api, yaitu Stasiun jarak jauh Bandara Frankfurt (Frankfurt Flughafen Fernbahnhof) yang hanya digunakan untuk lalu lintas jarak jauh dan menghubungkan bandara dengan stasiun utama. Stasiun jarak jauh ini terletak di luar kawasan bandara, namun mempunyai bandara penghubung ke terminal 1.Sedangkan Stasiun regional Bandara Frankfurt (Frankfurt Flughafen Regionalbahnhof) digunakan untuk kereta-kereta lokal S-Bahn (line S8, S9) dan kereta regional. Stasiun regional juga berada di Terminal 1.

DSC_1784

Selanjutnya, dengan  menggunakan kereta api antar kota  (ICE = Inter City Express) kami menuju kota Karlsruhe. Tiket kereta api selama kami di Jerman, sudah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Jadi kami membeli tiket terusan selama 3 hari, sehingga selama 3 hari tersebut kami bebas kemanaaaaaa saja di seluruh rute ICE. Dari mulai kota Aachen di Belanda, hingga ke Geneva, Swiss. Setiap ada kondektur, ya tinggal tunjukin aja tiket terusan kita, nanti akan di-beri tanda. Bener-bener praktis. Cuman harganya woowww… Untuk tiket selama 3 hari, kalau nggak salah EUR 115 atau sekitar Rp. 1,5 juta… wowww… (coba cek di website-nya ICE).DSC_1780

Akhirnya, kita pun tiba di stasiun Karlsruhe.  Perut sudah mules karena dari pagi cuman keisi sepotong roti. Kita pun coba cari-cari restorant atau cafe disekitar stasiun… woww… ada yang jualan nasi. Halal lagi… sudah hampir 5 hari kami belum makan nasi sejak dari Jakarta…  ini dia penampakannya ..

DSC_1782–  ini adalah nasi termahal dan “terenak” yang pernah saya makan 🙂 –

Setelah perut kenyang, saya pun keluar sejenak – biasa – mulut ini kalo nggak kena asap, bisa puyeng kepala. Sambil menikmati suasana kota di sore hari.

Kita tinggal selama 3 hari di Karlsruhe, ya semacam menjadi markas besar kami selama di Jerman ini. Misi kami sebenarnya adalah untuk menemui rekan bisnis kami yang kantornya tidak jauh dari kota ini. Namun oleh karena berbagai macam kesibukan beliau, maka kami baru bisa ketemu keesokan harinya. jadi kita ada waktu seharian untuk explore negerinya Angela Merkel ini.

hotel_der_blaue_reiter_karlsruheHotel tempat kami menginap bernama Hotel Der Blaue Reiter, terletak agak jauh dari pusat kota, tepatnya di distrik Durlach. Ada stasiun kecil yang menghubungkan Durlach dengan karlsruhe. Ini penampakan hotelnya yang saya sambil dari mbah Google (nggak sempat foto2).

Heidelberg : Kota Kecil nan Cantik

Sasaran kami yang pertama adalah kota Heidelberg, kota mungil nan cantik yang berjarak sekitar 55 KM dari karlsruhe. Perjalanan menuju Heidelberg kami mulai dengan naik kereta antar kota  (semacam komuter line di Jakarta) dari stasiun Durlach menuju Stasiun Karlsruhe, dilanjutkan dengan Kereta Api antar kota menuju Stasiun Heidelberg. Tiba di stasiun Heidelberg benar-benar terasa kota yang sepi, nyaman dan sangat asri.

DSC_1791

Heidelberg juga dikenal dengan kota instalasi, dimana banyak sekali instalasi karya perupa dunia yang menghiasi kota ini. Stasiunnya pun sangat unik. Ini penampakannya…

DSC_1788Tujuan utama kami ke kota ini adalah mengunjungi “kota tua” dengan castil tua yang berada di atas bukit. Harusnya kami akan naik bis kota dari stasiun menuju old market di dekat Kota Tua. Namun apa daya, tepat pada saat kami ke sana ternyata ada pemogokan para awak bis kota. O la la… udah tanggung ya udah akhirnya kita jalan kaki dari stasiun ke Kota tua… 10 KM boooo… (yo wis lah alon-alon waton nyampe… )

Inilah pemandangan Kastil Heidelberg dengan jembatan tua yang membentang di atas sungai Rhein (gambar diambil dari mbah Google). Woww….

Heidelberg

Mejeng dulu ya.. (sayang gambarnya agak burem)

DSC_1792– Banyak penjual souvenir di sini adalah WN Thailand atau Vietnam, lumayan dikasih harga murah –

DSC_1798a– Capek…euyy, Wajah udah teler berat. Hehhehee..  –

Setelah puas menikmati suasana di sekitaran Kota Tua, kita pun balik ke Durlach menggunakan rute yang sama. Uuhhfff jalan kaki lagi 10 KM ke stasiun duluuu… Sampe hotel langsung teparrrr…

Karlsruhe : The Quite City

Di awal telah disebutkan bahwa tujuan utama kami ke sini adalah untuk bertemu dengan rekan bisnis kami. Akhirnya, setelah tertunda beberapa kali kami pun mendapat kesempatan untuk mengunjungi pabrik mereka. Selanjutnya, pembicaraan bisnis pun mengalir lancar dan pertemuan kita tutup dengan sukses.DSC_1800Urusan bisnis pun kelar, saatnya jalan-jalan lageee… he3…

Tempat pertama yang kami kunjungi tentu saja adalah istana karlsruhe, yang dibangun pertama kali pada tahun 1715 oleh bangsawan Karl III Wilhelm dari Baden-Durlach (patungnya tuh gedhe bangeet di depan istana).

DSC_1810

Konon,  bangsawan Karl III Wilhelm dari Baden-Durlach pada suatu hari tidur di Hardtwald (hutan dekat Durlach) ketika sedang berburu. Ia bermimpikan satu istana yang megah yang memiliki bentuk seperti matahari sebagai pusat kotanya, dan sinar-sinar pancaraan mataharinya sebagai jalan-jalan di kotanya. Mimpi ini kemudian digambarkan olehnya di atas kertas dan kemudian diwujudkannya dengan nama Karlsruhe pada tanggal 17 Juni 1715, yang ditandai dengan peletakan batu pertama dari Istana Karlsruhe. Jalan-jalan yang berbentuk sinar matahari ini masih bisa dilihat juga sekarang ini dari peta kotanya. Istananya terletak di tengah dari sebuah lingkaran dan kemudian dengan sinar pancaran ke arah selatan yang berbentuk seperti kipas ke arah selatan dan jalan lurus ke arah utara melalui hutan Hardtwald. Oleh karena itu, Karlsruhe dikenal sebagai Fächerstadt (Kota Kipas).DSC_1803

DSC_1812Senja makin temaram, akhirnya, setelah makan malam di sebuah kedai kebab milik orang Turki, kita pun balik ke hotel. Hanya saja kali ini menggunkan trem warna kuning. Sesampai di Hotel kami pun langsung tidur… hufffttt capeeek.

Frankfurt – Koln : Modern – Kuno

Masih ada 1 hari terakhir kami di Jerman, sebelum kembali ke tanah air, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke kota Koln (bhs. Jerman) atau Cologne  (bhs. Inggris). Sebuah kota tua di tepi sungai Rhein. Tujuan kami ke kota ini, tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah gereja tua yang menyimpan sejarah yang sangat panjang, yaitu Koln Katederal atau yang sering di sebut dengan Kolner Dom (bhs. Jerman).

DSC_1824– Dom Catedral di potret dari Stasiun Kereta Api Koln –

Gereja ini dibangun mulai tahun 1248, selesai pada tahun 1880. jadi lebih dari 600 tahun.. pyuhh.. Satu hal yang membuat gereja ini sangat terkenal adalah merupakan satu-satunya bangunan di kota Koln yang masih tegak berdiri pada saat Jerman di gempur oleh tentara sekutu pada Perang Dunia II. Woww…

DSC_2001

Sekarang, gereja ini menjulang tinggi dan dikenal sebagai landmark kota Koln atau Cologne. Kami berkesempatan berkeliling ke dalam gereja. Memang sangat luar biasa. Biarkan gambar yang berbicara 🙂

DSC_1834    DSC_1833

DSC_1838

Ehh.. ada yang sedang berbahagia disini 🙂

DSC_1842

Setelah puas berkeliling diseputaran gereja dan pedestrian di sekitarnya, kita pun meninggalkan kota tua ini. Sebelum benar-benar meninggalkan kota Koln, masih sempat mengabadikan kemegahan gereja ini dari jembatan yang melintas sungai Rhein

DSC_2000

Sebelum mengunjungi kota Koln, kami sempat mampir sebentar di kota Frankfurt, sebuah kota modern yang penuh dengan bangunan-bangunan megah. Ini penampakannya…

DSC_1815– Kantor pusat Deutsche bank-

DSC_1821– Salah satu sudut kota Frankfurt –

DSC_1820– Taman Euro, di depan Bank Central Jerman di Frankfurt –

Auf Wiedersehen

Akhirnya, perjalanan panjang kami pun harus berakhir. Tiba saatnhya kami harus kembali ke tanah air.  Auf Wiedersehen, selamat tinggal sampai jumpa lagi… suatu saat, insyaAllah kami akan datang lagi… Aamiiinnn…..

DSC_2002– Auf Wiedersehen –

Iklan

2 thoughts on “Catatan Perjalanan Ke Denmark & Jerman (Bag. 2)

  1. tatikmulyani

    baguus banget reportage ..ringkas menarik . buat kita yg tinggal d europa kdang tidak begitu perhatian sampe k detail nya. tpi membaca tulisan ini jdi k pengen meliat lgi…tempat2 yg pernah kita kunjungi dgn ” mata yg berbeda”

    Balas
    1. priyambodo1971 Penulis Tulisan

      Thanks bu Tatik Mulyani. Karena memang kesempatan ke Eropa sangat langka (apalagi kalo biaya sendiri… Wuiihh bisa bangkrut nih), jadi sebelum berangkat kita research dulu tempat2 yang akan kita datangi. Sama lho bu, saya tinggal di Jogja malah kadang nggak ngeh tempat2 yang menarik, karena sudah “biasa”. he3…
      BTW, Eropa-nya dimana bu? Barangkali ada rejeki nanti bisa “nglayap” juga ke sono. Hehehee..

      Salam hangat,
      BP

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s